General Management

Jangan Mudah Tergiring Narasi Halus

Artikel ini ditulis pada hari Minggu, 28 Juli 2019. Konten artikel ini relevan pada saat artikel ini ditulis.

Salah satu sifat saya yang paling saya syukuri adalah gak mudah ikut-ikutan sesuatu yang lagi viral atau lagi heboh.

Biasanya kalo ada sesuatu yang lagi rame dibicarakan sama publik, ya saya santai aja, malah kadang gak ngikutin. Ngapain? Nambah angka rekening saya juga kagak kan?

Saya malah jauh lebih tertarik buat mengikuti hal-hal yang terjadi di belakang layar, jauh-sunyi sedang terjadi, dan nyaris gak kita monitor selama ini… yaitu:

Rencana Revisi UU Ketenagakerjaan
(UUTK) Republik Indonesia No. 13/2003

Begitu saya dapet kisi-kisi / bocoran rencana revisinya dari kalangan komunitas para HR, saya jadi merenung sendiri & memikirkan berbagai kemungkinan baru di masa depan.

Saya bukanlah lulusan Hukum & spesialisasi HR saya bukanlah Hubungan Industrial, tapi ijinkanlah saya tuangkan pemikiran & kegelisahan saya itu; tanpa bermaksud sotoy.

Permisi & salam hormat saya pada para praktisi HR yang lain, khususnya spesialisasi Hubungan Industrial / Legal. Mohon koreksinya jika saya ada salah.

Kenapa demikian?

Memang benar, bahwa ini baru rencana revisi. Semua dinamika masih mungkin terjadi. Tapi satu hal yang pasti adalah:

Apa pun perubahan yang terjadi pada pasal-pasal UUTK versi baru di masa depan, itu akan memberikan kekuatan legal-formal lebih besar pada perusahaan & HR, untuk “mengelola” karyawannya. Karena selama ini UUTK versi lama merupakan UUTK yang dirasakan lebih berpihak pada karyawan.

Contoh: pengusaha & HR sering kesulitan mengambil langkah tegas pada karyawan “orang lama” yang merugikan perusahaan tapi belum masuk ke ranah pidana, hanya karena jika mereka lakukan itu, akan lebih rempong & beresiko terkena masalah hukum yang akan menghabiskan banyak uang.

Akhirnya, karyawan tersebut terpaksa dibiarkan eksis di perusahaan, dan akhirnya merusak kultur organisasi. Produktivitas mandeg, dan tingkat keluar-masuk karyawan (turnover) menjadi tinggi. Perusahaan jadi sulit merekrut karyawan berkualitas terbaik, karena karyawan terbaik gak akan mau kerja bareng ama karyawan julid yang terpaksa dibiarkan eksis oleh perusahaan.

Nah, kembali lagi… maksudnya kata “mengelola” ini apa?

Sepemahaman & sepengalaman saya, dan berdasarkan atas kisi-kisi rencana revisi yang beredar; termasuk di dalam definisi “mengelola” adalah:

  1. Menyusun Struktur & Skala Upah benar2 hanya berdasarkan variabel yang lebih sederhana, sesuai dengan kemampuan & kebijakan internal perusahaan; tanpa perlu memperhitungkan masa kerja, kompetensi, latarbelakang akademik, atau atribut profesional apa pun. Bahasa gaulnya: “Ini perusahaan gw, suka-suka gw dong. Loe take it or leave it.”
  2. Memecat karyawan yang melanggar Peraturan Perusahaan, tanpa harus memberikan Surat Peringatan berjenjang & tanpa harus memberikan pesangon atau uang penghargaan dalam bentuk apa pun.
  3. Tidak ada lagi kewajiban perusahaan untuk menjadikan karyawannya berstatus PKWTT / Karyawan Tetap. Kelak, semua status karyawan adalah PKWT / Kontrak selamanya, dan itu legal.
  4. Tidak ada lagi kebijakan Uang Pensiun dan semua bentuk “kenyamanan ketenagakerjaan” yang dulu dilindungi oleh UUTK versi lama.
  5. Posisi HR Manager / HR Head yang dulu diproteksi UUTK untuk hanya boleh dijabat oleh WNI, kini sedang “digoyang” untuk bisa dijabat oleh WNA.

Cukup lima poin dulu ya gaes, kuatir pada gak bisa tidur semua, ha ha ha… Sekali lagi, ini baru kemungkinan-kemungkinan revisi.

Jadi, kesimpulan awalnya adalah:

  1. Bisa jadi di masa depan, mencari kerja terasa lebih mudah, lapangan kerja lebih banyak tersedia, karena industri & investasi baru bertumbuhan. Tapi… kondisi ketenagakerjaan & kekaryawanannya akan seperti pemaparan di atas. Marilah kita terima realitas ini dan beradaptasilah.
  2. Saat ini RI selalu kalah saing dengan negara-negara ASEAN lainnya, karena pengusaha manufaktur di RI paling puyeng tujuh keliling kalo udah harus nanganin soal buruh. UUTK versi baru akan menghilangkan mayoritas kepuyengan itu, sehingga daya saing industrial diharapkan bisa meningkat.
  3. Sepintas, posisi HR akan lebih enak, karena UUTK versi baru akan memberikan kekuatan legal pada HR untuk bertindak dengan “tangan besi” pada karyawan yang udah gak bisa & gak mau lagi diatur sesuai dengan Peraturan Perusahaan. Masalahnya, kata siapa posisi HR aman-sentosa? Kalo Owner atau Direksi lebih suka sama HR Manager bercitarasa WNA, dia bisa kapan pun menggantinya tanpa harus kuatir dijatuhi sanksi oleh Disnaker.
  4. Kelak, karyawan yang ngarep gaji sekian juta hanya karena mereka dari kampus tertentu, atau yang ngarep dapet status Karyawan Tetap karena merasa udah lama bekerja, atau yang ngarep di-PHK duluan sama perusahaan karena tau ada pesangon yang besar… hanya akan jadi kenangan & bahan candaan.
  5. Suka gak suka, HR lokal harus meningkatkan daya saingnya. Itulah sebabnya di kalangan HR, sekarang lagi rame dibahas soal sertifikasi wajib profesi BNSP bagi semua pemegang jabatan / fungsi HR. Biayanya gak murah. Jadi kelak, profesi HR diharapkan akan dipandang setara dengan profesi lainnya semisal dokter, pilot, akuntan, pengacara, psikolog, engineer, dan sejumlah profesi lainnya. Di satu sisi ini positif sebagai standarisasi kompetensi. Tapi di sisi lainnya, ini akan “menyapu” para praktisi HR yang gak sanggup beradaptasi.

Nah… sekarang, mari kita renungkan beberapa hal faktual:

  1. Sekarang ngerti kan, kenapa semua pihak yang kemaren berseteru tajem di Pilpres 2019, sekarang jadi rame-rame ketawa-ketiwi bareng & bikin koalisi gemuk di satu perahu?
  2. Sekarang ngerti kan, kenapa ada sejumlah narasi publik yang bisa bikin emosional & menyulut perdebatan publik, dihembuskan baru-baru ini? Termasuk narasi soal Fresh Graduate yang nuntut gaji 8 juta. Makanya… banyak baca referensi bermutu, jangan nonton sinetron & infotainment mulu… supaya gak gampang kegiring sama narasi-narasi halus tingkat tinggi…
  3. Sekarang ngerti kan, kenapa selama ini saya selalu membicarakan perihal Personal Brand, jati diri, pengembangan diri sendiri secara mandiri (Self Development), menggunakan media sosial untuk berkegiatan & berjejaring (networking) secara positif, dan peningkatan kompetensi utama maupun kompetensi pendukung?
  4. Saya pribadi saat ini sedang dalam posisi gak nyaman, karena harus memecut diri saya sendiri untuk mahir berbahasa Inggris di level percakapan & presentasi. Ini gak nyaman banget buat saya, tapi harus saya lakukan dengan segenap kesadaran akan tanggungjawab saya demi menyongsong masa depan yang semakin gak menentu. Plus gak nyaman juga dari segi kantong, karena harus nabung buat ngikutin sertifikasi profesi HR.
  5. Berusaha mendebat atau menghindari realitas, mengkambinghitamkan umur tua sebagai hambatan karir, ngomelin rekruter tanpa landasan jelas, baper di media sosial, maki-maki pemerintah soal Tenaga Kerja Asing (TKA) & investasi asing, dan sejumlah penyangkalan maupun bentuk depresi lainnya… gak akan menolong siapa pun. Malah bikin kita semakin terperosok. Serius deh…

Sebagai tambahan sekaligus penutup…

Saat artikel ini ditulis, saya sedang berkarya bersama perusahaan yang bergerak di bidang instalasi solusi robotik & otomatisasi bagi pabrik-pabrik di Tanah Air. Kliennya semakin banyak, dan bahkan kalangan HR manufaktur pun mengakui betapa lebih ringannya pekerjaan mereka setelah pabriknya memasang solusi robotik & otomatisasi.

Dari obrolan saya bareng para engineer yang terbiasa melakukan instalasinya, mereka mengatakan bahwa satu sistem solusi robotik & otomatisasi dapat menggantikan minimal 9 orang pekerja.

Misalnya pabriknya terdiri dari 3 shift non-stop, maka tinggal kalikan saja 9 dengan 3. Hasilnya, secara nyata, satu solusi robotik & otomatisasi bisa menggantikan lebih dari 20 orang pekerja manusia.

Balik modalnya investasi robotik itu bisa diprediksi. Paling tidak, pengusaha sudah dapat menikmati titik impas (BEP) pada tahun ke-3 atau ke-4 setelah instalasi sistem. Tingkat kepastiannya tinggi & dapat digaspol 365 hari 24 jam 7 hari seminggu; tanpa rempong soal demo, cuti, sakit, pemogokan, dan urusan-urusan ribets lainnya.

Udah begitu, hasilnya lebih presisi pula, tingkat kesalahan produksi bisa sangat minim. Pun dari sisi Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3), isu-isu negatif & resiko kecelakaan kerja bisa menjadi sangat minim.

Masih kurang? Ada robot yang bisa berjalan seluwes manusia. Ada robot yang bisa membuka-tutup pintu dengan halus. Ada robot yang bisa melakukan pekerjaan konstruksi dengan halus & presisi. Tesla Corporation udah berhasil membuat mobil otonom tanpa pengemudi, bahkan Volvo telah berhasil menguji-coba truk raksasa yang bisa menyeberang ke perbatasan negara lain, tanpa pengemudi.

Di masa depan bukannya mustahil semakin banyak bertebaran mobil yang tidak lagi memiliki roda kemudi di dashboard. Semua penumpangnya bisa tertidur lelap dan hanya tau beres sudah sampai di lokasi.

Bahkan ada sistem hologram yang bisa mereplikasi diri kita, untuk berpidato dengan suara, aksen dan tata-bahasa kita – tapi dalam beberapa bahasa negara lain. Ini gilak…

Jadi, misalnya suatu saat saya diundang buat ngasih seminar di Jepang, santai aja… Gak perlu mati-matian belajar Bahasa Jepang dulu, dan gak perlu membawa penerjemah Bahasa Jepang. Cukup saya berikan speech dalam B. Indonesia, dan hologram dengan wujud diri saya itu yang akan ngomong materi identik, dalam Bahasa Jepang, dengan halus & presisi.

Teknologi itu sudah tersedia sekarang. Iya, sekarang. Bukan beberapa tahun lagi.

Jadi, rekan-rekan sekalian…

Wind of Change, alias angin perubahan, sedang kencang bertiup di pekarangan depan rumah kita semua, dan sedang berusaha menggedor pintu pekarangan belakang kita…

Masihkah kita tertarik buat ngomentarin narasi-narasi gak jelas di luar sana, lalu ceroboh mengantisipasi adaptasi diri kita sendiri di era yang semakin kompetitif & gak menentu ini?

Marilah kita cek, apakah pekerjaan kita bersifat:

  1. Repetitif (sudah tergantikan oleh robot).
  2. Administratif (sudah tergantikan oleh aplikasi di ponsel).
  3. Kuantitatif (sudah tergantikan oleh software).

Jika jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut adalah “Ya”, maka siap-siaplah pekerjaan kita yang paling duluan tersapu oleh sistem otomatisasi, robotik, software, aplikasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).

Kira-kira, apa saja hal-hal yang perlu kita tingkatkan di masa depan?

  1. Kewaspadaan sosial (Social Awareness) & kewaspadaan pribadi (Self Awareness), dengan terus melahap informasi & pengetahuan bermutu tinggi dari sumber2 yang kredibel.
  2. Kemampuan bahasa asing, minimal Bahasa Inggris. Minimal sekali bisa buat baca referensi berbahasa Inggris dulu aja, sebagai tahap pertama. Nanti berangsur mahir hingga tahap percakapan.
  3. Akan banyak petuah karir gaya lama yang gak berlaku lagi di masa depan. Yakinkanlah bahwa kita mendapatkan bimbingan karir dari mentor yang tepat, bukan mentor yang bisanya hanya membangga-banggakan pencapaian karir pribadinya di masa lalu.
  4. Targetkanlah minimal penguasaan satu keahlian baru per bulannya. Kita akan terkejut sendiri dengan betapa mahirnya kita akan satu atau beberapa hal, di akhir tahun. Ini jauh lebih berharga daripada Tunjangan Hari Raya (THR) atau bonus performa.
  5. Fokuslah untuk terus membangun jati diri (Personal Brand), kompetensi utama, kompetensi pendukung, jejaring sosial & hubungan baik yang solid dengan banyak orang, kemampuan wirausaha & bisnis, dan kemampuan kita untuk lincah beradaptasi dengan berbagai perubahan.

Akhir kata… marilah kita terus berdoa, agar kehidupan ini bisa kita jalani dengan sebaik-baiknya; betapa pun sulitnya kondisi kehidupan pribadi yang kita hadapi saat ini.

Setelah berdoa, saya yakin rekan-rekan akan lebih siap menghadapi betapa gak menentunya realitas masa depan…

Bahwa suatu saat… mana tau, di kantor kalian akan duduk HR Manager, GM HR, atau HR Director bercitarasa Steak, Kari, CapCay, Teriyaki, Kimchi, atau Nasi Lemak…

By Peter Febian > https://www.linkedin.com/in/peter-febian-183a6b52/

Passion Saja Tidak Cukup

Beberapa bulan lalu saat saya , Pak Peter Febian dan Pak Rio Tinto Sirait sedang sharing ke anak-anak muda di dalam sebuah forum. Salah satu peserta bertanya soal Passion. Benarkah dengan memiliki Passion kita akan bahagia menjalankan aktifitas yang saat ini kita tekuni? Lalu saat kita merasa tidak bahagia apakah itu bukan Passion kita?

Sebetulnya soal “Passion” bukanlah hal yang baru yang kita dengar. Banyak banget buku-buku pengembangan diri yang membahas ‘mahluk’ ini. Namun konsep Passion dipatahkan mentah-mentah oleh Cal New Port dalam buku yang dikarangnya berjudul Don’t Follow Your Passion.

Sebab menurutnya passion baru ada/muncul ketika kita sudah mendalami apa yang sudah lama kita kerjakan. Jadi bukan passion dulu baru mencari dan menjalani pekerjaan yang kita sukai, namun sebaliknya. Menjalani pekerjaan terlebih dahulu hingga menjadi mahir dan terbiasa lalu munculah sebuah passion didalam hidup kita. Sehingga dalam prosesnya tidak selamanya enak ada jatuh bangun dan tanggung jawab yang perlu ditempuh.

Well, daripada kita berdebat soal Passion saya ingin menawarkan konsep lain yaitu IKIGAI. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh orang-orang Okinawa, Jepang. Secara sederhana diartikan sebagai a reason for wake up or for being atau alasan untuk bangun pagi atau hidup.

Secara lebih singkat bisa diartikan sebagai tujuan hidup kita. Lebih dalamnya lagi IKIGAI adalah makna hidup kita, panggilan jiwa kita. IKIGAI lah yang membuat seseorang bangun pagi dengan bersemangat. IKIGAI LAH yang membuat seseorang mampu menikmati hidupnya dengan puas dan bahagia. Pertanyaan saya, apa IKIGAI kamu? Untuk memudahkannya mari kita bedah satu persatu.

Terdapat empat elemen kunci yang membentuk konsep IKIGAI diantaranya PASSION, MISSION, PROFESSION dan VACATION. Ketika tujuan hidup kalian sudah bisa menggabungkan empat hal tersebut, maka itulah yang disebut dengan IKIGAI. Nah, untuk bisa menemukannya, kamu kudu menjawab dulu beberapa pertanyaan kunci mengenai IKIGAI ini. Sudah siap?

Pertama kita memulai dari pertanyan, Apa yang kamu sukai bahkan cintai? Dimana kamu bisa menjadi lupa waktu dan semangat dalam melakukannya?

Kedua, kemampuan apa yang kamu kuasai? Aktifitas apa dimana kamu mahir dalam melakukannya?

Di bagian ketiga, apa yang dunia atau pasar butuhkan? Adakah yang mau mendengar, membaca, membeli apa yang kita lakukan?

Pertanyaan keempat adalah, kamu dibayar karena melakukan apa? Apa pekerjaan yang dimana kamu dapat bayaran? Apakah yang kamu lakukan mendapatkan bayaran?

Nah….. Perpaduan antara apa yang kamu sukai dan apa yang kamu mampu lakukan inilah yang disebut dengan Passion. Lain lagi dengan perpaduan antara apa yang kamu sukai dan apa yang dunia butuhkan dinamakan MISSION. Sedangkan antara yang kamu mampu lakukan sekaligus mendapatkan gaji disebut dengan PROFESSION. Dan terakhir perpaduan antara yang dunia butuhkan dengan dapat kamu lakukan agar mendapat bayaran disebut dengan VACATION.

Nah disaat bersamaan melakukan PASSION & PROFESSION, kamu akan merasakan puas namun masih kurang bermanfaat. Ketika menjalankan PASSION & MISSION, kamu merasa senang dan sempura. Sayangnya, kamu masih kurang sejahtera. Ketika pekerjaanmu sudah memenuhi MISSION dan VOCATION, mungkin kamu akan gembira dan puas diraih. Tapi kamu penuh keraguan. Saat VOCATION & PROFESSION dijalani, sudah pasti kamu nyaman. Tapi efeknya, kamu menjalani kekosongan. Sebab kamu tidak mencintai apa yang kamu lakukan.

Itulah kenapa diawal saya katakan Passion saja tidak cukup. Yuk! Mari pelan-pelan kita mengassement diri kita untuk mencari apa sebenernya IKIGAI kita.

by Aristha J. Kusuma > https://www.linkedin.com/in/aristhajkusuma/

Tiga Bulan Pertama

Konon 3 bulan pertama di perusahaan baru adalah masa-masa paling crucial bagi pekerja yang baru masuk ke perusahaan baru. Beberapa teman saya menyebutnya masa pencobaan, bukan masa percobaan 🙂

Saya juga beberapa kali mengalaminya, saya ingat waktu pertama kali bergabung di MENSA GROUP, di tim Pak Andhi Kurniawan. Seumur-umur tidak ada yang berani bilang saya itu bodoh, tidak ada yang berani bilang saya itu lambat, tapi bekerja di bawah kepemimpinan Pak Andhi, membuat saya menyebut diri saya sendiri : “bodoh dan lambat!”. Kenapa? Karena saya merasa Pak Andhi itu orangnya smart, dan kerjanya begitu cepat. Ralat: kerjanya begitu Turbo! Saya yang sudah biasa kerja dengan cepat di pekerjaan-pekerjaan sebelumnya, jadi merasa saya lambat, ketika saya bergabung di tim beliau. Saya bahkan sempat berpikir: Apakah mungkin dia itu Astro Boy?

Butuh waktu yang tidak sebentar sebelum akhirnya saya bisa menyamakan ritme kerja saya dengan beliau.

Di pekerjaan-pekerjaan berikutnya juga demikian, saya ketemu dengan bos baru, atasan baru, tim kerja baru, yang semuanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Saya beberapa kali menghadapi resistensi, dicibir orang, kepentok sistem dan lain sebagainya. Saya tidak bisa menggunakan kunci sukses saya di perusahaan lama untuk langsung sukses di perusahaan baru. Meski merek gemboknya sama, tapi ada bagian yang harus dikikis dulu (dari anak kunci yang saya punya), untuk dapat membuka gembok yang baru. Saya cukup yakin, sebagian besar dari Anda juga mengalami hal yang sama.

Dan kemudian pertanyaannya adalah: sediakah kita dikikis? Sediakah kita menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru? atau nyerah aja deh, kirim CV ke eva.lim@greattogreat.com

🙂

Dear Great People, Jangan cepat menyerah, jangan mudah memutuskan untuk segera pindah kerja lagi, apalagi usia kerja Anda di tempat sekarang, baru seumur jagung.

Saya tahu 3 bulan pertama itu tidak mudah, tapi mari berikan waktu untuk perusahaan dan juga diri Anda sendiri untuk menyesuaikan diri.

Perhatikan 4 hal ini:

1. Jangan membanding-bandingkan

Jangan bandingkan perusahaan baru Anda dengan perusahaan lama Anda, apalagi jika yang Anda bandingkan adalah kekurangan di tempat yang baru, dan kelebihan di tempat yang lama.

Bukankah Anda sendiri yang telah memutuskan untuk pindah? Terimalah konsekuensinya secara jantan.

Lagipula belum tentu juga, secara keseluruhan tempat baru Anda lebih buruk dari tempat yang lama. Berilah waktu untuk Anda dapat melihat semuanya.

2. Pastikan Anda membawa gelas kosong, bukan gelas penuh

Jangan sok tahu. Jangan mudah menggeneralisasikan, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Kadang ada hal-hal yang penting, terkait dengan values dan culture organisasi, yang tidak dapat Anda temukan di dalam dokumen manapun. Padahal hal itulah yang dapat menjadi kunci sukses Anda di perusahaan ini. Sabarlah, tarik nafas, berikan waktu.

Sadari bahwa organisasi tempat Anda baru bergabung saat ini, adalah organisasi yang unik, yang punya keunikannya tersendiri.

3. Jangan malu bertanya

Pastikan Anda punya Ensiklopedia. Seseorang yang dapat Anda jadikan tempat bertanya di kantor. Jalinkan hubungan baik dengannya. Jangan hanya lakukan pendekatan formal, lakukan juga pendekatan informal, ajak makan, belikan kue, sampaikan kata-kata yang menunjukkan perhatian. Misal: ” Sudah jam makan siang, kamu nggak makan dulu?”, “Oke, sampai besok, hati-hati di jalan ya”, “Anakmu sekarang sudah kelas berapa?” dan lain sebagainya.

Pastikan Anda lakukan dengan tulus, jangan cuma karena ada maunya saja.

4. Sedialah untuk Berubah

Untuk sukses di perusahaan baru, yang pertama harus berubah adalah diri Anda sendiri.

Mungkin Anda harus bangun lebih pagi, karena ternyata walau jarak lebih dekat, kantor baru Anda lebih macet dari kantor sebelumnya.

Mungkin Anda harus menata ulang cara bicara Anda, karena di perusahaan baru, mereka tidak terbiasa ngomong “elo- gua”.

Mungkin Anda harus belajar lagi strategi marketing yang baru, karena customer perusahaan baru Anda, beda segment dengan perusahaan lama Anda.

Mungkin Anda harus memperlancar bahasa inggris Anda, karena sekarang Anda harus report juga ke Head Quarter di Singapore.

Coba renungkan, apalagi yang harus Anda ubah dari diri Anda?

Mengurangi jam tidur? mungkin iya.

Mengurangi jam main game? Kemungkinan besar iya!

Bahkan Anda mungkin akan kehilangan semua waktu chatting di group Anda, saking Anda sibuknya. ….

Dear Great People

Untuk menjalani pekerjaan yang lebih baik, Anda juga harus berubah menjadi orang yang lebih baik. Untuk berubah menjadi orang yang lebih baik, mungkin ada hal-hal yang harus Anda korbankan, ada hal-hal yang harus Anda relakan, ada hal-hal yang harus Anda buang.

Itu semua penting, agar anak kunci sukses yang ada pada Anda, dapat dikikir sedemikian rupa, sehingga cocok dengan gembok baru, yang harus Anda buka di perusahaan baru.

Jangan mudah berkata: “Saya tidak cocok di perusahaan baru”, “Saya tidak betah” dan lain sebagainya.

Sekali lagi saya ingin katakan: Berikan waktu. Waktu bagi Anda dan perusahaan untuk menyesuaikan diri.

Saat ini mungkin Anda menghadapinya dengan bercucuran air mata, tapi suatu saat Anda akan mengenangnya, dan menyebutnya: Berharga!

Have a Great Day Great People

Be Blessed

Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

Proses Recruitment

Banyak yg membuat postingan dan japri ke saya, mengeluhkan proses recruitment yg membingungkan.

Berikut ini adalah urutan proses recruitment [secara umum] di perusahaan yg harus dipahami [khususnya] oleh job seeker :

  1. Screening CV [oleh HR dan baiknya melibatkan User]
  2. Panggilan Interview
  3. Psikotest / online assestment / mengisi Aplication Form.
  4. Interview HR + Interview user [bisa pada waktu terpisah]
  5. Interview top management [optional- tergantung jabatan yg dilamar]
  6. Cek Referensi ke tempat kerja sebelumnya
  7. Nego gaji+benefit lainnya [untuk level spv keatas]
  8. Offering Letter + Medical Check Up
  9. Konfirmasi akhir [diterima / tidak]
  10. On boarding [induction training]

Dalam proses recruitment bisa saja seorang kandidat gagal pada proses tahap 1-8.

Semoga recruiter memahami urutan sederhana ini dan menjelaskan secara terbuka ke para kandidat, supaya tidak ada istilah HRD tukang PHP dan buang waktu kandidat.

Semoga pula para job seeker tidak ke-GR-an, karena pada tahap nego gaji, offering letter, bahkan medical check up, masih ada kemungkinan gagal join.

Penting bagi kandidat untuk memastikan mengajukan resign dari tempat kerja lama, setelah mendapat konfirmasi akhir!

Semoga kedua belah pihak saling memahami dan menghargai.

Aamiin…

by Roh Budianto – https://www.linkedin.com/in/roh-budianto/

Kutu Loncat

“Pengen bahas kutu loncat aja lama banget sih mbak…” Goda seseorang yang menunggu tulisan saya.

Saya tertawa. Iya, saya memang tidak mau bahas tentang hal ini secara sembarangan, tidak fair kalau saya hanya bahas dari satu sisi saja. Memang sih, paling enak bahas dari sisi kandidat, yang ngelike pasti banyak.

Tapi menurut saya, itu tidak mendidik, hanya membuat orang senang, tapi tidak membuat orang bertumbuh, tidak membantu orang untuk berubah menjadi lebih baik, tidak membantu orang mendapatkan pekerjaan yang seharusnya…

“Wait… rewind sedikit: … Tidak membantu orang mendapatkan pekerjaan yang seharusnya?

Berarti ada yang mendapatkan pekerjaan yang tidak seharusnya?”

Saya tersenyum. Ada! Banyak malah!

Kadang-kadang kita begitu cepat merombak CV kita, memodif performa kita sesuai dengan apa yang dituliskan oleh para influencer di LinkedIn, tanpa kita mengubah apa yang ada di dalam, yaitu diri kita sendiri.

Akibatnya apa? Kita cepat mendapat pekerjaan, tapi dalam hitungan bulan sudah tidak betah lagi, entah kitanya yang bosan, atau tekanannya yang terlalu tinggi, karena perusahaan overexpectation terhadap kita, sebagai akibat dari keberhasilan kita mempermak CV.

Kita lupa, bahwa tujuan akhir kita, bukanlah mendapat pekerjaan itu sendiri, tapi bagaimana kita dapat menghasilkan performa kerja yang prima, sehingga kita dapat memberi kontribusi yang tinggi.

“Ah buat apa kasih kontribusi tinggi mbak, dari perusahaan gajinya segitu-gitu aja”

Nah, inilah mindset yang harus kita ubah. Kita sering berpikir bahwa kita bekerja untuk mendapatkan gaji, sehingga jika kita merasa gaji kita cukup besar, maka kita mau berupaya cukup besar, sebaliknya jika kita merasa gaji kita kecil, kita maunya memberikan upaya yang kecil saja.

Kita lupa bahwa kerja itu adalah ibadah, suatu hal yang kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika performa kita baik, yang mendapat keuntungan paling besar bukanlah perusahaan, tapi diri kita sendiri. Jangan terkecoh dengan besarnya gaji, bonus atau hadiah jalan-jalan keluar negri.

Itu hanya Gimmick nya saja, yang utama adalah pengembangan diri sendiri, menjadi pribadi yang terbaik sebagaimana seharusnya kita menjadi.

“Bagaimana kalau di perusahaan itu, kita gak bisa berkembang? Gak bisa perform karena masalah internal perusahaan? Atasannya lah, HRDnya lah, Managementnya lah?”

Pertanyaannya: Sudah berapa lama kita berusaha berkembang di perusahaan itu? Setahun? Dua tahun? Jika baru dalam hitungan bulan kita sudah menyerah, berarti kita bukan seorang pembuat sejarah. But it’s okay, kemampuan orang kan beda-beda, saya tidak akan me-reject lamaran kandidat-kandidat yang seperti itu. Tapi saya juga tidak akan bisa merekomendasikan mereka ke perusahaan-perusahaan besar yang saya tahu, akan butuh ketekunan dan kekuatan besar untuk mendobraknya.

Ujungnya adalah kans. Apakah ada perusahaan yang mau meng-hire Kandidat yang sering pindah-pindah perusahaan? Ada! Banyak! Tapi umumnya mereka juga perusahaan yang turn over rate nya tinggi. Dan jumlah perusahaan yang seperti ini, tentu tidak sebanyak perusahaan yang enggan meng-hire kandidat yang sering pindah-pindah perusahaan.

Jika Anda ingin Kans Anda lebih tinggi, cobalah bertahan di perusahaan Anda, minimal 1-2 tahun. Push diri Anda melakukan yang lebih baik dari yang pernah Anda lakukan. Tidak mudah? Pasti!

Tapi pasti manis akhirnya. Jika Anda sudah punya perform experience yang mumpuni, sudah punya Legacy yang tercatat, jangan ragu untuk mengirimkan Update CV Anda kepada kami.

Have a Great Day Great People

Let’s Rock

By Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso

Cita-cita memang bisa berubah-ubah

Waktu Eitel, anak Saya masih berumur 3-4 tahun, ia ingin jadi dokter, masih melekat di ingatan Saya jawaban nya ke setiap orang saat itu “Eitel nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?” “Jadi Doktel” “Dokter Apa?” “Doktel Anyak!”

Waktu berlalu….

Di usia 5-6 tahun, ia berpindah ingin jadi Pramugari.

“Mah, nanti aku kalau sudah besar jadi Pramugari ya”

Lapornya pada suatu hari. Saya mengangkat alis. Lho kok berubah?

“Aku ngobrol sama sahabatku di sekolah, dia juga mau jadi Pramugari” Ceritanya.

Saya mengangguk-angguk. Ooooh.

Mulai tahun 2016 ini, Saya melepas pekerjaan tetap Saya sebagai karyawan, dan memulai profesi baru saya, sebagai seorang HR Konsultan. Bulan puasa yang lalu, di sebuah acara buka puasa bersama. Pak Andes Wardy, salah satu Senior Saya bertanya: “Eitel kalau besar mau jadi apa?”

“Mau jadi Konsultan” Jawabnya mantap.

Saya menoleh sambil tertawa.

“Kenapa mau jadi konsultan?” Kejar Pak Andes. Eitel menjawab, dengan jawaban yang membuat Saya ingin segera menyembunyikan wajah Saya di balik tumpukan piring Takjil.

“Supaya bisa kerja di Cafe”

Saya rasa di usia semuda Eitel, adalah wajar kalau ia berganti-ganti cita-cita. Fokus kami (orangtuanya) memang bukan apa cita-citanya, tapi apa yang menjadi Passion dan Kompetensi yang Tuhan berikan secara khusus buat dia.

Ada banyak profesi yang ada sekarang, tapi tidak ada, dan tidak terbayangkan ada di 10-15 tahun yang lalu. Dan sebaliknya, ada profesi yang ada 10-15 tahun yang lalu, tapi sudah tidak ada lagi sekarang. Saya tidak mau anak Saya mengejar cita-cita yang mungkin sudah tidak eksis lagi ketika ia dewasa. Sebaliknya, Saya mau dia memiliki kemampuan yang unggul di suatu bidang tertentu yang dia sukai, dan kemudian keunggulannya itu dapat dia gunakan untuk membantu banyak orang.

Dapat banyak uang? Sudah pasti! Kalau keunggulannya dapat memenuhi kebutuhan banyak orang, ia pasti akan dicari orang, dan sesuai dengan hukum Supply and Demand, jika jumlah permintaan banyak sedangkan penawaran sedikit, maka Senin harga naik.

Oke, Kita bahas detail sedikit ya:

1. Biarlah anak-anak unggul di bidang yang ia sukai

Om Saya, Steve Jobs pernah bilang gini : “The Only Way To Do Great Work is to Love What You Do. If You haven’t find it yet. Keep Looking. Don’t Settle”

Jika kita, parents, memaksa anak kita masuk ke jurusan tertentu, sekolah tertentu, les tertentu, demi cita-cita yang menurut kita fantastis, tapi mereka gak suka…. Parents… yang kita lakukan itu, jahat!

Kita akan membuat mereka terperangkap di sebuah pekerjaan yang mereka tidak sukai, dan sebesar apapun penghasilannya, mereka tetap tidak akan mencapai potensi terbaik yang mereka miliki. Kenapa? Karena mereka tidak benar-benar menyukainya.

2. Biarlah anak-anak unggul di bidang yang sesuai dengan kompetensi mereka. Pintar itu, bukan cuma pintar matematika.

Om Saya yang lain, Albert Einstein, pernah bilang “Everyone is a Genius. But if you judge a fish from it’s ability to climb a tree, it will lives it whole life, believing it is stupid.”

Setiap orang itu jenius, termasuk kamu…. Iyaaaaa… Kamuuuu!

Termasuk juga anak-anak kita. Jadi jika Om Albert Einstein, yang dibilang orang paling jenius itu aja bilang anak kita jenius, kenapa kita bilang anak kita bodoh? Mereka semua pintar, tapi dalam bentuk yang berbeda-beda.

Tugas kita, Parents, membantu mereka menemukan potensi terbesar apa yang ada dalam kehidupan mereka. Tadi pagi hati Saya tersentuh membaca sebuah kisah tentang Nathan Ramsey, a Gifted Photografer. You wouldn’t know it but he’s colour blind yet is able to capture beauty behind that lens of his.

Tuhan itu maha besar dan maha adil, di balik keterbatasan-keterbatasan kita dan anak-anak kita, Ia menyediakan potensi-potensi yang sangat besar dan sangat berguna, baik untuk diri sendiri dan orang lain.

3. Biarlah anak-anak unggul di bidangnya masing-masing, dan keunggulan mereka dapat mereka gunakan untuk membantu banyak orang.

Dear Parents, Pastikan anak-anak kita memiliki skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk pekerjaannya nanti. Soal pekerjaan, profesi dan jabatannya apa itu belakangan. Anda bisa saja menurunkan jabatan Anda sebagai direktur perusahaan kepada anak Anda, tapi jika ia tidak memiliki skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk jabatan itu, apakah Anda tidak akan membuat karyawan-karyawan Anda sengsara?

Biarlah mereka berkembang sesuai dengan passion dan kompetensi mereka, nah sesudah mereka punya ‘sesuatu’ yang bisa ‘dijual’ barulah akan lebih jelas, profesi atau pekerjaan apa yang nanti bisa mereka kerjakan.

Tidak tertutup kemungkinan mereka akan punya lebih dari satu profesi, lebih dari satu pekerjaan. Tidak tertutup kemungkinan mereka akan menciptakan produk baru, jasa baru, pekerjaan baru, menjadi orang pertama yang mengerjakan sebuah profesi baru, membuka bidang industry yang baru, jenis lapangan pekerjaan yang baru.

Mereka… anak-anak kecil itu…. dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang BESAAAAR.

Wow… don’t you exciting with what they can do in the future? Mari kita siapkan mereka

* Tulisan ini merupakan Repost dari tulisan saya di Facebook 23 September 2016

Saya me-Repost nya dalam rangka menyambut hari pendidikan nasional, hari yang mengingatkan saya akan pentingnya peran para pendidik, bukan hanya para guru, tetapi terutama kita, para orangtua.

Have a Great Day Great Parents

Let’s Rock

Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso

Curhat Rekruiter

Akhir-akhir ini saya sering sekali menemukan posting atau curhatan tentang sulitnya mencari pekerjaan. Padahal, vacant position itu banyak sekali, berbagai posisi, lokasi, jabatan, dan skill.

Recruiter juga sekarang seringkali kesulitan menemukan kandidat yang match dengan kebutuhannya, (yok! Recruiters curhat juga!!). Either, technical skills-nya cocok, tapi attitude-nya belum match, otherwise kandidatnya sangat self motivated tapi technical skill-nya jauh dari kebutuhan, or else yang paling sedih adalah ketika sudah menemukan kandidat dengan technical skill yang memadai, dan potensi kandidat yang baik, attitude yang sesuai.. Eh! Harganya kemahalan atau sudah di hire lebih dulu oleh company lain.. Judulnya sih, memang belum jodoh.

But, i remember years ago di salah satu kelas Psiopin yang digelar, memang salah satu recruiter challenge saat ini adalah menemukan talent yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kita sepakat bahwa tidak akan ada kandidat yang 100% sudah ready dan match dengan pekerjaan yang tersedia, tetapi pengukuran Skill, Knowledge, dan Attitude pastinya tetap harus memenuhi standard minimal dari kebutuhan pekerjaan di company kita.

Menurut saya, dari sisi applicant dengan adanya kebutuhan tenaga kerja yang skilled, knowledgeable, dan attitude yang baik maka applicants harus mau invest lebih kepada dirinya, misalnya dengan baca buku self improvement, atau join dengan community, doing extra miles yang bisa “mempercantik” portfolios applicant. Lebih kece jika memang sesuai dengan expertise yang dimiliki (even more for professionals and mid high position).

Dari sisi recruiter, pendekatan one on one sepertinya sudah harus menjadi cara dalam menemukan “jodoh”-nya. Bangun relasi yang cukup baik dengan banyak qualified people melalui LinkedIn, memperbanyak komunitas-komunitas yang bisa memberikan rekomendasi talents terbaik.

Menurut anda bagaimana? Mari diskusi yuk 🙂

by Nanda Marifani Sani – https://www.linkedin.com/in/nanda-marifani-sani-9b892023

Mengukur Diri Sendiri

Lebih baik mana: menyesuaikan penampilan diri dengan posisi yang akan dilamar atau tetap menjadi diri sendiri?

Dear Great People

Menjadi diri sendiri itu penting, tapi dapat menyesuaikan diri adalah hal yang tidak kalah pentingnya. Tinggal kita melihat batasannya: seberapa jauh kita harus menyesuaikan diri/penampilan kita tanpa kehilangan jati diri kita.

Beberapa bulan lalu saya sempat berdiskusi dengan salah satu client saya, membahas kandidat saya yang datang Psikotes dengan celana jins dan kaos oblong.

Apakah itu salah? Tidak

Apakah itu mempengaruhi penilaian user? Ya

“Ayolah Pak, we can’t judge a book from it’s cover” Bela saya

“Bob Sadino, Mark Zuckerberg, juga hampir tidak pernah terlihat pakai baju rapi” Desak saya lagi.

Client saya menggeleng “Bob Sadino is Bob Sadino Milka, People know who exactly Bob Sadino. Orang akan tetap mau berbisnis dengannya meskipun kemana-mana ia pakai celana pendek.”

“Demikian juga dengan Mark, orang tetap berlomba-lomba ingin bekerja di perusahaannya, walaupun dia selalu pakai oblong abu-abu.” Sambung client saya lagi.

“But this guy…” Client saya memegang CV kandidat saya di tangannya “I don’t think he’s a right person for me” Saya menghela nafas, menganggukkan kepala, akhirnya menyerah.

Client saya berdiri, namun sebelum ia meninggalkan ruang meeting ia berkata : “Oh ya Milka, kandidat u gak lolos bukan karena dia pakai oblong…”

Saya mengangkat kepala saya “lalu kenapa pak?”

“Karena ia belum bisa mengukur diri sendiri.”

Tandas klien saya, lalu meninggalkan saya, sendiri di dalam ruangan.

Saya terpekur… Merenungkan kata-kata klien saya, lalu menuliskannya.

Dan hari ini saya membagikannya untuk Anda, biarlah jadi pelajaran berharga untuk kita bersama

Have a Great Day Great People

by Milka Santoso > https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

Ketika saya bukan dari Univ terkenal atau bergelar Sarjana, apakah auto tidak berhak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?

Saya mau share pengalaman saya baca beberapa CV. Jadi, saya sering kali kecewa ketika saya sudah banyak berharap, ternyata pas buka, wahhhh patah hati. Untuk para job seekers buatlah CV yang “menjual“.

Kebanyakan orang berpikir CV yang “menjual” adalah yang designnya atau warnanya menarik di mata. Oke itu tidak sepenuhnya salah, tetapi isi didalamnya jauh lebih penting. Tentu HRD mau melihat skill kamu, bidang kamu, pengalaman kamu, sisi lain kamu apakah sesuai dengan lowongan.

Sebelumnya saya pernah nulis juga tentang orang yang melamar (by email) hanya cantumkan CV tanpa pembukaan, bagaikan ketok pintu ke rumah-rumah, terus tawarin dagangan sambil bilang “beli ini, baca aja bungkusnya“, wah ngeri sih.

Nahhh, berkaitan judul diatas yang bikin saya kaget kadang ada dari univ terkenal tapi rasanya CV nya bisa lebih oke??? Potek hati ade, bang! Tapi seketika saya move on, ketika saya liat ada CV yang menarik walau tidak harus terkenal, ketika liat pengalaman dia detail jelaskan job desc sebelumnya, suratnya rapi, skillnya oke, warna ga nabrak, memahami bahwa personalitas tidak perlu ditulis dengan skala (ga perlu karakter jujur dikasih bintang 4 dari 4), berorganisasi dengan baik. Ku masukan dia ke kategori menarik.

Tiba-tiba tergelitik liat CV freshgraduate, walau tak punya pengalaman, tapi siapa bilang tak berpengalaman??? Ku cek dia terbiasa public speaking, jadi ketua pelaksana, baksos, ikut event lomba juara 1, bahasa Inggris oke, mandarin plus, pernah ikut olimpiade, bisa menggunakan aplikasi tertentu, jiwa fighter. Ku masukan lagi dalam kategori oke.

Liat liat lagi tumpukan CV, dan kini menemukan CV dari lulusan SMK, berpengalaman dibidang sesuai lowongan, pekerja keras terlihat dari job desc-nya, kuasai banyak hal, foto CV yang sesuai dan profesional, ikut kursus yang mendukung, banyak menghabiskan waktu dengan menambah/mengasah ilmu, kata-kata surat dibentuk formal dan meyakinkan, track record yang loyal dan berdedikasi, akhirnya 3 cv tersebut saya pertimbangkan.

Dan 1 lagi kegemesan saya, ketika buka lowongan apa, lalu tiba-tiba ada yang tanya “buka lowongan lain ga bu?” atau “bu, saya ga sesuai kriteria, gimana ya?” Bukankah itu menunjukan ketidaktelitian???

Soooooo, semua ini balik lagi ke kamu bagaimana mengemas untuk “menjual“.

Tetap semangat!

by Amanah Nurtasari

https://www.linkedin.com/in/amanah-nurtasari-458455114

2019: BUSyNESS OR BUSSiNESS, DAMPAK KE CV

Creating eTraining business

Masih Januari. Sliweran pada bikin Resolusi. Ditanya random, makna terbelah: 1]sebagai harapan 2]sebagai tekad. Polaritas makna, adopsi sebagai mindset bakal bikin result jauh beda.

Sudah bikin Business Plan 2019? Cek, itu busyness atau business plan. Sibuk bikin Rencana Kerja 2019. Cek, itu rencana kerja atau kinerja?

Business Plan gak cukup sekadar survive. Targetnya aspiratif. That’s business. Otherwise, bisa jadi busyness plan: berkesibukan!

Sasaran Business yang challenging diturunkan hingga garis depan. Rupa2 respon reaksi. Si Progresif, nanya abis untuk paham. Lalu join. Si Statusquo, banyak tanya untuk nawar: turunin target dong. Yang ogah paham mulai bawel 1] Kerja makin banyak, nasib konstan 2] Target naik terus, gaji segini2nya. 3] Ya udah jalani saja, pasrah.

Masih galau? Sibuk memilih, mau doing business atau busyness. Beda huruf i [saya] dan y [you] doang. Business fokus ke apa yang mau diperbuat dan dicapai diri. Busyness, bersibuk ria ngurusi rencana orang lain, bisa2 lupa kerjakan rencana diri. Pokoknya busy, easy, noisy, loudy.

Gitu juga bedanya kerja dan kinerja. Yang sibuk kerja, CVnya penuh jobdes. Yang sibuk kinerja CVnya penuh achievement. Pilih saja mindset & modus jalani waktu!

by Wisudho Harsanto https://www.linkedin.com/in/growinstitute/