General Management

Tiga Bulan Pertama

Konon 3 bulan pertama di perusahaan baru adalah masa-masa paling crucial bagi pekerja yang baru masuk ke perusahaan baru. Beberapa teman saya menyebutnya masa pencobaan, bukan masa percobaan 🙂

Saya juga beberapa kali mengalaminya, saya ingat waktu pertama kali bergabung di MENSA GROUP, di tim Pak Andhi Kurniawan. Seumur-umur tidak ada yang berani bilang saya itu bodoh, tidak ada yang berani bilang saya itu lambat, tapi bekerja di bawah kepemimpinan Pak Andhi, membuat saya menyebut diri saya sendiri : “bodoh dan lambat!”. Kenapa? Karena saya merasa Pak Andhi itu orangnya smart, dan kerjanya begitu cepat. Ralat: kerjanya begitu Turbo! Saya yang sudah biasa kerja dengan cepat di pekerjaan-pekerjaan sebelumnya, jadi merasa saya lambat, ketika saya bergabung di tim beliau. Saya bahkan sempat berpikir: Apakah mungkin dia itu Astro Boy?

Butuh waktu yang tidak sebentar sebelum akhirnya saya bisa menyamakan ritme kerja saya dengan beliau.

Di pekerjaan-pekerjaan berikutnya juga demikian, saya ketemu dengan bos baru, atasan baru, tim kerja baru, yang semuanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Saya beberapa kali menghadapi resistensi, dicibir orang, kepentok sistem dan lain sebagainya. Saya tidak bisa menggunakan kunci sukses saya di perusahaan lama untuk langsung sukses di perusahaan baru. Meski merek gemboknya sama, tapi ada bagian yang harus dikikis dulu (dari anak kunci yang saya punya), untuk dapat membuka gembok yang baru. Saya cukup yakin, sebagian besar dari Anda juga mengalami hal yang sama.

Dan kemudian pertanyaannya adalah: sediakah kita dikikis? Sediakah kita menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru? atau nyerah aja deh, kirim CV ke eva.lim@greattogreat.com

🙂

Dear Great People, Jangan cepat menyerah, jangan mudah memutuskan untuk segera pindah kerja lagi, apalagi usia kerja Anda di tempat sekarang, baru seumur jagung.

Saya tahu 3 bulan pertama itu tidak mudah, tapi mari berikan waktu untuk perusahaan dan juga diri Anda sendiri untuk menyesuaikan diri.

Perhatikan 4 hal ini:

1. Jangan membanding-bandingkan

Jangan bandingkan perusahaan baru Anda dengan perusahaan lama Anda, apalagi jika yang Anda bandingkan adalah kekurangan di tempat yang baru, dan kelebihan di tempat yang lama.

Bukankah Anda sendiri yang telah memutuskan untuk pindah? Terimalah konsekuensinya secara jantan.

Lagipula belum tentu juga, secara keseluruhan tempat baru Anda lebih buruk dari tempat yang lama. Berilah waktu untuk Anda dapat melihat semuanya.

2. Pastikan Anda membawa gelas kosong, bukan gelas penuh

Jangan sok tahu. Jangan mudah menggeneralisasikan, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Kadang ada hal-hal yang penting, terkait dengan values dan culture organisasi, yang tidak dapat Anda temukan di dalam dokumen manapun. Padahal hal itulah yang dapat menjadi kunci sukses Anda di perusahaan ini. Sabarlah, tarik nafas, berikan waktu.

Sadari bahwa organisasi tempat Anda baru bergabung saat ini, adalah organisasi yang unik, yang punya keunikannya tersendiri.

3. Jangan malu bertanya

Pastikan Anda punya Ensiklopedia. Seseorang yang dapat Anda jadikan tempat bertanya di kantor. Jalinkan hubungan baik dengannya. Jangan hanya lakukan pendekatan formal, lakukan juga pendekatan informal, ajak makan, belikan kue, sampaikan kata-kata yang menunjukkan perhatian. Misal: ” Sudah jam makan siang, kamu nggak makan dulu?”, “Oke, sampai besok, hati-hati di jalan ya”, “Anakmu sekarang sudah kelas berapa?” dan lain sebagainya.

Pastikan Anda lakukan dengan tulus, jangan cuma karena ada maunya saja.

4. Sedialah untuk Berubah

Untuk sukses di perusahaan baru, yang pertama harus berubah adalah diri Anda sendiri.

Mungkin Anda harus bangun lebih pagi, karena ternyata walau jarak lebih dekat, kantor baru Anda lebih macet dari kantor sebelumnya.

Mungkin Anda harus menata ulang cara bicara Anda, karena di perusahaan baru, mereka tidak terbiasa ngomong “elo- gua”.

Mungkin Anda harus belajar lagi strategi marketing yang baru, karena customer perusahaan baru Anda, beda segment dengan perusahaan lama Anda.

Mungkin Anda harus memperlancar bahasa inggris Anda, karena sekarang Anda harus report juga ke Head Quarter di Singapore.

Coba renungkan, apalagi yang harus Anda ubah dari diri Anda?

Mengurangi jam tidur? mungkin iya.

Mengurangi jam main game? Kemungkinan besar iya!

Bahkan Anda mungkin akan kehilangan semua waktu chatting di group Anda, saking Anda sibuknya. ….

Dear Great People

Untuk menjalani pekerjaan yang lebih baik, Anda juga harus berubah menjadi orang yang lebih baik. Untuk berubah menjadi orang yang lebih baik, mungkin ada hal-hal yang harus Anda korbankan, ada hal-hal yang harus Anda relakan, ada hal-hal yang harus Anda buang.

Itu semua penting, agar anak kunci sukses yang ada pada Anda, dapat dikikir sedemikian rupa, sehingga cocok dengan gembok baru, yang harus Anda buka di perusahaan baru.

Jangan mudah berkata: “Saya tidak cocok di perusahaan baru”, “Saya tidak betah” dan lain sebagainya.

Sekali lagi saya ingin katakan: Berikan waktu. Waktu bagi Anda dan perusahaan untuk menyesuaikan diri.

Saat ini mungkin Anda menghadapinya dengan bercucuran air mata, tapi suatu saat Anda akan mengenangnya, dan menyebutnya: Berharga!

Have a Great Day Great People

Be Blessed

Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

Proses Recruitment

Banyak yg membuat postingan dan japri ke saya, mengeluhkan proses recruitment yg membingungkan.

Berikut ini adalah urutan proses recruitment [secara umum] di perusahaan yg harus dipahami [khususnya] oleh job seeker :

  1. Screening CV [oleh HR dan baiknya melibatkan User]
  2. Panggilan Interview
  3. Psikotest / online assestment / mengisi Aplication Form.
  4. Interview HR + Interview user [bisa pada waktu terpisah]
  5. Interview top management [optional- tergantung jabatan yg dilamar]
  6. Cek Referensi ke tempat kerja sebelumnya
  7. Nego gaji+benefit lainnya [untuk level spv keatas]
  8. Offering Letter + Medical Check Up
  9. Konfirmasi akhir [diterima / tidak]
  10. On boarding [induction training]

Dalam proses recruitment bisa saja seorang kandidat gagal pada proses tahap 1-8.

Semoga recruiter memahami urutan sederhana ini dan menjelaskan secara terbuka ke para kandidat, supaya tidak ada istilah HRD tukang PHP dan buang waktu kandidat.

Semoga pula para job seeker tidak ke-GR-an, karena pada tahap nego gaji, offering letter, bahkan medical check up, masih ada kemungkinan gagal join.

Penting bagi kandidat untuk memastikan mengajukan resign dari tempat kerja lama, setelah mendapat konfirmasi akhir!

Semoga kedua belah pihak saling memahami dan menghargai.

Aamiin…

by Roh Budianto – https://www.linkedin.com/in/roh-budianto/

Kutu Loncat

“Pengen bahas kutu loncat aja lama banget sih mbak…” Goda seseorang yang menunggu tulisan saya.

Saya tertawa. Iya, saya memang tidak mau bahas tentang hal ini secara sembarangan, tidak fair kalau saya hanya bahas dari satu sisi saja. Memang sih, paling enak bahas dari sisi kandidat, yang ngelike pasti banyak.

Tapi menurut saya, itu tidak mendidik, hanya membuat orang senang, tapi tidak membuat orang bertumbuh, tidak membantu orang untuk berubah menjadi lebih baik, tidak membantu orang mendapatkan pekerjaan yang seharusnya…

“Wait… rewind sedikit: … Tidak membantu orang mendapatkan pekerjaan yang seharusnya?

Berarti ada yang mendapatkan pekerjaan yang tidak seharusnya?”

Saya tersenyum. Ada! Banyak malah!

Kadang-kadang kita begitu cepat merombak CV kita, memodif performa kita sesuai dengan apa yang dituliskan oleh para influencer di LinkedIn, tanpa kita mengubah apa yang ada di dalam, yaitu diri kita sendiri.

Akibatnya apa? Kita cepat mendapat pekerjaan, tapi dalam hitungan bulan sudah tidak betah lagi, entah kitanya yang bosan, atau tekanannya yang terlalu tinggi, karena perusahaan overexpectation terhadap kita, sebagai akibat dari keberhasilan kita mempermak CV.

Kita lupa, bahwa tujuan akhir kita, bukanlah mendapat pekerjaan itu sendiri, tapi bagaimana kita dapat menghasilkan performa kerja yang prima, sehingga kita dapat memberi kontribusi yang tinggi.

“Ah buat apa kasih kontribusi tinggi mbak, dari perusahaan gajinya segitu-gitu aja”

Nah, inilah mindset yang harus kita ubah. Kita sering berpikir bahwa kita bekerja untuk mendapatkan gaji, sehingga jika kita merasa gaji kita cukup besar, maka kita mau berupaya cukup besar, sebaliknya jika kita merasa gaji kita kecil, kita maunya memberikan upaya yang kecil saja.

Kita lupa bahwa kerja itu adalah ibadah, suatu hal yang kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika performa kita baik, yang mendapat keuntungan paling besar bukanlah perusahaan, tapi diri kita sendiri. Jangan terkecoh dengan besarnya gaji, bonus atau hadiah jalan-jalan keluar negri.

Itu hanya Gimmick nya saja, yang utama adalah pengembangan diri sendiri, menjadi pribadi yang terbaik sebagaimana seharusnya kita menjadi.

“Bagaimana kalau di perusahaan itu, kita gak bisa berkembang? Gak bisa perform karena masalah internal perusahaan? Atasannya lah, HRDnya lah, Managementnya lah?”

Pertanyaannya: Sudah berapa lama kita berusaha berkembang di perusahaan itu? Setahun? Dua tahun? Jika baru dalam hitungan bulan kita sudah menyerah, berarti kita bukan seorang pembuat sejarah. But it’s okay, kemampuan orang kan beda-beda, saya tidak akan me-reject lamaran kandidat-kandidat yang seperti itu. Tapi saya juga tidak akan bisa merekomendasikan mereka ke perusahaan-perusahaan besar yang saya tahu, akan butuh ketekunan dan kekuatan besar untuk mendobraknya.

Ujungnya adalah kans. Apakah ada perusahaan yang mau meng-hire Kandidat yang sering pindah-pindah perusahaan? Ada! Banyak! Tapi umumnya mereka juga perusahaan yang turn over rate nya tinggi. Dan jumlah perusahaan yang seperti ini, tentu tidak sebanyak perusahaan yang enggan meng-hire kandidat yang sering pindah-pindah perusahaan.

Jika Anda ingin Kans Anda lebih tinggi, cobalah bertahan di perusahaan Anda, minimal 1-2 tahun. Push diri Anda melakukan yang lebih baik dari yang pernah Anda lakukan. Tidak mudah? Pasti!

Tapi pasti manis akhirnya. Jika Anda sudah punya perform experience yang mumpuni, sudah punya Legacy yang tercatat, jangan ragu untuk mengirimkan Update CV Anda kepada kami.

Have a Great Day Great People

Let’s Rock

By Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso

Cita-cita memang bisa berubah-ubah

Waktu Eitel, anak Saya masih berumur 3-4 tahun, ia ingin jadi dokter, masih melekat di ingatan Saya jawaban nya ke setiap orang saat itu “Eitel nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?” “Jadi Doktel” “Dokter Apa?” “Doktel Anyak!”

Waktu berlalu….

Di usia 5-6 tahun, ia berpindah ingin jadi Pramugari.

“Mah, nanti aku kalau sudah besar jadi Pramugari ya”

Lapornya pada suatu hari. Saya mengangkat alis. Lho kok berubah?

“Aku ngobrol sama sahabatku di sekolah, dia juga mau jadi Pramugari” Ceritanya.

Saya mengangguk-angguk. Ooooh.

Mulai tahun 2016 ini, Saya melepas pekerjaan tetap Saya sebagai karyawan, dan memulai profesi baru saya, sebagai seorang HR Konsultan. Bulan puasa yang lalu, di sebuah acara buka puasa bersama. Pak Andes Wardy, salah satu Senior Saya bertanya: “Eitel kalau besar mau jadi apa?”

“Mau jadi Konsultan” Jawabnya mantap.

Saya menoleh sambil tertawa.

“Kenapa mau jadi konsultan?” Kejar Pak Andes. Eitel menjawab, dengan jawaban yang membuat Saya ingin segera menyembunyikan wajah Saya di balik tumpukan piring Takjil.

“Supaya bisa kerja di Cafe”

Saya rasa di usia semuda Eitel, adalah wajar kalau ia berganti-ganti cita-cita. Fokus kami (orangtuanya) memang bukan apa cita-citanya, tapi apa yang menjadi Passion dan Kompetensi yang Tuhan berikan secara khusus buat dia.

Ada banyak profesi yang ada sekarang, tapi tidak ada, dan tidak terbayangkan ada di 10-15 tahun yang lalu. Dan sebaliknya, ada profesi yang ada 10-15 tahun yang lalu, tapi sudah tidak ada lagi sekarang. Saya tidak mau anak Saya mengejar cita-cita yang mungkin sudah tidak eksis lagi ketika ia dewasa. Sebaliknya, Saya mau dia memiliki kemampuan yang unggul di suatu bidang tertentu yang dia sukai, dan kemudian keunggulannya itu dapat dia gunakan untuk membantu banyak orang.

Dapat banyak uang? Sudah pasti! Kalau keunggulannya dapat memenuhi kebutuhan banyak orang, ia pasti akan dicari orang, dan sesuai dengan hukum Supply and Demand, jika jumlah permintaan banyak sedangkan penawaran sedikit, maka Senin harga naik.

Oke, Kita bahas detail sedikit ya:

1. Biarlah anak-anak unggul di bidang yang ia sukai

Om Saya, Steve Jobs pernah bilang gini : “The Only Way To Do Great Work is to Love What You Do. If You haven’t find it yet. Keep Looking. Don’t Settle”

Jika kita, parents, memaksa anak kita masuk ke jurusan tertentu, sekolah tertentu, les tertentu, demi cita-cita yang menurut kita fantastis, tapi mereka gak suka…. Parents… yang kita lakukan itu, jahat!

Kita akan membuat mereka terperangkap di sebuah pekerjaan yang mereka tidak sukai, dan sebesar apapun penghasilannya, mereka tetap tidak akan mencapai potensi terbaik yang mereka miliki. Kenapa? Karena mereka tidak benar-benar menyukainya.

2. Biarlah anak-anak unggul di bidang yang sesuai dengan kompetensi mereka. Pintar itu, bukan cuma pintar matematika.

Om Saya yang lain, Albert Einstein, pernah bilang “Everyone is a Genius. But if you judge a fish from it’s ability to climb a tree, it will lives it whole life, believing it is stupid.”

Setiap orang itu jenius, termasuk kamu…. Iyaaaaa… Kamuuuu!

Termasuk juga anak-anak kita. Jadi jika Om Albert Einstein, yang dibilang orang paling jenius itu aja bilang anak kita jenius, kenapa kita bilang anak kita bodoh? Mereka semua pintar, tapi dalam bentuk yang berbeda-beda.

Tugas kita, Parents, membantu mereka menemukan potensi terbesar apa yang ada dalam kehidupan mereka. Tadi pagi hati Saya tersentuh membaca sebuah kisah tentang Nathan Ramsey, a Gifted Photografer. You wouldn’t know it but he’s colour blind yet is able to capture beauty behind that lens of his.

Tuhan itu maha besar dan maha adil, di balik keterbatasan-keterbatasan kita dan anak-anak kita, Ia menyediakan potensi-potensi yang sangat besar dan sangat berguna, baik untuk diri sendiri dan orang lain.

3. Biarlah anak-anak unggul di bidangnya masing-masing, dan keunggulan mereka dapat mereka gunakan untuk membantu banyak orang.

Dear Parents, Pastikan anak-anak kita memiliki skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk pekerjaannya nanti. Soal pekerjaan, profesi dan jabatannya apa itu belakangan. Anda bisa saja menurunkan jabatan Anda sebagai direktur perusahaan kepada anak Anda, tapi jika ia tidak memiliki skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk jabatan itu, apakah Anda tidak akan membuat karyawan-karyawan Anda sengsara?

Biarlah mereka berkembang sesuai dengan passion dan kompetensi mereka, nah sesudah mereka punya ‘sesuatu’ yang bisa ‘dijual’ barulah akan lebih jelas, profesi atau pekerjaan apa yang nanti bisa mereka kerjakan.

Tidak tertutup kemungkinan mereka akan punya lebih dari satu profesi, lebih dari satu pekerjaan. Tidak tertutup kemungkinan mereka akan menciptakan produk baru, jasa baru, pekerjaan baru, menjadi orang pertama yang mengerjakan sebuah profesi baru, membuka bidang industry yang baru, jenis lapangan pekerjaan yang baru.

Mereka… anak-anak kecil itu…. dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang BESAAAAR.

Wow… don’t you exciting with what they can do in the future? Mari kita siapkan mereka

* Tulisan ini merupakan Repost dari tulisan saya di Facebook 23 September 2016

Saya me-Repost nya dalam rangka menyambut hari pendidikan nasional, hari yang mengingatkan saya akan pentingnya peran para pendidik, bukan hanya para guru, tetapi terutama kita, para orangtua.

Have a Great Day Great Parents

Let’s Rock

Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso

Curhat Rekruiter

Akhir-akhir ini saya sering sekali menemukan posting atau curhatan tentang sulitnya mencari pekerjaan. Padahal, vacant position itu banyak sekali, berbagai posisi, lokasi, jabatan, dan skill.

Recruiter juga sekarang seringkali kesulitan menemukan kandidat yang match dengan kebutuhannya, (yok! Recruiters curhat juga!!). Either, technical skills-nya cocok, tapi attitude-nya belum match, otherwise kandidatnya sangat self motivated tapi technical skill-nya jauh dari kebutuhan, or else yang paling sedih adalah ketika sudah menemukan kandidat dengan technical skill yang memadai, dan potensi kandidat yang baik, attitude yang sesuai.. Eh! Harganya kemahalan atau sudah di hire lebih dulu oleh company lain.. Judulnya sih, memang belum jodoh.

But, i remember years ago di salah satu kelas Psiopin yang digelar, memang salah satu recruiter challenge saat ini adalah menemukan talent yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kita sepakat bahwa tidak akan ada kandidat yang 100% sudah ready dan match dengan pekerjaan yang tersedia, tetapi pengukuran Skill, Knowledge, dan Attitude pastinya tetap harus memenuhi standard minimal dari kebutuhan pekerjaan di company kita.

Menurut saya, dari sisi applicant dengan adanya kebutuhan tenaga kerja yang skilled, knowledgeable, dan attitude yang baik maka applicants harus mau invest lebih kepada dirinya, misalnya dengan baca buku self improvement, atau join dengan community, doing extra miles yang bisa “mempercantik” portfolios applicant. Lebih kece jika memang sesuai dengan expertise yang dimiliki (even more for professionals and mid high position).

Dari sisi recruiter, pendekatan one on one sepertinya sudah harus menjadi cara dalam menemukan “jodoh”-nya. Bangun relasi yang cukup baik dengan banyak qualified people melalui LinkedIn, memperbanyak komunitas-komunitas yang bisa memberikan rekomendasi talents terbaik.

Menurut anda bagaimana? Mari diskusi yuk 🙂

by Nanda Marifani Sani – https://www.linkedin.com/in/nanda-marifani-sani-9b892023

Mengukur Diri Sendiri

Lebih baik mana: menyesuaikan penampilan diri dengan posisi yang akan dilamar atau tetap menjadi diri sendiri?

Dear Great People

Menjadi diri sendiri itu penting, tapi dapat menyesuaikan diri adalah hal yang tidak kalah pentingnya. Tinggal kita melihat batasannya: seberapa jauh kita harus menyesuaikan diri/penampilan kita tanpa kehilangan jati diri kita.

Beberapa bulan lalu saya sempat berdiskusi dengan salah satu client saya, membahas kandidat saya yang datang Psikotes dengan celana jins dan kaos oblong.

Apakah itu salah? Tidak

Apakah itu mempengaruhi penilaian user? Ya

“Ayolah Pak, we can’t judge a book from it’s cover” Bela saya

“Bob Sadino, Mark Zuckerberg, juga hampir tidak pernah terlihat pakai baju rapi” Desak saya lagi.

Client saya menggeleng “Bob Sadino is Bob Sadino Milka, People know who exactly Bob Sadino. Orang akan tetap mau berbisnis dengannya meskipun kemana-mana ia pakai celana pendek.”

“Demikian juga dengan Mark, orang tetap berlomba-lomba ingin bekerja di perusahaannya, walaupun dia selalu pakai oblong abu-abu.” Sambung client saya lagi.

“But this guy…” Client saya memegang CV kandidat saya di tangannya “I don’t think he’s a right person for me” Saya menghela nafas, menganggukkan kepala, akhirnya menyerah.

Client saya berdiri, namun sebelum ia meninggalkan ruang meeting ia berkata : “Oh ya Milka, kandidat u gak lolos bukan karena dia pakai oblong…”

Saya mengangkat kepala saya “lalu kenapa pak?”

“Karena ia belum bisa mengukur diri sendiri.”

Tandas klien saya, lalu meninggalkan saya, sendiri di dalam ruangan.

Saya terpekur… Merenungkan kata-kata klien saya, lalu menuliskannya.

Dan hari ini saya membagikannya untuk Anda, biarlah jadi pelajaran berharga untuk kita bersama

Have a Great Day Great People

by Milka Santoso > https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

Ketika saya bukan dari Univ terkenal atau bergelar Sarjana, apakah auto tidak berhak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?

Saya mau share pengalaman saya baca beberapa CV. Jadi, saya sering kali kecewa ketika saya sudah banyak berharap, ternyata pas buka, wahhhh patah hati. Untuk para job seekers buatlah CV yang “menjual“.

Kebanyakan orang berpikir CV yang “menjual” adalah yang designnya atau warnanya menarik di mata. Oke itu tidak sepenuhnya salah, tetapi isi didalamnya jauh lebih penting. Tentu HRD mau melihat skill kamu, bidang kamu, pengalaman kamu, sisi lain kamu apakah sesuai dengan lowongan.

Sebelumnya saya pernah nulis juga tentang orang yang melamar (by email) hanya cantumkan CV tanpa pembukaan, bagaikan ketok pintu ke rumah-rumah, terus tawarin dagangan sambil bilang “beli ini, baca aja bungkusnya“, wah ngeri sih.

Nahhh, berkaitan judul diatas yang bikin saya kaget kadang ada dari univ terkenal tapi rasanya CV nya bisa lebih oke??? Potek hati ade, bang! Tapi seketika saya move on, ketika saya liat ada CV yang menarik walau tidak harus terkenal, ketika liat pengalaman dia detail jelaskan job desc sebelumnya, suratnya rapi, skillnya oke, warna ga nabrak, memahami bahwa personalitas tidak perlu ditulis dengan skala (ga perlu karakter jujur dikasih bintang 4 dari 4), berorganisasi dengan baik. Ku masukan dia ke kategori menarik.

Tiba-tiba tergelitik liat CV freshgraduate, walau tak punya pengalaman, tapi siapa bilang tak berpengalaman??? Ku cek dia terbiasa public speaking, jadi ketua pelaksana, baksos, ikut event lomba juara 1, bahasa Inggris oke, mandarin plus, pernah ikut olimpiade, bisa menggunakan aplikasi tertentu, jiwa fighter. Ku masukan lagi dalam kategori oke.

Liat liat lagi tumpukan CV, dan kini menemukan CV dari lulusan SMK, berpengalaman dibidang sesuai lowongan, pekerja keras terlihat dari job desc-nya, kuasai banyak hal, foto CV yang sesuai dan profesional, ikut kursus yang mendukung, banyak menghabiskan waktu dengan menambah/mengasah ilmu, kata-kata surat dibentuk formal dan meyakinkan, track record yang loyal dan berdedikasi, akhirnya 3 cv tersebut saya pertimbangkan.

Dan 1 lagi kegemesan saya, ketika buka lowongan apa, lalu tiba-tiba ada yang tanya “buka lowongan lain ga bu?” atau “bu, saya ga sesuai kriteria, gimana ya?” Bukankah itu menunjukan ketidaktelitian???

Soooooo, semua ini balik lagi ke kamu bagaimana mengemas untuk “menjual“.

Tetap semangat!

by Amanah Nurtasari

https://www.linkedin.com/in/amanah-nurtasari-458455114

2019: BUSyNESS OR BUSSiNESS, DAMPAK KE CV

Creating eTraining business

Masih Januari. Sliweran pada bikin Resolusi. Ditanya random, makna terbelah: 1]sebagai harapan 2]sebagai tekad. Polaritas makna, adopsi sebagai mindset bakal bikin result jauh beda.

Sudah bikin Business Plan 2019? Cek, itu busyness atau business plan. Sibuk bikin Rencana Kerja 2019. Cek, itu rencana kerja atau kinerja?

Business Plan gak cukup sekadar survive. Targetnya aspiratif. That’s business. Otherwise, bisa jadi busyness plan: berkesibukan!

Sasaran Business yang challenging diturunkan hingga garis depan. Rupa2 respon reaksi. Si Progresif, nanya abis untuk paham. Lalu join. Si Statusquo, banyak tanya untuk nawar: turunin target dong. Yang ogah paham mulai bawel 1] Kerja makin banyak, nasib konstan 2] Target naik terus, gaji segini2nya. 3] Ya udah jalani saja, pasrah.

Masih galau? Sibuk memilih, mau doing business atau busyness. Beda huruf i [saya] dan y [you] doang. Business fokus ke apa yang mau diperbuat dan dicapai diri. Busyness, bersibuk ria ngurusi rencana orang lain, bisa2 lupa kerjakan rencana diri. Pokoknya busy, easy, noisy, loudy.

Gitu juga bedanya kerja dan kinerja. Yang sibuk kerja, CVnya penuh jobdes. Yang sibuk kinerja CVnya penuh achievement. Pilih saja mindset & modus jalani waktu!

by Wisudho Harsanto https://www.linkedin.com/in/growinstitute/

Kenapa susah dapat kerja?

Susah dapat kerja

“Mbak, mengapa sih, saya susah banget dapat pekerjaan?” Pertanyaan tersebut adalah salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepada saya.

Hm… kasus yang dialami setiap orang bisa berbeda-beda, namun secara umum, saya melihat setidaknya ada 2 faktor penentu yang menentukan cepat atau tidaknya seseorang mendapatkan pekerjaan yang ia cari:

1. Suitability

Seberapa besar kecocokan kualifikasi yang ada pada kandidat itu dengan posisi yang ia lamar

2. Availability

Seberapa besar ketersediaan kandidat itu untuk menerima term and condition yang melekat pada posisi yang ia tuju.

Contoh Term and Condition:

  • Bersedia penempatan di mana saja di seluruh Indonesia
  • Bersedia bekerja lembur
  • Bersedia bekerja shift
  • Bersedia hari sabtu masuk
  • Bersedia dipekerjakan sebagai karyawan outsourcing
  • dlsb

Semakin tinggi Suitability dan Availability yang kita miliki, semakin besar kesempatan kita untuk memperoleh pekerjaan.

Kandidat-kandidat yang memiliki skill set yang tinggi, dan tidak sedang terburu-buru mencari pekerjaan, biasanya ‘boleh’ memiliki availability yang rendah.

“Sorry bu…. Saya hanya tertarik dengan perusahaan multinational, no family business” Jawab salah satu Marketing Manager perusahaan Personal Care Product saat saya share salah satu Opening Position di perusahaan client saya.

Lalu bagaimana dengan kita yang belum punya banyak proven perform experience? Apakah kita juga ‘boleh’ setting standard yang tinggi, sehingga availability kita menjadi rendah? Boleh saja, namun kita harus sadar sepenuhnya resikonya, umumnya, kita tidak akan bisa dengan cepat memperoleh pekerjaan.

Saran saya, analisalah point-point availability kita, check mana bagian yang mandatory, dan mana yang sebenarnya hanya ‘kepengennya’ kita saja. Jika kita sedang sangat butuh pekerjaan, relakanlah untuk melepas beberapa idealisme kita, kecuali untuk hal-hal yang bertentangan dengan keimanan kita.

Gunakanlah availability yang kita miliki untuk memperoleh pengalaman dan keahlian, yang kemudian dapat mendongkrak suitability kita.

Nah, kalau Suitability dan Availability nya sudah tinggi, tapi masih tetap susah juga, harus bagaimana? Apa yang salah?

Satu lagi : (Profile) Visibility

Mudah-mudahan saja hal ini akan dibahas juga besok di acara The Future is Now: Set Your Branding

Sampai jumpa besok di Block71 Jakarta

Let’s Rock!

by Milka Santoso (Headhunter) > https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

10 Cara Upgrade Kualitas

gambar orang upgrade skill yang dimiliki

Salah satu kunci sukses berkarier adalah jangan pernah membiarkan diri stagnan. Anda harus punya motivasi dan keyakinan dan untuk maju. Namun, tak cuma motivasi Anda juga harus punya skill untuk memadai. Ini tak hanya didiamkan begitu saja, Anda harus mengatur dan meningkatkan kemampuan Anda secara efektif. Upgrade kemampuan atau skill akan membuka kesempatan lebih besar untuk meraih posisi puncak, juga akan menjaga Anda terdepak akibat persaingan di kantor.

Intinya, jangan cepat puas dan carilah cara untuk meningkatkan kualitas profesionalisme. Tak ada yang akan menikmati hasulnya selain diri sendiri, kok. Nah, berikut adalah beberapa trik untuk upgrade skill Anda:

1. Nilailah diri sendiri

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya Anda mengawalinya dengan menilai kinerja diri. Penilaian harus obyektif dan realistis. Jika Anda merasa kinerja Anda belum maksimal, nilailah seperti itu. Ambillah kertas, kemudian tuliskan poin-poin tugas apa saja yang Anda hadapi di kantor. Lalu, tanyakan pada diri Anda, seberapa jauh mampu menangani poin-poin tersebut.

Misalnya, jika Anda seorang supervisor IT, tanyakan seberapa cepat Anda mampu mengikuti perkembangan teknologi yang ada saat ini? Tanyakah juga apakah Anda menikmati tugas-tugas tersebut. Daftar singkat ini akan membantu Anda memperoleh gambaran utuh mengenai kinerja Anda sendiri. Setelah diperoleh gambaran utuh, Anda bisa memutuskan aspek mana yang sudah Anda kuasai, dan aspek mana yang perlu ditingkatkan.

2. Terus belajar

Pahamilah bahwa karier profesional merupakan sebuah proses di mana Anda memiliki kesempatan untuk mengikutinya terus menerus. Jadi, gunakan kesempatan ini untuk menguasai kemampuan profesional. Kerjakan semua tugas dengan sebaik-baiknya, ikuti aturannya, cari tahu kelebihan dan kelemahan proses yang Anda ikuti, dan seterusnya. Dengan demikian, Anda akan mampu menjalankan semua tugas Anda dengan baik, saat ini dan di masa datang.

3. Be responsible

Meskipun berada dalam naungan sebuah perusahaan, Anda yang akan menentukan karier. Jadi, bertanggungjawablah dan pastikan bahwa Anda mengambil semua peluang untuk meningkatkan skill profesional Anda. Memperoleh tawaran untuk mengikuti training, seminar, atau keanggotaan sebuah asosiasi profesional? Tak perlu ragu untuk ikut dan bergabung karena skill pun akan semakin jaya.

4. Jaga kinerja

Selain bertanggungjawab, Anda juga harus menerapkan standar pribadi di dalam mengerjakan tugas profesional Anda. Standar inilah yang akan menentukan kualitas kerja. Di sisi lain, kinerja inilah yang akan menjadi dasar kenaikan jabatan atau promosi. Jadi, jangan segan bertanya kepada atasan. Jika memang merasa perlu, mintalah job atau tugas baru yang menurut Anda menantang. Namun, jangan asal meminta penugasan. Ukur kemampuan dan yakin bahwa Anda memang mampu menerima tugas.

5. Jaga hubungan kerja

Meski tampaknya tak terkait langsung dengan skill, menjaga hubungan kerja dengan semua level merupakan salah satu strategi penting untuk mengembangkan kemampuan. Berusahalah agar mampu bekerja dalam tim secara efektif. Gunakan semua contoh dan teori profesional yang Anda punya untuk meningkatkan kinerja. Jika memungkinkan, jadikan diri Anda sebagai salah satu contoh bagi rekan kerja.

6. Ciptakan jaringan

Sisihkan dulu urusan kantor. Kini, saatnya untuk bersosialisasi dan menciptakan jaringan di luar kantor. Anda bisa bergabung dengan komunitas profesional di luar posisi karier, namun tetapi bisa meningkatkan kualitas kinerja Anda. Contohnya, jika Anda seorang akuntan, tak ada salahnya bergabung dengan komunitas bursa. Yakinlah, ilmu dan jaringan yang Anda peroleh dan bina di komunitas itu akan sangat membantu karier di kemudian hari.

7. Carilah mentor

Cara terbaik menguasai sebuah bidang adalah belajar dari ahlinya. Jadi, jangan ragu untuk mencari mentor atau guru. Tentu, bukan dalam arti harfiah. Anda bisa, kok, misalnya “berguru” kepada penulis favorit Anda melalui buku-buku karyanya. Secara tak langsung, Anda akan menguasai ilmu Sang Ahli tersebut dan kemudian Anda terapkan dalam tugas sehari-hari. Tapi, bisa juga Anda langsung meminta petunjuk dari ahli yang Anda kenal.

Yang penting, Anda yakin bahwa “guru” Anda ini memang ahli dan sudah memiliki pengalaman di bidangnya. Kalau perlu, carilah mentor sebanyak-banyaknya. Semakin banyak mentor, semakin banyak ilmu yang bisa diserap, sehingga ketika dihadapkan pada suatu persoalan kerja, Anda memiliki banyak solusinya.

8. Siapkan masa depan

Selalulah bertanya, “Apa yang akan terjadi besok? Bagaimana mengatasinya?” Salah satu ciri pemenang adalah selalu selangkah di depan lebih dulu ketimbang kompetitornya. Ketika kompetitor tengah asyik bergulat dengan persoalan hari ini, Anda sudah mencari solusi untuk persoalan yang muncul esok hari. Cobalah berlatih membiasakan diri untuk berada selangkah di depan. Dijamin, Anda akan menikmati hasilnya lebih cepat dari yang Anda perkirakan.

9. Asah terus skill Anda

Dewasa ini banyak sekali tawaran pelatihan atau kursus singkat untuk semua bidang profesi, dari mulai pelatihan soal keuangan perusahaan, pelatihan program komputer, pelatihan leadership, dan sebagainya. Nah, seperti halnya poin ke-2 di atas, jangan ragu untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, sekalipun tak berkait langsung dengan posisi Anda. Jangan takut untuk mengikuti tes uji kemampuan. Biasanya ketakutan dan keraguan muncul ketika Anda belum melangkah. Begitu melangkah, Anda pasti mampu mengatasi keragu-raguan tadi dengan segera. Pengayaan skill ini sudah pasti akan menjadi poin tersendiri dalam menjalani karier Anda.

10. Jangan lupakan teknologi

Ada banyak sekali situs atau jaringan sosial yang bisa Anda buka dan membantu meningkatkan skill Anda. Cara paling mudah adalah mencarinya di Google. Anda juga bisa bergabung dengan komunitas-komunitas di Facebook atau Twitter. Jika Anda tertarik untuk meningkatkan kemampuan negosiasi, Anda bisa misalnya, “berteman” dengan jago marketing, jika Anda berniat mempelajari program komputer, Anda bisa bergabung dengan komunitas programmer komputer, dan sebagainya.

(Hasto Prianggoro/Tabloid Nova)