Renungan

Arloji Tua

Merasa ajal nya sdh dekat, seorang ayah berkata kepada anak nya: “Nak, Arloji milik ku ini adalah warisan dari kakek buyut mu, usia nya lbh dari 200 thn”

“ Sebelum Ayah wariskan pada mu, Ayah mau kamu bawa Arloji tua ini ke toko jam di seberang jalan itu, katakan kepada pemilik toko bahwa kamu mau menjualnya. Lihat berapa harganya…”

Sang anak pergi tidak lama, lalu kembali dan berkata: “ harga nya Cuma 5 Dolar, karena ini adalah arloji tua…” Kemudian si Ayah berkata: “sekarang coba kamu bawa arloji ini ke toko barang-barang antik dan tanyakan harga nya…”

Si anak pergi lalu kembali dan berkata “ harga arloji ini mencapai 5000 Dollar..”

Sang Ayah berkata: “ sekarang coba bawa ke museum dan katakan ke mereka bahwa kamu mau menjual arloji tua ini..”

Si anak pun pergi, lalu kembali dan berkata “ mereka mendatangkan pakar arloji untuk memperkirakan harga nya, lalu mereka menawarkan kepada ku 1.000.000 Dollar untuk arloji ini…”

Si Ayah berkata; “nak, aku sedang mengajarkan mu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yg tepat, maka jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah, lalu marah karena tidak ada yg menghargaimu…”

Karena mereka yang mengetahui nilai mu, akan selalu menghargai mu,… Maka jangan pernah bergaul di tempat yang tidak layak untuk mu…

post by Wilson Purba, ASL. > https://www.linkedin.com/in/john-wilson-purba/

Jangan Mudah Tergiring Narasi Halus

Artikel ini ditulis pada hari Minggu, 28 Juli 2019. Konten artikel ini relevan pada saat artikel ini ditulis.

Salah satu sifat saya yang paling saya syukuri adalah gak mudah ikut-ikutan sesuatu yang lagi viral atau lagi heboh.

Biasanya kalo ada sesuatu yang lagi rame dibicarakan sama publik, ya saya santai aja, malah kadang gak ngikutin. Ngapain? Nambah angka rekening saya juga kagak kan?

Saya malah jauh lebih tertarik buat mengikuti hal-hal yang terjadi di belakang layar, jauh-sunyi sedang terjadi, dan nyaris gak kita monitor selama ini… yaitu:

Rencana Revisi UU Ketenagakerjaan
(UUTK) Republik Indonesia No. 13/2003

Begitu saya dapet kisi-kisi / bocoran rencana revisinya dari kalangan komunitas para HR, saya jadi merenung sendiri & memikirkan berbagai kemungkinan baru di masa depan.

Saya bukanlah lulusan Hukum & spesialisasi HR saya bukanlah Hubungan Industrial, tapi ijinkanlah saya tuangkan pemikiran & kegelisahan saya itu; tanpa bermaksud sotoy.

Permisi & salam hormat saya pada para praktisi HR yang lain, khususnya spesialisasi Hubungan Industrial / Legal. Mohon koreksinya jika saya ada salah.

Kenapa demikian?

Memang benar, bahwa ini baru rencana revisi. Semua dinamika masih mungkin terjadi. Tapi satu hal yang pasti adalah:

Apa pun perubahan yang terjadi pada pasal-pasal UUTK versi baru di masa depan, itu akan memberikan kekuatan legal-formal lebih besar pada perusahaan & HR, untuk “mengelola” karyawannya. Karena selama ini UUTK versi lama merupakan UUTK yang dirasakan lebih berpihak pada karyawan.

Contoh: pengusaha & HR sering kesulitan mengambil langkah tegas pada karyawan “orang lama” yang merugikan perusahaan tapi belum masuk ke ranah pidana, hanya karena jika mereka lakukan itu, akan lebih rempong & beresiko terkena masalah hukum yang akan menghabiskan banyak uang.

Akhirnya, karyawan tersebut terpaksa dibiarkan eksis di perusahaan, dan akhirnya merusak kultur organisasi. Produktivitas mandeg, dan tingkat keluar-masuk karyawan (turnover) menjadi tinggi. Perusahaan jadi sulit merekrut karyawan berkualitas terbaik, karena karyawan terbaik gak akan mau kerja bareng ama karyawan julid yang terpaksa dibiarkan eksis oleh perusahaan.

Nah, kembali lagi… maksudnya kata “mengelola” ini apa?

Sepemahaman & sepengalaman saya, dan berdasarkan atas kisi-kisi rencana revisi yang beredar; termasuk di dalam definisi “mengelola” adalah:

  1. Menyusun Struktur & Skala Upah benar2 hanya berdasarkan variabel yang lebih sederhana, sesuai dengan kemampuan & kebijakan internal perusahaan; tanpa perlu memperhitungkan masa kerja, kompetensi, latarbelakang akademik, atau atribut profesional apa pun. Bahasa gaulnya: “Ini perusahaan gw, suka-suka gw dong. Loe take it or leave it.”
  2. Memecat karyawan yang melanggar Peraturan Perusahaan, tanpa harus memberikan Surat Peringatan berjenjang & tanpa harus memberikan pesangon atau uang penghargaan dalam bentuk apa pun.
  3. Tidak ada lagi kewajiban perusahaan untuk menjadikan karyawannya berstatus PKWTT / Karyawan Tetap. Kelak, semua status karyawan adalah PKWT / Kontrak selamanya, dan itu legal.
  4. Tidak ada lagi kebijakan Uang Pensiun dan semua bentuk “kenyamanan ketenagakerjaan” yang dulu dilindungi oleh UUTK versi lama.
  5. Posisi HR Manager / HR Head yang dulu diproteksi UUTK untuk hanya boleh dijabat oleh WNI, kini sedang “digoyang” untuk bisa dijabat oleh WNA.

Cukup lima poin dulu ya gaes, kuatir pada gak bisa tidur semua, ha ha ha… Sekali lagi, ini baru kemungkinan-kemungkinan revisi.

Jadi, kesimpulan awalnya adalah:

  1. Bisa jadi di masa depan, mencari kerja terasa lebih mudah, lapangan kerja lebih banyak tersedia, karena industri & investasi baru bertumbuhan. Tapi… kondisi ketenagakerjaan & kekaryawanannya akan seperti pemaparan di atas. Marilah kita terima realitas ini dan beradaptasilah.
  2. Saat ini RI selalu kalah saing dengan negara-negara ASEAN lainnya, karena pengusaha manufaktur di RI paling puyeng tujuh keliling kalo udah harus nanganin soal buruh. UUTK versi baru akan menghilangkan mayoritas kepuyengan itu, sehingga daya saing industrial diharapkan bisa meningkat.
  3. Sepintas, posisi HR akan lebih enak, karena UUTK versi baru akan memberikan kekuatan legal pada HR untuk bertindak dengan “tangan besi” pada karyawan yang udah gak bisa & gak mau lagi diatur sesuai dengan Peraturan Perusahaan. Masalahnya, kata siapa posisi HR aman-sentosa? Kalo Owner atau Direksi lebih suka sama HR Manager bercitarasa WNA, dia bisa kapan pun menggantinya tanpa harus kuatir dijatuhi sanksi oleh Disnaker.
  4. Kelak, karyawan yang ngarep gaji sekian juta hanya karena mereka dari kampus tertentu, atau yang ngarep dapet status Karyawan Tetap karena merasa udah lama bekerja, atau yang ngarep di-PHK duluan sama perusahaan karena tau ada pesangon yang besar… hanya akan jadi kenangan & bahan candaan.
  5. Suka gak suka, HR lokal harus meningkatkan daya saingnya. Itulah sebabnya di kalangan HR, sekarang lagi rame dibahas soal sertifikasi wajib profesi BNSP bagi semua pemegang jabatan / fungsi HR. Biayanya gak murah. Jadi kelak, profesi HR diharapkan akan dipandang setara dengan profesi lainnya semisal dokter, pilot, akuntan, pengacara, psikolog, engineer, dan sejumlah profesi lainnya. Di satu sisi ini positif sebagai standarisasi kompetensi. Tapi di sisi lainnya, ini akan “menyapu” para praktisi HR yang gak sanggup beradaptasi.

Nah… sekarang, mari kita renungkan beberapa hal faktual:

  1. Sekarang ngerti kan, kenapa semua pihak yang kemaren berseteru tajem di Pilpres 2019, sekarang jadi rame-rame ketawa-ketiwi bareng & bikin koalisi gemuk di satu perahu?
  2. Sekarang ngerti kan, kenapa ada sejumlah narasi publik yang bisa bikin emosional & menyulut perdebatan publik, dihembuskan baru-baru ini? Termasuk narasi soal Fresh Graduate yang nuntut gaji 8 juta. Makanya… banyak baca referensi bermutu, jangan nonton sinetron & infotainment mulu… supaya gak gampang kegiring sama narasi-narasi halus tingkat tinggi…
  3. Sekarang ngerti kan, kenapa selama ini saya selalu membicarakan perihal Personal Brand, jati diri, pengembangan diri sendiri secara mandiri (Self Development), menggunakan media sosial untuk berkegiatan & berjejaring (networking) secara positif, dan peningkatan kompetensi utama maupun kompetensi pendukung?
  4. Saya pribadi saat ini sedang dalam posisi gak nyaman, karena harus memecut diri saya sendiri untuk mahir berbahasa Inggris di level percakapan & presentasi. Ini gak nyaman banget buat saya, tapi harus saya lakukan dengan segenap kesadaran akan tanggungjawab saya demi menyongsong masa depan yang semakin gak menentu. Plus gak nyaman juga dari segi kantong, karena harus nabung buat ngikutin sertifikasi profesi HR.
  5. Berusaha mendebat atau menghindari realitas, mengkambinghitamkan umur tua sebagai hambatan karir, ngomelin rekruter tanpa landasan jelas, baper di media sosial, maki-maki pemerintah soal Tenaga Kerja Asing (TKA) & investasi asing, dan sejumlah penyangkalan maupun bentuk depresi lainnya… gak akan menolong siapa pun. Malah bikin kita semakin terperosok. Serius deh…

Sebagai tambahan sekaligus penutup…

Saat artikel ini ditulis, saya sedang berkarya bersama perusahaan yang bergerak di bidang instalasi solusi robotik & otomatisasi bagi pabrik-pabrik di Tanah Air. Kliennya semakin banyak, dan bahkan kalangan HR manufaktur pun mengakui betapa lebih ringannya pekerjaan mereka setelah pabriknya memasang solusi robotik & otomatisasi.

Dari obrolan saya bareng para engineer yang terbiasa melakukan instalasinya, mereka mengatakan bahwa satu sistem solusi robotik & otomatisasi dapat menggantikan minimal 9 orang pekerja.

Misalnya pabriknya terdiri dari 3 shift non-stop, maka tinggal kalikan saja 9 dengan 3. Hasilnya, secara nyata, satu solusi robotik & otomatisasi bisa menggantikan lebih dari 20 orang pekerja manusia.

Balik modalnya investasi robotik itu bisa diprediksi. Paling tidak, pengusaha sudah dapat menikmati titik impas (BEP) pada tahun ke-3 atau ke-4 setelah instalasi sistem. Tingkat kepastiannya tinggi & dapat digaspol 365 hari 24 jam 7 hari seminggu; tanpa rempong soal demo, cuti, sakit, pemogokan, dan urusan-urusan ribets lainnya.

Udah begitu, hasilnya lebih presisi pula, tingkat kesalahan produksi bisa sangat minim. Pun dari sisi Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3), isu-isu negatif & resiko kecelakaan kerja bisa menjadi sangat minim.

Masih kurang? Ada robot yang bisa berjalan seluwes manusia. Ada robot yang bisa membuka-tutup pintu dengan halus. Ada robot yang bisa melakukan pekerjaan konstruksi dengan halus & presisi. Tesla Corporation udah berhasil membuat mobil otonom tanpa pengemudi, bahkan Volvo telah berhasil menguji-coba truk raksasa yang bisa menyeberang ke perbatasan negara lain, tanpa pengemudi.

Di masa depan bukannya mustahil semakin banyak bertebaran mobil yang tidak lagi memiliki roda kemudi di dashboard. Semua penumpangnya bisa tertidur lelap dan hanya tau beres sudah sampai di lokasi.

Bahkan ada sistem hologram yang bisa mereplikasi diri kita, untuk berpidato dengan suara, aksen dan tata-bahasa kita – tapi dalam beberapa bahasa negara lain. Ini gilak…

Jadi, misalnya suatu saat saya diundang buat ngasih seminar di Jepang, santai aja… Gak perlu mati-matian belajar Bahasa Jepang dulu, dan gak perlu membawa penerjemah Bahasa Jepang. Cukup saya berikan speech dalam B. Indonesia, dan hologram dengan wujud diri saya itu yang akan ngomong materi identik, dalam Bahasa Jepang, dengan halus & presisi.

Teknologi itu sudah tersedia sekarang. Iya, sekarang. Bukan beberapa tahun lagi.

Jadi, rekan-rekan sekalian…

Wind of Change, alias angin perubahan, sedang kencang bertiup di pekarangan depan rumah kita semua, dan sedang berusaha menggedor pintu pekarangan belakang kita…

Masihkah kita tertarik buat ngomentarin narasi-narasi gak jelas di luar sana, lalu ceroboh mengantisipasi adaptasi diri kita sendiri di era yang semakin kompetitif & gak menentu ini?

Marilah kita cek, apakah pekerjaan kita bersifat:

  1. Repetitif (sudah tergantikan oleh robot).
  2. Administratif (sudah tergantikan oleh aplikasi di ponsel).
  3. Kuantitatif (sudah tergantikan oleh software).

Jika jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut adalah “Ya”, maka siap-siaplah pekerjaan kita yang paling duluan tersapu oleh sistem otomatisasi, robotik, software, aplikasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).

Kira-kira, apa saja hal-hal yang perlu kita tingkatkan di masa depan?

  1. Kewaspadaan sosial (Social Awareness) & kewaspadaan pribadi (Self Awareness), dengan terus melahap informasi & pengetahuan bermutu tinggi dari sumber2 yang kredibel.
  2. Kemampuan bahasa asing, minimal Bahasa Inggris. Minimal sekali bisa buat baca referensi berbahasa Inggris dulu aja, sebagai tahap pertama. Nanti berangsur mahir hingga tahap percakapan.
  3. Akan banyak petuah karir gaya lama yang gak berlaku lagi di masa depan. Yakinkanlah bahwa kita mendapatkan bimbingan karir dari mentor yang tepat, bukan mentor yang bisanya hanya membangga-banggakan pencapaian karir pribadinya di masa lalu.
  4. Targetkanlah minimal penguasaan satu keahlian baru per bulannya. Kita akan terkejut sendiri dengan betapa mahirnya kita akan satu atau beberapa hal, di akhir tahun. Ini jauh lebih berharga daripada Tunjangan Hari Raya (THR) atau bonus performa.
  5. Fokuslah untuk terus membangun jati diri (Personal Brand), kompetensi utama, kompetensi pendukung, jejaring sosial & hubungan baik yang solid dengan banyak orang, kemampuan wirausaha & bisnis, dan kemampuan kita untuk lincah beradaptasi dengan berbagai perubahan.

Akhir kata… marilah kita terus berdoa, agar kehidupan ini bisa kita jalani dengan sebaik-baiknya; betapa pun sulitnya kondisi kehidupan pribadi yang kita hadapi saat ini.

Setelah berdoa, saya yakin rekan-rekan akan lebih siap menghadapi betapa gak menentunya realitas masa depan…

Bahwa suatu saat… mana tau, di kantor kalian akan duduk HR Manager, GM HR, atau HR Director bercitarasa Steak, Kari, CapCay, Teriyaki, Kimchi, atau Nasi Lemak…

By Peter Febian > https://www.linkedin.com/in/peter-febian-183a6b52/

Passion Saja Tidak Cukup

Beberapa bulan lalu saat saya , Pak Peter Febian dan Pak Rio Tinto Sirait sedang sharing ke anak-anak muda di dalam sebuah forum. Salah satu peserta bertanya soal Passion. Benarkah dengan memiliki Passion kita akan bahagia menjalankan aktifitas yang saat ini kita tekuni? Lalu saat kita merasa tidak bahagia apakah itu bukan Passion kita?

Sebetulnya soal “Passion” bukanlah hal yang baru yang kita dengar. Banyak banget buku-buku pengembangan diri yang membahas ‘mahluk’ ini. Namun konsep Passion dipatahkan mentah-mentah oleh Cal New Port dalam buku yang dikarangnya berjudul Don’t Follow Your Passion.

Sebab menurutnya passion baru ada/muncul ketika kita sudah mendalami apa yang sudah lama kita kerjakan. Jadi bukan passion dulu baru mencari dan menjalani pekerjaan yang kita sukai, namun sebaliknya. Menjalani pekerjaan terlebih dahulu hingga menjadi mahir dan terbiasa lalu munculah sebuah passion didalam hidup kita. Sehingga dalam prosesnya tidak selamanya enak ada jatuh bangun dan tanggung jawab yang perlu ditempuh.

Well, daripada kita berdebat soal Passion saya ingin menawarkan konsep lain yaitu IKIGAI. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh orang-orang Okinawa, Jepang. Secara sederhana diartikan sebagai a reason for wake up or for being atau alasan untuk bangun pagi atau hidup.

Secara lebih singkat bisa diartikan sebagai tujuan hidup kita. Lebih dalamnya lagi IKIGAI adalah makna hidup kita, panggilan jiwa kita. IKIGAI lah yang membuat seseorang bangun pagi dengan bersemangat. IKIGAI LAH yang membuat seseorang mampu menikmati hidupnya dengan puas dan bahagia. Pertanyaan saya, apa IKIGAI kamu? Untuk memudahkannya mari kita bedah satu persatu.

Terdapat empat elemen kunci yang membentuk konsep IKIGAI diantaranya PASSION, MISSION, PROFESSION dan VACATION. Ketika tujuan hidup kalian sudah bisa menggabungkan empat hal tersebut, maka itulah yang disebut dengan IKIGAI. Nah, untuk bisa menemukannya, kamu kudu menjawab dulu beberapa pertanyaan kunci mengenai IKIGAI ini. Sudah siap?

Pertama kita memulai dari pertanyan, Apa yang kamu sukai bahkan cintai? Dimana kamu bisa menjadi lupa waktu dan semangat dalam melakukannya?

Kedua, kemampuan apa yang kamu kuasai? Aktifitas apa dimana kamu mahir dalam melakukannya?

Di bagian ketiga, apa yang dunia atau pasar butuhkan? Adakah yang mau mendengar, membaca, membeli apa yang kita lakukan?

Pertanyaan keempat adalah, kamu dibayar karena melakukan apa? Apa pekerjaan yang dimana kamu dapat bayaran? Apakah yang kamu lakukan mendapatkan bayaran?

Nah….. Perpaduan antara apa yang kamu sukai dan apa yang kamu mampu lakukan inilah yang disebut dengan Passion. Lain lagi dengan perpaduan antara apa yang kamu sukai dan apa yang dunia butuhkan dinamakan MISSION. Sedangkan antara yang kamu mampu lakukan sekaligus mendapatkan gaji disebut dengan PROFESSION. Dan terakhir perpaduan antara yang dunia butuhkan dengan dapat kamu lakukan agar mendapat bayaran disebut dengan VACATION.

Nah disaat bersamaan melakukan PASSION & PROFESSION, kamu akan merasakan puas namun masih kurang bermanfaat. Ketika menjalankan PASSION & MISSION, kamu merasa senang dan sempura. Sayangnya, kamu masih kurang sejahtera. Ketika pekerjaanmu sudah memenuhi MISSION dan VOCATION, mungkin kamu akan gembira dan puas diraih. Tapi kamu penuh keraguan. Saat VOCATION & PROFESSION dijalani, sudah pasti kamu nyaman. Tapi efeknya, kamu menjalani kekosongan. Sebab kamu tidak mencintai apa yang kamu lakukan.

Itulah kenapa diawal saya katakan Passion saja tidak cukup. Yuk! Mari pelan-pelan kita mengassement diri kita untuk mencari apa sebenernya IKIGAI kita.

by Aristha J. Kusuma > https://www.linkedin.com/in/aristhajkusuma/

Pilih Bekerja sesuai Passion, atau Bekerja dengan Passion?

Passion, atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai “renjana”, merupakan satu kata yang paling sering dibahas oleh para peniti karier.

Kepedulian sekaligus kegalauan mereka biasanya seputar apakah lebih baik mereka mati-matian mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion, atau mengerjakan apa saja yang penting bisa mencari nafkah.

Marilah kita lihat sejenak realitas di dunia ini…

Yuk kita cek angka rekening kita, dan cek seberapa banyak atau seberapa besar tanggungan hidup kita.

Jika kita terlahir dari keluarga kaya yang makan pun menggunakan piring dan sendok-garpu perak, maka sah-sah saja jika sejak kecil kita sudah berusaha mengejar passionatau mengerjakan hanya pekerjaan yang kita sukai saja.

Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak seberuntung itu…

Isi rekening pas-pasan, jika tidak mengerjakan sesuatu yang produktif maka isi rekening tersebut bisa tersulap, dari yang tadinya angka lalu berubah menjadi kata “maaf, saldo Anda tidak mencukupi”; atau kita harus menanggung seorang atau beberapa orang untuk bertahan hidup dari penghasilan yang kita hasilkan.

Jika kondisinya demikian, maka kita harus mengerjakan apa pun yang dapat kita kerjakan, tanpa peduli apakah itu merupakan passion kita atau bukan; tentunya selama halal.

Di saat itulah, kita harus bekerja dengan passion. Bukan bekerja sesuai passion, pada awalnya.

Lalu, apakah kita bisa melakukannya? Ada orang yang bisa, ada yang tidak bisa. Kembali lagi, ini masalah pilihan hidup.

Nah, yang seringkali luput dari perhatian kita semua adalah bahwa yang sebenarnya membuat kita sukses mencapai puncak kehidupan, sebenarnya adalah kompetensi. Bukan passion.

Karena Passion Tanpa Kompetensi adalah Omong Kosong Belaka

Jika kita bekerja sesuai passion namun lupa membangun kompetensi utama maupun kompetensi pendukung yang terkait dengan passion tersebut, maka apa yang kita lakukan tersebut tidak akan optimal dan tidak akan membuat hidup kita menjadi sesukses cita-cita awal kita.

Dengan kata lain, jauh lebih penting dan bernilai jika kita terlebih dahulu membangun kompetensi dari apa pun yang kita lakukan, baik kompetensi utamanya maupun kompetensi pendukungnya.

Kompetensi utama dan kompetensi pendukung itulah yang akan membuat kita bisa naik ke tangga kehidupan hingga ke atas. Jika kelak kita telah sukses dan memiliki keleluasaan uang dan waktu, barulah kita bisa melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, dan isi rekening tetap enak dilihat.

Sekali lagi, ini adalah pilihan hidup kita masing-masing. Tidak semua orang terlahir dengan keberuntungan lebih, dan tidak semua orang langsung mengenali passion dirinya sejak awal.

Saya sudah melihat cukup banyak orang yang sukses baik sebagai karyawan maupun sebagai pengusaha, yang sebenarnya melakukan hal yang bukan passion dirinya.

Namun, mereka terlihat sangat berkompeten dan mereka bisa sukses karena mengerjakan apa pun dengan passion, bukan melulu harus sesuai passion. Inilah makna paling hakiki dari ketekunan dan konsistensi.

Sebagai gambaran, dulu jaman saya kelas 3 SMP pada tahun 1993, saya sudah hobi berat elektro. Namun, saya tidak kunjung bisa menaklukkan pelajaran matematika dan fisika.

Hasilnya, saya hanya hobi elektro dan hanya bisa membuat rangkaian elektro. Saya tidak bisa merancang sirkuit elektro karena tidak menguasai kompetensi utamanya, yaitu matematika dan fisika.

Sudah jelas sejak awal, saya tidak mungkin masuk kuliahan jurusan elektro dan tidak mungkin membangun karier yang stabil di bidang elektro.

Lalu saya pun membangun kompetensi di bidang lain, yaitu menulis (jurnalistik) dan presentasi (Pelatihan & Public Speaking). Saya pun semakin mahir di bidang itu.

Kompetensi utama dan kompetensi pendukungnya utuh terbangun, dan kini saya bisa menikmati karier maupun interaksi sosial yang membahagiakan, berkat dua kompetensi tersebut, yang kemudian berubah menjadi passion saya dan sekaligus juga tiang utama kehidupan saya.

Apakah awalnya saya passion di bidang elektro? Ya, passion banget. Tapi, apakah saya berkompeten di bidang elektro? Jelas tidak.

Apakah awalnya saya passion menulis dan berbicara di depan publik? Nggak banget, apalagi saya termasuk introvert. Tapi, apakah saya berkompeten di kedua hal itu? Jelas iya, berkompeten.

Pada akhirnya, kompetensi berubah jadi passion, dan itu sama sekali tidaklah masalah.

Itulah sebabnya, mengapa proses mengenali passion maupun kompetensi kita sejak awal, amatlah sangat penting. Passion dan kompetensi adalah komponen penting dari struktur jati diri kita (Personal Brand). Pemahaman dan pengenalan jati diri inilah yang masih saya jumpai nol atau bahkan minus di kalangan Fresh Graduate, pencari kerja, dan peniti karier.

Untuk mengenali passion dan kompetensi kita, kita harus banyak melakukan eksplorasi diri, perenungan, dan banyak mencoba hal-hal baru. Butuh keberanian, konsistensi, dan ketekunan untuk melakukan hal itu.

Sayangnya, mayoritas orang malas dan enggan melakukannya. Akhirnya mereka pasrah saja menjalani hidup secara gamang dan galau, dan menyerahkan nasib maupun perjalanan hidup mereka pada komando dan jalan hidup orang lain.

Gamang apakah harus bekerja sesuai passion atau bekerja dengan passion. Galau apa sajakah kompetensi utamanya dan kompetensi pendukungnya.

Akhirnya menjalani karier secara serabutan, namun gagal merengkuh kompetensi yang penting dan dapat dijual bagi pasar tenaga kerja. Mencari kerja dan menjalani karier pun menjadi proses yang melelahkan dan menyakitkan.

Marilah kita terus mengenal diri sendiri, menantang diri sendiri, dan mendorong diri kita sendiri untuk berani melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah kita lakukan. Begitu kita benar-benar memahami apa kelebihan dan keterbatasan kita, only sky is the limit.

Itu adalah tugas kita sendiri. Bukan tugas pemerintah, bukan tugas bos, bukan tugas perusahaan, dan bukan tugas HR atau rekruter.

by Peter Febian > https://www.linkedin.com/in/peter-febian-183a6b52

Passion : Nature VS Nurture

Kita pasti sering mendengar istilah passion. Passion gampangnya adalah sesuatu yang tidak pernah kita bosan untuk melakukannya. Sedikit sharing, sewaktu kuliah saya memiliki passion untuk bisa berkarir di industri migas. Berbagai macam pelatihan, seminar serta organisasi saya ikuti demi mewujudkan passion saya berkarir di migas. Kenapa migas, kenapa gak yang lain? Banyak hal, tapi salah duanya ialah saya senang mempelajari industri perminyakan dan tidak munafik, karena gaji dan prestige.

Ketika lulus, saya mencoba mendaftar di beberapa perusahaan migas, namun hanya keterima di salah satu subcon migas sebagai H2S Engineer. Ketika saya berdiskusi dengan orang tua, orang tua tidak merestui saya untuk berkarir di industri migas yang mewajibkan kita untuk bekerja di offshore. Atas pertimbangan yang matang, saya akhirnya memutuskan untuk tidak menekuni passion alami saya tersebut, namun malah menerima pekerjaan sebagai MT di perusahaan manufaktur.

Sempat berfikir, mimpi saya punah karena tidak bekerja sesuai passion saya, terlebih tidak pernah terpikirkan sebelumnya bekerja di perusahaan packaging untuk makanan dan minuman karena saya berfikir akan berat ketika bekerja tidak sesuai passion. Namun nasib berkata lain. Waktu demi waktu saya lewati, dan sebuah kegiatan yang dinamakan ‘improvement’ sangat membuat saya enjoy dan bersemangat, hal ini tidak lepas dari pengaruh lingkungan pekerjaan manufacturing yang memang tidak pernah lepas dari improvement.

Saya mulai menumbuhkan serta memupuk passion saya terhadap lingkungan kerja manufacturing. Saya tertular virus improvement dan tanpa merasa terpaksa dan bosan dalam melakukannya. Saya tidak pernah menyangka passion alami saya kalah terhadap passion baru saya ini. Harapan serta mimpi saya pun berubah selama menekuni karir di perusahaan manufacturing.

Akhirnya saya memahami, terkadang kita tidak bekerja sesuai passion kita dan terpaksa untuk berkarir di bidang atau industri lain. Namun percayalah, seiring waktu berjalan, maka kita pasti akan menemukan kesenangan serta keasyikan tersendiri menggeluti pekerjaan kita sekarang diluar passion kita, dan membuat pekerjaan tersebut menjadi sesuatu yang tidak pernah membuat kita bosan untuk melakukannya. Semoga sukses mencari passion anda.

by Fahmi Ramadhan Putra > https://www.linkedin.com/in/fahmi-ramadhan-putra-08311b86

Kalidawir

Jumat ini saya menerima tamu istimewa. Mas Bambang. Vice President baru di kantor. Baru 7 minggu. Masih muda. Umurnya 37 tahun.

Apa yang istimewa?

Bukan karena dia malang melintang di dunia venture capital di Amerika. Bukan karena dia punya background financial dan investment yang kuat. Bukan karena banyak startup Indonesia yang telah ia bantu.

Yang menarik adalah cerita soal listrik.

“Saya baru merasakan listrik di umur 18 tahun”.

Mas Bambang lahir di Kalidawir, Tulungagung. Daerah gunung. Sangat ndeso. Didepan rumahnya masih ada hutan. Hiburannya cuma ngelihatin kalong.

Indonesia perlu berumur 55 tahun baru bisa masuk listrik. Sampai sekarang pun disana belum ada sambungan telpon.

Sewaktu sekolah, Mas Bambang ga pernah pake sepatu. Karena emang ga mampu. Setiap hari harus jalan kaki 8 km. Sampe sekolah? Belum. Itu baru ke jalan raya tempat nyegat angkutan umum.

Ketika SMA, gurunya memaksa dia turun gunung. Dia akhirnya ngekos. Sambil bekerja jadi tukang kebun, kuli bangunan, sampai tukang konveksi. Apa saja yang penting bisa sekolah.

Cita-citanya sederhana: Jadi kasir. Setidaknya nggak jadi tukang bangunan atau buruh sawit di Malaysia. Seperti cita2 anak muda di kampung nya.

Guru yang sama memberikan perintah gila: kamu harus kuliah.

Berbekal baju bekas almarhum Bapaknya dia merantau ke Jakarta. Mencoba daftar UMPTN. Coba ke UI, gagal.

Untung ada universitas swasta yang mau menerima dia. Full beasiswa. Sisanya tinggal cerita.

Karena tekun, studinya lancar dan exchange keluar negeri. Setelah lulus, Ia bekerja di Roma, Australia. Kota kecil yang penduduknya cuma 7 ribu. Separuh pengunjung mall di Jakarta.

Hanya betah beberapa bulan. Alasannya sederhana:

“Disana ga bisa jumatan”.

Lalu mulailah dia berkarier di sektor korporasi multinasional. Dari Jakarta sampai San Francisco. Hingga saat ini, jadi Vice President di startup decacorn Indonesia. Setelah 6 tahun hidup di Amerika.

Saya belajar dua hal.

Pertama tentu tentang rahmat Tuhan yang ada pada kesabaran. Karena seperti janji Tuhan: bersama kesulitan, ada kemudahan. Tinggal kita yang harus berusaha. Melakukan upaya terbaik yang kita bisa.

Kedua, sekali lagi saya melihat: bukti ilmu meninggikan derajat. Persis cerita laskar pelangi atau 9 Summers 10 Autumn. Bocah gunung bisa koq punya kompetensi world class.

Asal dididik dengan tepat. Punya kemauan kuat. Dikelilingi lingkungan yang tak menghujat. Ditambah doa pembawa berkat.

Jika hidup kita masih miss queen, maka kita wajib bertanya: berapa buku yang sudah kita baca? Berapa seminar/pelatihan yang sudah kita ikuti? Berapa guru yang sudah kita kunjungi?

Jika kita ingin kehidupan yang lebih baik, ya kita harus belajar dan mencari ilmu yang lebih banyak.

Bukan dengan marah-marah sambil demo menyalahkan pemerintah atau kaum zionis wahyudi mamarika.

Karena Investasi terbaik untuk mengusir kemiskinan adalah pendidikan.

by Yoga Ps > https://www.facebook.com/fb.yoga

Duit, Ujian Pertama

Lama tak kontak, dia nongol mendadak sontak. Ngajak ngopi, mau testimoni. Ini dia narasinya:

“Zaman team leader berijasah SMA, bapak dorong saya kuliah sembari kerja. Agar karir ke depan lega. Jungkir balik ngatur waktu dan biaya. Lulus sarjana. Didorong apply internal vacancy jadi supervisor. Saya lulus, lalu dipromosi dan kecewa. Merasa dibohongi. Pangkat naik, kok penghasilan tercekik. Tanggung jawab hebat, duitnya ngadat. Mending jadi team leader, full lembur duitnya dobel. Gaji supervisor tanpa mumet. Percuma sekolah!” kami tertawa.

“Nolak dipromosi! Sepekan lewat, bapak kasih tahu saya: Kamu keren setelah mengembangkan diri. Punya opsi nolak-nerima promosi. Berpeluang alami transisi. Dari fase pekerja yang dihargai berbasis waktu, ke fase dihargai berbasis kontribusi. Fokus selisih duit? Tetaplah pada skema lembur sepanjang karirmu. Pilihan baik. Jika nilai kontribusi yang jadi fokus, duit itu bisa berkali lipat dalam waktu cepat. Pilihan baik,” lanjutnya sembari nyruput kopi.

Ia sodorkan kartu nama. Posisi GM di perusahaan ternama. “Momen itu saya selalu ingat. Fokus pada duit semata bisa membutakan” simpulnya. Career Development bisa berbentuk pekerjaan ekstra yang tak ada duitnya.

Hati2 ngurus duit disana. Rawan jebakan.

by Wisudho Harsanto – https://www.linkedin.com/in/growinstitute/

Manipulasi CV, Boleh-kah?

Bisa berkarir di deket rumah & keluarga? Saya yakin itu impian mayoritas pekerja…

Bahkan mereka yang di masa lalunya menikmati hidup di perantauan pun, suatu saat akan mendambakan kehidupan sederhana di sekitar domisilinya…

Demikian juga dengan saya…

Pindah domisili ke Jawa Tengah, bikin saya mimpi pengen dapetin kerjaan di deket kota kediaman…

Iya betul, gajinya gak akan sebesar Jakarta. Gak apa2…

Iya betul, cara berpikir orang2nya & kultur organisasinya gak akan kaya Jakarta. Gak apa2…

Iya betul, kebanyakan kantornya Sabtu masuk kerja. Gak apa2…

Multitasking ngerjain kerjaan beberapa departemen, dengan gaji UMK? Siappp Komandan… (sambil berdehem getir)

Bisa ngawasin para Sales & bikin omset meningkat dalam waktu singkat? Siappp Juragan… (sambil keringet dingin)

Saya udah ikhlas & ikhtiar mengorbankan banyak hal, demi bisa bekerja di dekat kediaman…

Tapi… ternyata oh ternyata… penolakan demi penolakan dari rekruter, menikam hatiku… ciehhh melowdrama neh…

Maaf Anda overspek… (padahal ngobrol aja belom)

Sori ya Pak, kantor ini gak bakalan kuat ngegaji Anda… (padahal belom ngomongin angka)

Deuh Pak, ini keahlian & pengalaman Anda gak akan laku di daerah… (balik badan sambil ngelus dada & kantong)

Hingga suatu malam, saya dapet ide yg saya kira cemerlang, yaitu: Melakukan downgrade pada CV saya. Semua label jabatan masa lalu yg mengandung konotasi “Kepala” atau “Pemimpin”… hilangkan…

Ganti jadi Staff aja, atau maksimal “Koordinator”…

Bahasa CV diganti pake B. Indonesia, supaya lebih nasionalis…

Semua prestasi & pencapaian masa lalu, saya hapus… (sambil mengusap air mata) Pokoknya… saya harus keliatan sebagai rakyat jelata yg biasa2 aja…

Setelah CV jadi, saya puas dengan “kebohongan yg rendah hati” itu… saya yakin, ini bikin saya lebih cepet dapetin kerja di daerah…

Suatu hari, ada Job Fair di kabupaten tetangga… wih oke neh keliatannya… daftarrr… Ikutan antri gerbang masuk bareng dede2 gemes khas daerah yg baru lulus kuliah… sementara cuman saya sendiri yg rambutnya beruban… hmmm…

Koq hidup gw gini2 amat ya… bisikku membatin…

Berbekal CV di flashdisk & puluhan amplop coklat yg udah lebih keliatan “empatik” dengan kondisi ketenagakerjaan di daerah… saya berburu lowongan…

Mata saya tertuju pada booth sebuah biro pelatihan & konsultasi SDM, yg membuka lowongan sebagai Trainer…

Jiahhh, ini diaaa… sikattt…

CV pun saya drop di situ dengan mata berbinar, dan meyakinkan rekruter manis yg berjaga di situ buat memberikan saya kesempatan interview…

Betapa pun mereka mutlak butuhnya Trainer yg lulusan Psikologi…

Ah bodo amat… ayooo wawancara saya duluuu Mbakkk… plisss…

“Oke Pak Peter, wawancaranya nanti jam 14.00 ya, dengan Pak Dominic Toretto (nama sebenernya saya udah lupa)” ujar si Mbak, seakan luluh dengan kegigihan saya…

Saya lihat di profil perusahaan, ternyata Pak Toretto adalah pendiri biro ini, dan menyandang gelar Doktor Psikologi… Hmmm… gumamku dalam hati… semoga lulus neh ya, serem juga diwawancara sama seorang Doktor penerawang jiwa…

Jam 14.00 berdentang, saya pun dipanggil masuk ke ruangan wawancara…

Pak Toretto memakai jas coklat, tinggi, ramping, sudah banyak uban, berkacamata, lumayan ramah…

Setelah bersalaman, dia membaca CV saya dengan cepat, dan melayangkan beberapa pertanyaan standar khas wawancara…

Saya bisa menjawab semuanya dengan mulus…

Hingga ada satu momen di mana dia membaca CV saya dengan lebih seksama… dan menatap saya dengan tajam sambil bertanya…

“Pak Peter, saya merasakan ada yg gak sinkron antara Pak Peter di hadapan saya, dengan apa yg tertulis di CV ini.” Tanpa sadar, saya menelan ludah…

“Maaf, maksud Bapak gimana ya persisnya?” jawabku berusaha meredakan ketegangan & mengulur waktu…

Sambil membetulkan letak kacamatanya, dia berkata… “Ayolah Pak Peter, saya tahu koq, Bapak ini dulu pernah mengemban tanggungjawab besar dalam pekerjaan…”

“Saya gak percaya isi CV ini yg menceritakan seolah-olah sepanjang karir Anda mandeg di level Staff atau Koordinator saja…”

Saya berusaha melemaskan lidah yg kaku dan mengumpulkan keberanian buat menjawab…

“Tapi kalo kenyataan yg saya alami memang begitu, mau gimana lagi ya Pak?

Makanya kan saya nyoba berkarir di daerah. Selaen supaya deket rumah, semoga juga bisa jadi hal yg bagus buat kemajuan perusahaan & karir saya,” jawabku dengan tenang, seolah berusaha memanipulasi seorang Doktor Psikologi…

Matanya masih lekat menatapku, ekspresinya seolah gak percaya… “Boleh saya tau Pak, dari mana Pak Toretto bisa menyimpulkan bahwa CV saya gak sinkron dengan diri saya?”

Seketika Pak Toretto tertawa ringan, seolah puas bahwa penerawangannya jitu… “Pak Peter, kita sama2 tau lah ya, kata2 itu bisa kita rekayasa, tapi tidak dengan bahasa tubuh, ekspresi, intonasi, dan pilihan kalimat kita…”

“Saya kan kerjaannya ngurusin orang2… saya tau lah orang itu pernah ada di level mana dalam hidupnya…”

Seketika itu saya tercenung, pertahanan saya habis…

Menyesali kelupaan saya untuk juga merekayasa bahasa tubuh, ekspresi, intonasi suara, dan pilihan kalimat saya; supaya sinkron dengan downgrade CV yg saya lakukan…

Walaupun saya tahu… bahwa yg sanggup melakukan rekayasa interview tuh biasanya agen intelijen… bukan agen elpiji yaaa…

“Pak Peter… kami sih jelas gak bisa menerima Bapak, karena kami nyarinya yg lulusan Psikologi…”

“Tapi pesan saya hanya satu, Pak Peter…”

“Jangan pernah menyangkali pencapaian hidup kita dan menyembunyikan jati diri kita, hanya demi sebuah pekerjaan…”

Betapa pun saya lupa nama aslinya, tapi saya gak lupa dengan raut mukanya… terutama ketika dia menanamkan amanat terpenting itu…

Sorenya, saya tinggalkan arena Job Fair itu dengan satu tekad bulat…

Saya tidak akan pernah melakukan downgrade, apalagi upgrade, terhadap CV saya lagi…

Stay true to yourself… bahkan ketika itu menyulitkan kita pada awalnya…

Karena saya telah membuktikan, bahwa ketidakjujuran atau upaya kita untuk menutupi sesuatu, toh gak lantas bikin kita lebih mudah diterima kerja. Saya tahu sekali, banyak pencari kerja yg melakukan rekayasa pada CV & perjalanan karirnya…

Beberapa di antara mereka bahkan terang2an mengakuinya pada saya…

Lakukan downgrade CV demi mendapatkan pekerjaan yg tingkatan strukturnya ada di bawah pekerjaan sebelumnya…

Atau upgrade CV supaya karirnya keliatan keren, tanpa cacat, selalu menang, dan semulus pualam; demi mengesankan jenis rekruter yg sering pingsan akibat mudah kagum pada hal2 artifisial & kasat mata dari seorang pelamar…

Pernah berbohong, langsung ketahuan, dan “ditampar” oleh seorang kaliber pro yg gak bisa saya manipulasi; akhirnya saya punya satu keyakinan bahwa…

Tuhan memberkati orang-orang yg berani… Berani jujur pada dirinya sendiri & nuraninya, beserta semua kelebihan & kekurangannya… Berani membawa jati dirinya ke mana pun dia pergi & apa pun yg dia hadapi… Berani menerima kenyataan, bahkan walaupun itu berupa kekalahan paling pahit & hina sekali pun…

Saya udah lama berdamai dengan realitas, bahwa saya masih harus jadi anak rantau… …dengan tegar meninggalkan anak bungsu saya menangis penuh kepedihan, setiap kali ojek berhelm ijo-item ngejemput & nganter saya menuju ke terminal atau stasiun…

Dengarkan selalu nurani, perkuat jiwa kita… dan lenturkanlah pikiran kita… Karena akan selalu ada damainya pelangi di balik setiap kesulitan…

Akan selalu ada telaga yg tenang setelah badai kehidupan menerpa kita… Akan selalu ada indahnya kicau burung setelah penghakiman hidup ini menyelesaikan dakwaannya pada kita…

Kapankah tibanya semua itu? Hanya Tuhan sajalah yg Maha Tahu… Jangan pernah mendikte Tuhan, bahkan dalam doa paling lembut sekalipun…

Jangan pernah melupakan jati diri kita, sesulit apa pun kita membawanya… Karena hidup ini terlalu singkat untuk hanya berusaha menyenangkan semua orang… semua bos… semua rekruter… di atas pengorbanan nurani, jati diri, dan karakter kita…

Bangunlah & perkuatlah jati diri, maka itu otomatis akan terpancar di CV kita… Isilah pikiran kita dengan pengetahuan dan isilah jiwa kita dengan kompetensi2 terbaik, maka itu otomatis akan terpancar di bagaimana kita menjalani wawancara…

Upgrade-lah selalu diri kita seutuhnya… maka hasilnya otomatis akan terpancar & terlihat oleh orang paling awam sekali pun…

Jika pekerjaan itu memang ditakdirkan buat kita, betapa pun gak mulusnya proses kita menjalani tahapan rekrutmennya; pekerjaan itu akan tetap menjadi jodoh kita…

Jika pekerjaan itu memang gak pernah ditakdirkan buat kita, apakah kita telah menjalani semua tahapan rekrutmennya dengan sempurna tanpa cacat pun; pekerjaan itu tetap gak akan pernah menjadi jodoh kita…

Ada sejumlah hal yg dapat kita kuasai, dan ada sejumlah hal yg gak akan pernah bisa kita kendalikan…

Downgrade CV, apalagi upgrade CV (yg lebih tercela); gak akan pernah bisa memanipulasi takdir, garis tangan, dan perjodohan…

Sama halnya seperti saya yg gak bisa memanipulasi Doktor Dominic Toretto…

by Peter Febian – https://www.linkedin.com/in/peter-febian-183a6b52/

Tiga Bulan Pertama

Konon 3 bulan pertama di perusahaan baru adalah masa-masa paling crucial bagi pekerja yang baru masuk ke perusahaan baru. Beberapa teman saya menyebutnya masa pencobaan, bukan masa percobaan 🙂

Saya juga beberapa kali mengalaminya, saya ingat waktu pertama kali bergabung di MENSA GROUP, di tim Pak Andhi Kurniawan. Seumur-umur tidak ada yang berani bilang saya itu bodoh, tidak ada yang berani bilang saya itu lambat, tapi bekerja di bawah kepemimpinan Pak Andhi, membuat saya menyebut diri saya sendiri : “bodoh dan lambat!”. Kenapa? Karena saya merasa Pak Andhi itu orangnya smart, dan kerjanya begitu cepat. Ralat: kerjanya begitu Turbo! Saya yang sudah biasa kerja dengan cepat di pekerjaan-pekerjaan sebelumnya, jadi merasa saya lambat, ketika saya bergabung di tim beliau. Saya bahkan sempat berpikir: Apakah mungkin dia itu Astro Boy?

Butuh waktu yang tidak sebentar sebelum akhirnya saya bisa menyamakan ritme kerja saya dengan beliau.

Di pekerjaan-pekerjaan berikutnya juga demikian, saya ketemu dengan bos baru, atasan baru, tim kerja baru, yang semuanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Saya beberapa kali menghadapi resistensi, dicibir orang, kepentok sistem dan lain sebagainya. Saya tidak bisa menggunakan kunci sukses saya di perusahaan lama untuk langsung sukses di perusahaan baru. Meski merek gemboknya sama, tapi ada bagian yang harus dikikis dulu (dari anak kunci yang saya punya), untuk dapat membuka gembok yang baru. Saya cukup yakin, sebagian besar dari Anda juga mengalami hal yang sama.

Dan kemudian pertanyaannya adalah: sediakah kita dikikis? Sediakah kita menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru? atau nyerah aja deh, kirim CV ke eva.lim@greattogreat.com

🙂

Dear Great People, Jangan cepat menyerah, jangan mudah memutuskan untuk segera pindah kerja lagi, apalagi usia kerja Anda di tempat sekarang, baru seumur jagung.

Saya tahu 3 bulan pertama itu tidak mudah, tapi mari berikan waktu untuk perusahaan dan juga diri Anda sendiri untuk menyesuaikan diri.

Perhatikan 4 hal ini:

1. Jangan membanding-bandingkan

Jangan bandingkan perusahaan baru Anda dengan perusahaan lama Anda, apalagi jika yang Anda bandingkan adalah kekurangan di tempat yang baru, dan kelebihan di tempat yang lama.

Bukankah Anda sendiri yang telah memutuskan untuk pindah? Terimalah konsekuensinya secara jantan.

Lagipula belum tentu juga, secara keseluruhan tempat baru Anda lebih buruk dari tempat yang lama. Berilah waktu untuk Anda dapat melihat semuanya.

2. Pastikan Anda membawa gelas kosong, bukan gelas penuh

Jangan sok tahu. Jangan mudah menggeneralisasikan, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Kadang ada hal-hal yang penting, terkait dengan values dan culture organisasi, yang tidak dapat Anda temukan di dalam dokumen manapun. Padahal hal itulah yang dapat menjadi kunci sukses Anda di perusahaan ini. Sabarlah, tarik nafas, berikan waktu.

Sadari bahwa organisasi tempat Anda baru bergabung saat ini, adalah organisasi yang unik, yang punya keunikannya tersendiri.

3. Jangan malu bertanya

Pastikan Anda punya Ensiklopedia. Seseorang yang dapat Anda jadikan tempat bertanya di kantor. Jalinkan hubungan baik dengannya. Jangan hanya lakukan pendekatan formal, lakukan juga pendekatan informal, ajak makan, belikan kue, sampaikan kata-kata yang menunjukkan perhatian. Misal: ” Sudah jam makan siang, kamu nggak makan dulu?”, “Oke, sampai besok, hati-hati di jalan ya”, “Anakmu sekarang sudah kelas berapa?” dan lain sebagainya.

Pastikan Anda lakukan dengan tulus, jangan cuma karena ada maunya saja.

4. Sedialah untuk Berubah

Untuk sukses di perusahaan baru, yang pertama harus berubah adalah diri Anda sendiri.

Mungkin Anda harus bangun lebih pagi, karena ternyata walau jarak lebih dekat, kantor baru Anda lebih macet dari kantor sebelumnya.

Mungkin Anda harus menata ulang cara bicara Anda, karena di perusahaan baru, mereka tidak terbiasa ngomong “elo- gua”.

Mungkin Anda harus belajar lagi strategi marketing yang baru, karena customer perusahaan baru Anda, beda segment dengan perusahaan lama Anda.

Mungkin Anda harus memperlancar bahasa inggris Anda, karena sekarang Anda harus report juga ke Head Quarter di Singapore.

Coba renungkan, apalagi yang harus Anda ubah dari diri Anda?

Mengurangi jam tidur? mungkin iya.

Mengurangi jam main game? Kemungkinan besar iya!

Bahkan Anda mungkin akan kehilangan semua waktu chatting di group Anda, saking Anda sibuknya. ….

Dear Great People

Untuk menjalani pekerjaan yang lebih baik, Anda juga harus berubah menjadi orang yang lebih baik. Untuk berubah menjadi orang yang lebih baik, mungkin ada hal-hal yang harus Anda korbankan, ada hal-hal yang harus Anda relakan, ada hal-hal yang harus Anda buang.

Itu semua penting, agar anak kunci sukses yang ada pada Anda, dapat dikikir sedemikian rupa, sehingga cocok dengan gembok baru, yang harus Anda buka di perusahaan baru.

Jangan mudah berkata: “Saya tidak cocok di perusahaan baru”, “Saya tidak betah” dan lain sebagainya.

Sekali lagi saya ingin katakan: Berikan waktu. Waktu bagi Anda dan perusahaan untuk menyesuaikan diri.

Saat ini mungkin Anda menghadapinya dengan bercucuran air mata, tapi suatu saat Anda akan mengenangnya, dan menyebutnya: Berharga!

Have a Great Day Great People

Be Blessed

Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

Tipe-tipe Kepribadian

Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang tipe-tipe kepribadian, yang belum berhasil Saya temukan di buku Psikologi manapun. Saya menyebutnya Teori Kepribadian Manusia dan Batu.

Alkisah ada sebuah batu besar yang melintang, menutup sebuah jalan menuju pasar,  ketika orang-orang yang menuju pasar melihatnya, mereka memiliki reaksi yang berbeda-beda:

Ada yang begitu melihat batu, dia tidak jadi ke pasar, balik badan langsung pulang.

Ada yang terdiam, termangu, tertegun di depan batu (Saya tidak tahu apa yang ia pikirkan)

Ada yang ngomel-ngomel,  “gimana sih,  kok bisa ada batu disini? Bikin susah aja!  kan kita jadi gak bisa ke pasar! Siapa sih yang naruh batu disini?!”

Ada yang bertanya-tanya “batu apakah ini ? Mengapa batu ini ada disini? Siapa yang menaruh batu ini? Kapan batu ini mulai ada disini? Bagaimana cara naruhnya disini? ” dst

Ada yang ketika menemukan batu itu, dia mendapat inspirasi untuk membuat puisi: “Batu di tengah jalan….” 🙂

Ada juga yang mendaki batu itu, namun sesampainya di atas, dia berhenti, duduk di atas batu,  kecapekan.

Ada lagi orang-orang yang lain, yang begitu melihat batu besar itu, langsung ambil alat potong batu, dan amplas, mau menjadikan batu itu batu akik. 😀

Ada juga yang ketika melihat batu besar itu, ia berputar ke kiri atau ke kanan batu itu, sehingga ia dapat melewatinya

Namun ada juga, yang ketika ia melihat batu itu, ia memperhatikan sebentar, lalu ia mencari buldoser, dan menyingkirkan batu itu ke pinggir,  sehingga bukan cuma dia yang bisa jalan ke pasar, tapi juga orang-orang sesudah dia.

Tipe yang manakah Anda?  

Mari kita sambungkan tipe2 dalam cerita tersebut dengan cara kita menghadapi masalah di dalam organisasi:

Tipe Balik Arah

Ketika melihat batu, tidak jadi ke pasar, pulang. Ini typical yang paling sederhana, kalau melihat masalah, ya udah mundur aja, tidak jadi melaksanakan apa yang menjadi tujuannya. Kalau penawaran di tolak, ya udah gak papa, cari customer yang lain aja. Kalau dagang gak laku, ya udah gak papa, tutup aja. Kalau Boss marah-marah terus ya udah gak papa, resign aja, dst.

Tipe Pendiam

Sunyi, tidak mengatakan apa-apa,  tapi juga tidak melakukan apa-apa, bahkan mungkin juga tidak memikirkan apa-apa. Email gak di bales customer, diem aja. Usulan di tolak atasan, diem aja. Kerjaan gak bisa selesai, diem aja.

Tipe Pemarah

Marah karena ada masalah, namun tidak mencari solusinya. Marah karena target tidak tercapai,  marah karena banyak orang gak ngikutin prosedur, marah karena bawahan gak perform, marah karena ini, marah karena itu, tapi kemarahannya tidak bisa menyelesaikan masalahnya.

Tipe Bertanya

Mempertanyakan sebab akibat dari suatu masalah, berusaha menemukan hubungan logis dari suatu kejadian,  menganalisa,  mengolah data, tapi tidak bisa mengubahkan keadaan apa-apa. 

Tipe Filosofis

Begitu dia melihat batu, ia membuat puisi tentang batu. Ini jenis orang yang suka berfilosofi, suka berteori, suka membuat quote yang indah-indah, suka posting kata-kata mutiara di Linkedin 😀 namun tidak bisa menyelesaikan masalah.

Tipe Pendaki tapi Gak Jadi

Ini tipe yang sesudah mendaki, duduk diam kecapean di puncak batu. Biasanya menggebu-gebu di  awal, namun di tengah jalan, sebelum mencapai tujuannya, berhenti karena kehabisan energi. Biasanya orang-orang ini adalah orang yang paling bersemangat di awal-awal, namun ketika menemukan kendala yang tidak mereka pikirkan sebelumnya, mereka berhenti dan tidak tuntas menyelesaikan masalahnya.

Tipe Pengasah Batu Akik

Ini tipe baru sebenarnya (Saya yang tambahin sendiri). Orang-orang tipe ini dapat begitu kreatif mendapat ide untuk menghasilkan sesuatu yang lain, dari masalah yang ada, namun tujuan awalnya jadi tidak tercapai.

Tipe Ngiterin Batu

Ketika ketemu batu, berbelok ke kanan atau ke kiri, mengitari batu, sehingga bisa melewatinya. Tipe ini cukup sabar dan tekun, bisa berbelok untuk ‘melewati’ masalah, sehingga bisa tetap mencapai tujuan, meskipun jadi membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi sama sekali tidak membuka jalan buat orang yang melintas setelah dia.

Tipe Buldozer

Tipe ini begitu melihat masalah, ia akan berpikir, mencari cara untuk menyingkirkan masalah, sampai ke akarnya, sehingga bukan cuma ia yang bisa mencapai tujuan, tapi juga orang-orang yang akan lewat sesudah dia.  

Tipe yang manakah Anda?

Anda tidak akan dapat menyelesaikan masalah di organisasi Anda, jika Anda adalah orang dengan kepribadian no.1 s.d no.8. Meskipun sepertinya Anda sudah melewati masalah itu, Anda cuma MELEWATINYA, bukan MENYINGKIRKANNYA.

Untuk menjadi seorang problem solveryang handal di organisasi Anda, dan juga di kehidupan Anda, Anda harus menjadi seorang yang memiliki mental ‘Buldozer’ di dalam diri Anda, a fire fighter yang tidak lari dari api, melainkan yang berusaha memadamkannya! Apakah Anda salah satu dari mereka?

Jika belum, jadilah!

Great cheers

by Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/