Renungan

Duit, Ujian Pertama

Lama tak kontak, dia nongol mendadak sontak. Ngajak ngopi, mau testimoni. Ini dia narasinya:

“Zaman team leader berijasah SMA, bapak dorong saya kuliah sembari kerja. Agar karir ke depan lega. Jungkir balik ngatur waktu dan biaya. Lulus sarjana. Didorong apply internal vacancy jadi supervisor. Saya lulus, lalu dipromosi dan kecewa. Merasa dibohongi. Pangkat naik, kok penghasilan tercekik. Tanggung jawab hebat, duitnya ngadat. Mending jadi team leader, full lembur duitnya dobel. Gaji supervisor tanpa mumet. Percuma sekolah!” kami tertawa.

“Nolak dipromosi! Sepekan lewat, bapak kasih tahu saya: Kamu keren setelah mengembangkan diri. Punya opsi nolak-nerima promosi. Berpeluang alami transisi. Dari fase pekerja yang dihargai berbasis waktu, ke fase dihargai berbasis kontribusi. Fokus selisih duit? Tetaplah pada skema lembur sepanjang karirmu. Pilihan baik. Jika nilai kontribusi yang jadi fokus, duit itu bisa berkali lipat dalam waktu cepat. Pilihan baik,” lanjutnya sembari nyruput kopi.

Ia sodorkan kartu nama. Posisi GM di perusahaan ternama. “Momen itu saya selalu ingat. Fokus pada duit semata bisa membutakan” simpulnya. Career Development bisa berbentuk pekerjaan ekstra yang tak ada duitnya.

Hati2 ngurus duit disana. Rawan jebakan.

by Wisudho Harsanto – https://www.linkedin.com/in/growinstitute/

Manipulasi CV, Boleh-kah?

Bisa berkarir di deket rumah & keluarga? Saya yakin itu impian mayoritas pekerja…

Bahkan mereka yang di masa lalunya menikmati hidup di perantauan pun, suatu saat akan mendambakan kehidupan sederhana di sekitar domisilinya…

Demikian juga dengan saya…

Pindah domisili ke Jawa Tengah, bikin saya mimpi pengen dapetin kerjaan di deket kota kediaman…

Iya betul, gajinya gak akan sebesar Jakarta. Gak apa2…

Iya betul, cara berpikir orang2nya & kultur organisasinya gak akan kaya Jakarta. Gak apa2…

Iya betul, kebanyakan kantornya Sabtu masuk kerja. Gak apa2…

Multitasking ngerjain kerjaan beberapa departemen, dengan gaji UMK? Siappp Komandan… (sambil berdehem getir)

Bisa ngawasin para Sales & bikin omset meningkat dalam waktu singkat? Siappp Juragan… (sambil keringet dingin)

Saya udah ikhlas & ikhtiar mengorbankan banyak hal, demi bisa bekerja di dekat kediaman…

Tapi… ternyata oh ternyata… penolakan demi penolakan dari rekruter, menikam hatiku… ciehhh melowdrama neh…

Maaf Anda overspek… (padahal ngobrol aja belom)

Sori ya Pak, kantor ini gak bakalan kuat ngegaji Anda… (padahal belom ngomongin angka)

Deuh Pak, ini keahlian & pengalaman Anda gak akan laku di daerah… (balik badan sambil ngelus dada & kantong)

Hingga suatu malam, saya dapet ide yg saya kira cemerlang, yaitu: Melakukan downgrade pada CV saya. Semua label jabatan masa lalu yg mengandung konotasi “Kepala” atau “Pemimpin”… hilangkan…

Ganti jadi Staff aja, atau maksimal “Koordinator”…

Bahasa CV diganti pake B. Indonesia, supaya lebih nasionalis…

Semua prestasi & pencapaian masa lalu, saya hapus… (sambil mengusap air mata) Pokoknya… saya harus keliatan sebagai rakyat jelata yg biasa2 aja…

Setelah CV jadi, saya puas dengan “kebohongan yg rendah hati” itu… saya yakin, ini bikin saya lebih cepet dapetin kerja di daerah…

Suatu hari, ada Job Fair di kabupaten tetangga… wih oke neh keliatannya… daftarrr… Ikutan antri gerbang masuk bareng dede2 gemes khas daerah yg baru lulus kuliah… sementara cuman saya sendiri yg rambutnya beruban… hmmm…

Koq hidup gw gini2 amat ya… bisikku membatin…

Berbekal CV di flashdisk & puluhan amplop coklat yg udah lebih keliatan “empatik” dengan kondisi ketenagakerjaan di daerah… saya berburu lowongan…

Mata saya tertuju pada booth sebuah biro pelatihan & konsultasi SDM, yg membuka lowongan sebagai Trainer…

Jiahhh, ini diaaa… sikattt…

CV pun saya drop di situ dengan mata berbinar, dan meyakinkan rekruter manis yg berjaga di situ buat memberikan saya kesempatan interview…

Betapa pun mereka mutlak butuhnya Trainer yg lulusan Psikologi…

Ah bodo amat… ayooo wawancara saya duluuu Mbakkk… plisss…

“Oke Pak Peter, wawancaranya nanti jam 14.00 ya, dengan Pak Dominic Toretto (nama sebenernya saya udah lupa)” ujar si Mbak, seakan luluh dengan kegigihan saya…

Saya lihat di profil perusahaan, ternyata Pak Toretto adalah pendiri biro ini, dan menyandang gelar Doktor Psikologi… Hmmm… gumamku dalam hati… semoga lulus neh ya, serem juga diwawancara sama seorang Doktor penerawang jiwa…

Jam 14.00 berdentang, saya pun dipanggil masuk ke ruangan wawancara…

Pak Toretto memakai jas coklat, tinggi, ramping, sudah banyak uban, berkacamata, lumayan ramah…

Setelah bersalaman, dia membaca CV saya dengan cepat, dan melayangkan beberapa pertanyaan standar khas wawancara…

Saya bisa menjawab semuanya dengan mulus…

Hingga ada satu momen di mana dia membaca CV saya dengan lebih seksama… dan menatap saya dengan tajam sambil bertanya…

“Pak Peter, saya merasakan ada yg gak sinkron antara Pak Peter di hadapan saya, dengan apa yg tertulis di CV ini.” Tanpa sadar, saya menelan ludah…

“Maaf, maksud Bapak gimana ya persisnya?” jawabku berusaha meredakan ketegangan & mengulur waktu…

Sambil membetulkan letak kacamatanya, dia berkata… “Ayolah Pak Peter, saya tahu koq, Bapak ini dulu pernah mengemban tanggungjawab besar dalam pekerjaan…”

“Saya gak percaya isi CV ini yg menceritakan seolah-olah sepanjang karir Anda mandeg di level Staff atau Koordinator saja…”

Saya berusaha melemaskan lidah yg kaku dan mengumpulkan keberanian buat menjawab…

“Tapi kalo kenyataan yg saya alami memang begitu, mau gimana lagi ya Pak?

Makanya kan saya nyoba berkarir di daerah. Selaen supaya deket rumah, semoga juga bisa jadi hal yg bagus buat kemajuan perusahaan & karir saya,” jawabku dengan tenang, seolah berusaha memanipulasi seorang Doktor Psikologi…

Matanya masih lekat menatapku, ekspresinya seolah gak percaya… “Boleh saya tau Pak, dari mana Pak Toretto bisa menyimpulkan bahwa CV saya gak sinkron dengan diri saya?”

Seketika Pak Toretto tertawa ringan, seolah puas bahwa penerawangannya jitu… “Pak Peter, kita sama2 tau lah ya, kata2 itu bisa kita rekayasa, tapi tidak dengan bahasa tubuh, ekspresi, intonasi, dan pilihan kalimat kita…”

“Saya kan kerjaannya ngurusin orang2… saya tau lah orang itu pernah ada di level mana dalam hidupnya…”

Seketika itu saya tercenung, pertahanan saya habis…

Menyesali kelupaan saya untuk juga merekayasa bahasa tubuh, ekspresi, intonasi suara, dan pilihan kalimat saya; supaya sinkron dengan downgrade CV yg saya lakukan…

Walaupun saya tahu… bahwa yg sanggup melakukan rekayasa interview tuh biasanya agen intelijen… bukan agen elpiji yaaa…

“Pak Peter… kami sih jelas gak bisa menerima Bapak, karena kami nyarinya yg lulusan Psikologi…”

“Tapi pesan saya hanya satu, Pak Peter…”

“Jangan pernah menyangkali pencapaian hidup kita dan menyembunyikan jati diri kita, hanya demi sebuah pekerjaan…”

Betapa pun saya lupa nama aslinya, tapi saya gak lupa dengan raut mukanya… terutama ketika dia menanamkan amanat terpenting itu…

Sorenya, saya tinggalkan arena Job Fair itu dengan satu tekad bulat…

Saya tidak akan pernah melakukan downgrade, apalagi upgrade, terhadap CV saya lagi…

Stay true to yourself… bahkan ketika itu menyulitkan kita pada awalnya…

Karena saya telah membuktikan, bahwa ketidakjujuran atau upaya kita untuk menutupi sesuatu, toh gak lantas bikin kita lebih mudah diterima kerja. Saya tahu sekali, banyak pencari kerja yg melakukan rekayasa pada CV & perjalanan karirnya…

Beberapa di antara mereka bahkan terang2an mengakuinya pada saya…

Lakukan downgrade CV demi mendapatkan pekerjaan yg tingkatan strukturnya ada di bawah pekerjaan sebelumnya…

Atau upgrade CV supaya karirnya keliatan keren, tanpa cacat, selalu menang, dan semulus pualam; demi mengesankan jenis rekruter yg sering pingsan akibat mudah kagum pada hal2 artifisial & kasat mata dari seorang pelamar…

Pernah berbohong, langsung ketahuan, dan “ditampar” oleh seorang kaliber pro yg gak bisa saya manipulasi; akhirnya saya punya satu keyakinan bahwa…

Tuhan memberkati orang-orang yg berani… Berani jujur pada dirinya sendiri & nuraninya, beserta semua kelebihan & kekurangannya… Berani membawa jati dirinya ke mana pun dia pergi & apa pun yg dia hadapi… Berani menerima kenyataan, bahkan walaupun itu berupa kekalahan paling pahit & hina sekali pun…

Saya udah lama berdamai dengan realitas, bahwa saya masih harus jadi anak rantau… …dengan tegar meninggalkan anak bungsu saya menangis penuh kepedihan, setiap kali ojek berhelm ijo-item ngejemput & nganter saya menuju ke terminal atau stasiun…

Dengarkan selalu nurani, perkuat jiwa kita… dan lenturkanlah pikiran kita… Karena akan selalu ada damainya pelangi di balik setiap kesulitan…

Akan selalu ada telaga yg tenang setelah badai kehidupan menerpa kita… Akan selalu ada indahnya kicau burung setelah penghakiman hidup ini menyelesaikan dakwaannya pada kita…

Kapankah tibanya semua itu? Hanya Tuhan sajalah yg Maha Tahu… Jangan pernah mendikte Tuhan, bahkan dalam doa paling lembut sekalipun…

Jangan pernah melupakan jati diri kita, sesulit apa pun kita membawanya… Karena hidup ini terlalu singkat untuk hanya berusaha menyenangkan semua orang… semua bos… semua rekruter… di atas pengorbanan nurani, jati diri, dan karakter kita…

Bangunlah & perkuatlah jati diri, maka itu otomatis akan terpancar di CV kita… Isilah pikiran kita dengan pengetahuan dan isilah jiwa kita dengan kompetensi2 terbaik, maka itu otomatis akan terpancar di bagaimana kita menjalani wawancara…

Upgrade-lah selalu diri kita seutuhnya… maka hasilnya otomatis akan terpancar & terlihat oleh orang paling awam sekali pun…

Jika pekerjaan itu memang ditakdirkan buat kita, betapa pun gak mulusnya proses kita menjalani tahapan rekrutmennya; pekerjaan itu akan tetap menjadi jodoh kita…

Jika pekerjaan itu memang gak pernah ditakdirkan buat kita, apakah kita telah menjalani semua tahapan rekrutmennya dengan sempurna tanpa cacat pun; pekerjaan itu tetap gak akan pernah menjadi jodoh kita…

Ada sejumlah hal yg dapat kita kuasai, dan ada sejumlah hal yg gak akan pernah bisa kita kendalikan…

Downgrade CV, apalagi upgrade CV (yg lebih tercela); gak akan pernah bisa memanipulasi takdir, garis tangan, dan perjodohan…

Sama halnya seperti saya yg gak bisa memanipulasi Doktor Dominic Toretto…

by Peter Febian – https://www.linkedin.com/in/peter-febian-183a6b52/

Tiga Bulan Pertama

Konon 3 bulan pertama di perusahaan baru adalah masa-masa paling crucial bagi pekerja yang baru masuk ke perusahaan baru. Beberapa teman saya menyebutnya masa pencobaan, bukan masa percobaan 🙂

Saya juga beberapa kali mengalaminya, saya ingat waktu pertama kali bergabung di MENSA GROUP, di tim Pak Andhi Kurniawan. Seumur-umur tidak ada yang berani bilang saya itu bodoh, tidak ada yang berani bilang saya itu lambat, tapi bekerja di bawah kepemimpinan Pak Andhi, membuat saya menyebut diri saya sendiri : “bodoh dan lambat!”. Kenapa? Karena saya merasa Pak Andhi itu orangnya smart, dan kerjanya begitu cepat. Ralat: kerjanya begitu Turbo! Saya yang sudah biasa kerja dengan cepat di pekerjaan-pekerjaan sebelumnya, jadi merasa saya lambat, ketika saya bergabung di tim beliau. Saya bahkan sempat berpikir: Apakah mungkin dia itu Astro Boy?

Butuh waktu yang tidak sebentar sebelum akhirnya saya bisa menyamakan ritme kerja saya dengan beliau.

Di pekerjaan-pekerjaan berikutnya juga demikian, saya ketemu dengan bos baru, atasan baru, tim kerja baru, yang semuanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Saya beberapa kali menghadapi resistensi, dicibir orang, kepentok sistem dan lain sebagainya. Saya tidak bisa menggunakan kunci sukses saya di perusahaan lama untuk langsung sukses di perusahaan baru. Meski merek gemboknya sama, tapi ada bagian yang harus dikikis dulu (dari anak kunci yang saya punya), untuk dapat membuka gembok yang baru. Saya cukup yakin, sebagian besar dari Anda juga mengalami hal yang sama.

Dan kemudian pertanyaannya adalah: sediakah kita dikikis? Sediakah kita menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru? atau nyerah aja deh, kirim CV ke eva.lim@greattogreat.com

🙂

Dear Great People, Jangan cepat menyerah, jangan mudah memutuskan untuk segera pindah kerja lagi, apalagi usia kerja Anda di tempat sekarang, baru seumur jagung.

Saya tahu 3 bulan pertama itu tidak mudah, tapi mari berikan waktu untuk perusahaan dan juga diri Anda sendiri untuk menyesuaikan diri.

Perhatikan 4 hal ini:

1. Jangan membanding-bandingkan

Jangan bandingkan perusahaan baru Anda dengan perusahaan lama Anda, apalagi jika yang Anda bandingkan adalah kekurangan di tempat yang baru, dan kelebihan di tempat yang lama.

Bukankah Anda sendiri yang telah memutuskan untuk pindah? Terimalah konsekuensinya secara jantan.

Lagipula belum tentu juga, secara keseluruhan tempat baru Anda lebih buruk dari tempat yang lama. Berilah waktu untuk Anda dapat melihat semuanya.

2. Pastikan Anda membawa gelas kosong, bukan gelas penuh

Jangan sok tahu. Jangan mudah menggeneralisasikan, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Kadang ada hal-hal yang penting, terkait dengan values dan culture organisasi, yang tidak dapat Anda temukan di dalam dokumen manapun. Padahal hal itulah yang dapat menjadi kunci sukses Anda di perusahaan ini. Sabarlah, tarik nafas, berikan waktu.

Sadari bahwa organisasi tempat Anda baru bergabung saat ini, adalah organisasi yang unik, yang punya keunikannya tersendiri.

3. Jangan malu bertanya

Pastikan Anda punya Ensiklopedia. Seseorang yang dapat Anda jadikan tempat bertanya di kantor. Jalinkan hubungan baik dengannya. Jangan hanya lakukan pendekatan formal, lakukan juga pendekatan informal, ajak makan, belikan kue, sampaikan kata-kata yang menunjukkan perhatian. Misal: ” Sudah jam makan siang, kamu nggak makan dulu?”, “Oke, sampai besok, hati-hati di jalan ya”, “Anakmu sekarang sudah kelas berapa?” dan lain sebagainya.

Pastikan Anda lakukan dengan tulus, jangan cuma karena ada maunya saja.

4. Sedialah untuk Berubah

Untuk sukses di perusahaan baru, yang pertama harus berubah adalah diri Anda sendiri.

Mungkin Anda harus bangun lebih pagi, karena ternyata walau jarak lebih dekat, kantor baru Anda lebih macet dari kantor sebelumnya.

Mungkin Anda harus menata ulang cara bicara Anda, karena di perusahaan baru, mereka tidak terbiasa ngomong “elo- gua”.

Mungkin Anda harus belajar lagi strategi marketing yang baru, karena customer perusahaan baru Anda, beda segment dengan perusahaan lama Anda.

Mungkin Anda harus memperlancar bahasa inggris Anda, karena sekarang Anda harus report juga ke Head Quarter di Singapore.

Coba renungkan, apalagi yang harus Anda ubah dari diri Anda?

Mengurangi jam tidur? mungkin iya.

Mengurangi jam main game? Kemungkinan besar iya!

Bahkan Anda mungkin akan kehilangan semua waktu chatting di group Anda, saking Anda sibuknya. ….

Dear Great People

Untuk menjalani pekerjaan yang lebih baik, Anda juga harus berubah menjadi orang yang lebih baik. Untuk berubah menjadi orang yang lebih baik, mungkin ada hal-hal yang harus Anda korbankan, ada hal-hal yang harus Anda relakan, ada hal-hal yang harus Anda buang.

Itu semua penting, agar anak kunci sukses yang ada pada Anda, dapat dikikir sedemikian rupa, sehingga cocok dengan gembok baru, yang harus Anda buka di perusahaan baru.

Jangan mudah berkata: “Saya tidak cocok di perusahaan baru”, “Saya tidak betah” dan lain sebagainya.

Sekali lagi saya ingin katakan: Berikan waktu. Waktu bagi Anda dan perusahaan untuk menyesuaikan diri.

Saat ini mungkin Anda menghadapinya dengan bercucuran air mata, tapi suatu saat Anda akan mengenangnya, dan menyebutnya: Berharga!

Have a Great Day Great People

Be Blessed

Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

Tipe-tipe Kepribadian

Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang tipe-tipe kepribadian, yang belum berhasil Saya temukan di buku Psikologi manapun. Saya menyebutnya Teori Kepribadian Manusia dan Batu.

Alkisah ada sebuah batu besar yang melintang, menutup sebuah jalan menuju pasar,  ketika orang-orang yang menuju pasar melihatnya, mereka memiliki reaksi yang berbeda-beda:

Ada yang begitu melihat batu, dia tidak jadi ke pasar, balik badan langsung pulang.

Ada yang terdiam, termangu, tertegun di depan batu (Saya tidak tahu apa yang ia pikirkan)

Ada yang ngomel-ngomel,  “gimana sih,  kok bisa ada batu disini? Bikin susah aja!  kan kita jadi gak bisa ke pasar! Siapa sih yang naruh batu disini?!”

Ada yang bertanya-tanya “batu apakah ini ? Mengapa batu ini ada disini? Siapa yang menaruh batu ini? Kapan batu ini mulai ada disini? Bagaimana cara naruhnya disini? ” dst

Ada yang ketika menemukan batu itu, dia mendapat inspirasi untuk membuat puisi: “Batu di tengah jalan….” 🙂

Ada juga yang mendaki batu itu, namun sesampainya di atas, dia berhenti, duduk di atas batu,  kecapekan.

Ada lagi orang-orang yang lain, yang begitu melihat batu besar itu, langsung ambil alat potong batu, dan amplas, mau menjadikan batu itu batu akik. 😀

Ada juga yang ketika melihat batu besar itu, ia berputar ke kiri atau ke kanan batu itu, sehingga ia dapat melewatinya

Namun ada juga, yang ketika ia melihat batu itu, ia memperhatikan sebentar, lalu ia mencari buldoser, dan menyingkirkan batu itu ke pinggir,  sehingga bukan cuma dia yang bisa jalan ke pasar, tapi juga orang-orang sesudah dia.

Tipe yang manakah Anda?  

Mari kita sambungkan tipe2 dalam cerita tersebut dengan cara kita menghadapi masalah di dalam organisasi:

Tipe Balik Arah

Ketika melihat batu, tidak jadi ke pasar, pulang. Ini typical yang paling sederhana, kalau melihat masalah, ya udah mundur aja, tidak jadi melaksanakan apa yang menjadi tujuannya. Kalau penawaran di tolak, ya udah gak papa, cari customer yang lain aja. Kalau dagang gak laku, ya udah gak papa, tutup aja. Kalau Boss marah-marah terus ya udah gak papa, resign aja, dst.

Tipe Pendiam

Sunyi, tidak mengatakan apa-apa,  tapi juga tidak melakukan apa-apa, bahkan mungkin juga tidak memikirkan apa-apa. Email gak di bales customer, diem aja. Usulan di tolak atasan, diem aja. Kerjaan gak bisa selesai, diem aja.

Tipe Pemarah

Marah karena ada masalah, namun tidak mencari solusinya. Marah karena target tidak tercapai,  marah karena banyak orang gak ngikutin prosedur, marah karena bawahan gak perform, marah karena ini, marah karena itu, tapi kemarahannya tidak bisa menyelesaikan masalahnya.

Tipe Bertanya

Mempertanyakan sebab akibat dari suatu masalah, berusaha menemukan hubungan logis dari suatu kejadian,  menganalisa,  mengolah data, tapi tidak bisa mengubahkan keadaan apa-apa. 

Tipe Filosofis

Begitu dia melihat batu, ia membuat puisi tentang batu. Ini jenis orang yang suka berfilosofi, suka berteori, suka membuat quote yang indah-indah, suka posting kata-kata mutiara di Linkedin 😀 namun tidak bisa menyelesaikan masalah.

Tipe Pendaki tapi Gak Jadi

Ini tipe yang sesudah mendaki, duduk diam kecapean di puncak batu. Biasanya menggebu-gebu di  awal, namun di tengah jalan, sebelum mencapai tujuannya, berhenti karena kehabisan energi. Biasanya orang-orang ini adalah orang yang paling bersemangat di awal-awal, namun ketika menemukan kendala yang tidak mereka pikirkan sebelumnya, mereka berhenti dan tidak tuntas menyelesaikan masalahnya.

Tipe Pengasah Batu Akik

Ini tipe baru sebenarnya (Saya yang tambahin sendiri). Orang-orang tipe ini dapat begitu kreatif mendapat ide untuk menghasilkan sesuatu yang lain, dari masalah yang ada, namun tujuan awalnya jadi tidak tercapai.

Tipe Ngiterin Batu

Ketika ketemu batu, berbelok ke kanan atau ke kiri, mengitari batu, sehingga bisa melewatinya. Tipe ini cukup sabar dan tekun, bisa berbelok untuk ‘melewati’ masalah, sehingga bisa tetap mencapai tujuan, meskipun jadi membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi sama sekali tidak membuka jalan buat orang yang melintas setelah dia.

Tipe Buldozer

Tipe ini begitu melihat masalah, ia akan berpikir, mencari cara untuk menyingkirkan masalah, sampai ke akarnya, sehingga bukan cuma ia yang bisa mencapai tujuan, tapi juga orang-orang yang akan lewat sesudah dia.  

Tipe yang manakah Anda?

Anda tidak akan dapat menyelesaikan masalah di organisasi Anda, jika Anda adalah orang dengan kepribadian no.1 s.d no.8. Meskipun sepertinya Anda sudah melewati masalah itu, Anda cuma MELEWATINYA, bukan MENYINGKIRKANNYA.

Untuk menjadi seorang problem solveryang handal di organisasi Anda, dan juga di kehidupan Anda, Anda harus menjadi seorang yang memiliki mental ‘Buldozer’ di dalam diri Anda, a fire fighter yang tidak lari dari api, melainkan yang berusaha memadamkannya! Apakah Anda salah satu dari mereka?

Jika belum, jadilah!

Great cheers

by Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

Kutu Loncat

“Pengen bahas kutu loncat aja lama banget sih mbak…” Goda seseorang yang menunggu tulisan saya.

Saya tertawa. Iya, saya memang tidak mau bahas tentang hal ini secara sembarangan, tidak fair kalau saya hanya bahas dari satu sisi saja. Memang sih, paling enak bahas dari sisi kandidat, yang ngelike pasti banyak.

Tapi menurut saya, itu tidak mendidik, hanya membuat orang senang, tapi tidak membuat orang bertumbuh, tidak membantu orang untuk berubah menjadi lebih baik, tidak membantu orang mendapatkan pekerjaan yang seharusnya…

“Wait… rewind sedikit: … Tidak membantu orang mendapatkan pekerjaan yang seharusnya?

Berarti ada yang mendapatkan pekerjaan yang tidak seharusnya?”

Saya tersenyum. Ada! Banyak malah!

Kadang-kadang kita begitu cepat merombak CV kita, memodif performa kita sesuai dengan apa yang dituliskan oleh para influencer di LinkedIn, tanpa kita mengubah apa yang ada di dalam, yaitu diri kita sendiri.

Akibatnya apa? Kita cepat mendapat pekerjaan, tapi dalam hitungan bulan sudah tidak betah lagi, entah kitanya yang bosan, atau tekanannya yang terlalu tinggi, karena perusahaan overexpectation terhadap kita, sebagai akibat dari keberhasilan kita mempermak CV.

Kita lupa, bahwa tujuan akhir kita, bukanlah mendapat pekerjaan itu sendiri, tapi bagaimana kita dapat menghasilkan performa kerja yang prima, sehingga kita dapat memberi kontribusi yang tinggi.

“Ah buat apa kasih kontribusi tinggi mbak, dari perusahaan gajinya segitu-gitu aja”

Nah, inilah mindset yang harus kita ubah. Kita sering berpikir bahwa kita bekerja untuk mendapatkan gaji, sehingga jika kita merasa gaji kita cukup besar, maka kita mau berupaya cukup besar, sebaliknya jika kita merasa gaji kita kecil, kita maunya memberikan upaya yang kecil saja.

Kita lupa bahwa kerja itu adalah ibadah, suatu hal yang kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika performa kita baik, yang mendapat keuntungan paling besar bukanlah perusahaan, tapi diri kita sendiri. Jangan terkecoh dengan besarnya gaji, bonus atau hadiah jalan-jalan keluar negri.

Itu hanya Gimmick nya saja, yang utama adalah pengembangan diri sendiri, menjadi pribadi yang terbaik sebagaimana seharusnya kita menjadi.

“Bagaimana kalau di perusahaan itu, kita gak bisa berkembang? Gak bisa perform karena masalah internal perusahaan? Atasannya lah, HRDnya lah, Managementnya lah?”

Pertanyaannya: Sudah berapa lama kita berusaha berkembang di perusahaan itu? Setahun? Dua tahun? Jika baru dalam hitungan bulan kita sudah menyerah, berarti kita bukan seorang pembuat sejarah. But it’s okay, kemampuan orang kan beda-beda, saya tidak akan me-reject lamaran kandidat-kandidat yang seperti itu. Tapi saya juga tidak akan bisa merekomendasikan mereka ke perusahaan-perusahaan besar yang saya tahu, akan butuh ketekunan dan kekuatan besar untuk mendobraknya.

Ujungnya adalah kans. Apakah ada perusahaan yang mau meng-hire Kandidat yang sering pindah-pindah perusahaan? Ada! Banyak! Tapi umumnya mereka juga perusahaan yang turn over rate nya tinggi. Dan jumlah perusahaan yang seperti ini, tentu tidak sebanyak perusahaan yang enggan meng-hire kandidat yang sering pindah-pindah perusahaan.

Jika Anda ingin Kans Anda lebih tinggi, cobalah bertahan di perusahaan Anda, minimal 1-2 tahun. Push diri Anda melakukan yang lebih baik dari yang pernah Anda lakukan. Tidak mudah? Pasti!

Tapi pasti manis akhirnya. Jika Anda sudah punya perform experience yang mumpuni, sudah punya Legacy yang tercatat, jangan ragu untuk mengirimkan Update CV Anda kepada kami.

Have a Great Day Great People

Let’s Rock

By Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso

Cita-cita memang bisa berubah-ubah

Waktu Eitel, anak Saya masih berumur 3-4 tahun, ia ingin jadi dokter, masih melekat di ingatan Saya jawaban nya ke setiap orang saat itu “Eitel nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?” “Jadi Doktel” “Dokter Apa?” “Doktel Anyak!”

Waktu berlalu….

Di usia 5-6 tahun, ia berpindah ingin jadi Pramugari.

“Mah, nanti aku kalau sudah besar jadi Pramugari ya”

Lapornya pada suatu hari. Saya mengangkat alis. Lho kok berubah?

“Aku ngobrol sama sahabatku di sekolah, dia juga mau jadi Pramugari” Ceritanya.

Saya mengangguk-angguk. Ooooh.

Mulai tahun 2016 ini, Saya melepas pekerjaan tetap Saya sebagai karyawan, dan memulai profesi baru saya, sebagai seorang HR Konsultan. Bulan puasa yang lalu, di sebuah acara buka puasa bersama. Pak Andes Wardy, salah satu Senior Saya bertanya: “Eitel kalau besar mau jadi apa?”

“Mau jadi Konsultan” Jawabnya mantap.

Saya menoleh sambil tertawa.

“Kenapa mau jadi konsultan?” Kejar Pak Andes. Eitel menjawab, dengan jawaban yang membuat Saya ingin segera menyembunyikan wajah Saya di balik tumpukan piring Takjil.

“Supaya bisa kerja di Cafe”

Saya rasa di usia semuda Eitel, adalah wajar kalau ia berganti-ganti cita-cita. Fokus kami (orangtuanya) memang bukan apa cita-citanya, tapi apa yang menjadi Passion dan Kompetensi yang Tuhan berikan secara khusus buat dia.

Ada banyak profesi yang ada sekarang, tapi tidak ada, dan tidak terbayangkan ada di 10-15 tahun yang lalu. Dan sebaliknya, ada profesi yang ada 10-15 tahun yang lalu, tapi sudah tidak ada lagi sekarang. Saya tidak mau anak Saya mengejar cita-cita yang mungkin sudah tidak eksis lagi ketika ia dewasa. Sebaliknya, Saya mau dia memiliki kemampuan yang unggul di suatu bidang tertentu yang dia sukai, dan kemudian keunggulannya itu dapat dia gunakan untuk membantu banyak orang.

Dapat banyak uang? Sudah pasti! Kalau keunggulannya dapat memenuhi kebutuhan banyak orang, ia pasti akan dicari orang, dan sesuai dengan hukum Supply and Demand, jika jumlah permintaan banyak sedangkan penawaran sedikit, maka Senin harga naik.

Oke, Kita bahas detail sedikit ya:

1. Biarlah anak-anak unggul di bidang yang ia sukai

Om Saya, Steve Jobs pernah bilang gini : “The Only Way To Do Great Work is to Love What You Do. If You haven’t find it yet. Keep Looking. Don’t Settle”

Jika kita, parents, memaksa anak kita masuk ke jurusan tertentu, sekolah tertentu, les tertentu, demi cita-cita yang menurut kita fantastis, tapi mereka gak suka…. Parents… yang kita lakukan itu, jahat!

Kita akan membuat mereka terperangkap di sebuah pekerjaan yang mereka tidak sukai, dan sebesar apapun penghasilannya, mereka tetap tidak akan mencapai potensi terbaik yang mereka miliki. Kenapa? Karena mereka tidak benar-benar menyukainya.

2. Biarlah anak-anak unggul di bidang yang sesuai dengan kompetensi mereka. Pintar itu, bukan cuma pintar matematika.

Om Saya yang lain, Albert Einstein, pernah bilang “Everyone is a Genius. But if you judge a fish from it’s ability to climb a tree, it will lives it whole life, believing it is stupid.”

Setiap orang itu jenius, termasuk kamu…. Iyaaaaa… Kamuuuu!

Termasuk juga anak-anak kita. Jadi jika Om Albert Einstein, yang dibilang orang paling jenius itu aja bilang anak kita jenius, kenapa kita bilang anak kita bodoh? Mereka semua pintar, tapi dalam bentuk yang berbeda-beda.

Tugas kita, Parents, membantu mereka menemukan potensi terbesar apa yang ada dalam kehidupan mereka. Tadi pagi hati Saya tersentuh membaca sebuah kisah tentang Nathan Ramsey, a Gifted Photografer. You wouldn’t know it but he’s colour blind yet is able to capture beauty behind that lens of his.

Tuhan itu maha besar dan maha adil, di balik keterbatasan-keterbatasan kita dan anak-anak kita, Ia menyediakan potensi-potensi yang sangat besar dan sangat berguna, baik untuk diri sendiri dan orang lain.

3. Biarlah anak-anak unggul di bidangnya masing-masing, dan keunggulan mereka dapat mereka gunakan untuk membantu banyak orang.

Dear Parents, Pastikan anak-anak kita memiliki skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk pekerjaannya nanti. Soal pekerjaan, profesi dan jabatannya apa itu belakangan. Anda bisa saja menurunkan jabatan Anda sebagai direktur perusahaan kepada anak Anda, tapi jika ia tidak memiliki skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk jabatan itu, apakah Anda tidak akan membuat karyawan-karyawan Anda sengsara?

Biarlah mereka berkembang sesuai dengan passion dan kompetensi mereka, nah sesudah mereka punya ‘sesuatu’ yang bisa ‘dijual’ barulah akan lebih jelas, profesi atau pekerjaan apa yang nanti bisa mereka kerjakan.

Tidak tertutup kemungkinan mereka akan punya lebih dari satu profesi, lebih dari satu pekerjaan. Tidak tertutup kemungkinan mereka akan menciptakan produk baru, jasa baru, pekerjaan baru, menjadi orang pertama yang mengerjakan sebuah profesi baru, membuka bidang industry yang baru, jenis lapangan pekerjaan yang baru.

Mereka… anak-anak kecil itu…. dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang BESAAAAR.

Wow… don’t you exciting with what they can do in the future? Mari kita siapkan mereka

* Tulisan ini merupakan Repost dari tulisan saya di Facebook 23 September 2016

Saya me-Repost nya dalam rangka menyambut hari pendidikan nasional, hari yang mengingatkan saya akan pentingnya peran para pendidik, bukan hanya para guru, tetapi terutama kita, para orangtua.

Have a Great Day Great Parents

Let’s Rock

Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso

Curhat Rekruiter

Akhir-akhir ini saya sering sekali menemukan posting atau curhatan tentang sulitnya mencari pekerjaan. Padahal, vacant position itu banyak sekali, berbagai posisi, lokasi, jabatan, dan skill.

Recruiter juga sekarang seringkali kesulitan menemukan kandidat yang match dengan kebutuhannya, (yok! Recruiters curhat juga!!). Either, technical skills-nya cocok, tapi attitude-nya belum match, otherwise kandidatnya sangat self motivated tapi technical skill-nya jauh dari kebutuhan, or else yang paling sedih adalah ketika sudah menemukan kandidat dengan technical skill yang memadai, dan potensi kandidat yang baik, attitude yang sesuai.. Eh! Harganya kemahalan atau sudah di hire lebih dulu oleh company lain.. Judulnya sih, memang belum jodoh.

But, i remember years ago di salah satu kelas Psiopin yang digelar, memang salah satu recruiter challenge saat ini adalah menemukan talent yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kita sepakat bahwa tidak akan ada kandidat yang 100% sudah ready dan match dengan pekerjaan yang tersedia, tetapi pengukuran Skill, Knowledge, dan Attitude pastinya tetap harus memenuhi standard minimal dari kebutuhan pekerjaan di company kita.

Menurut saya, dari sisi applicant dengan adanya kebutuhan tenaga kerja yang skilled, knowledgeable, dan attitude yang baik maka applicants harus mau invest lebih kepada dirinya, misalnya dengan baca buku self improvement, atau join dengan community, doing extra miles yang bisa “mempercantik” portfolios applicant. Lebih kece jika memang sesuai dengan expertise yang dimiliki (even more for professionals and mid high position).

Dari sisi recruiter, pendekatan one on one sepertinya sudah harus menjadi cara dalam menemukan “jodoh”-nya. Bangun relasi yang cukup baik dengan banyak qualified people melalui LinkedIn, memperbanyak komunitas-komunitas yang bisa memberikan rekomendasi talents terbaik.

Menurut anda bagaimana? Mari diskusi yuk 🙂

by Nanda Marifani Sani – https://www.linkedin.com/in/nanda-marifani-sani-9b892023

Mengukur Diri Sendiri

Lebih baik mana: menyesuaikan penampilan diri dengan posisi yang akan dilamar atau tetap menjadi diri sendiri?

Dear Great People

Menjadi diri sendiri itu penting, tapi dapat menyesuaikan diri adalah hal yang tidak kalah pentingnya. Tinggal kita melihat batasannya: seberapa jauh kita harus menyesuaikan diri/penampilan kita tanpa kehilangan jati diri kita.

Beberapa bulan lalu saya sempat berdiskusi dengan salah satu client saya, membahas kandidat saya yang datang Psikotes dengan celana jins dan kaos oblong.

Apakah itu salah? Tidak

Apakah itu mempengaruhi penilaian user? Ya

“Ayolah Pak, we can’t judge a book from it’s cover” Bela saya

“Bob Sadino, Mark Zuckerberg, juga hampir tidak pernah terlihat pakai baju rapi” Desak saya lagi.

Client saya menggeleng “Bob Sadino is Bob Sadino Milka, People know who exactly Bob Sadino. Orang akan tetap mau berbisnis dengannya meskipun kemana-mana ia pakai celana pendek.”

“Demikian juga dengan Mark, orang tetap berlomba-lomba ingin bekerja di perusahaannya, walaupun dia selalu pakai oblong abu-abu.” Sambung client saya lagi.

“But this guy…” Client saya memegang CV kandidat saya di tangannya “I don’t think he’s a right person for me” Saya menghela nafas, menganggukkan kepala, akhirnya menyerah.

Client saya berdiri, namun sebelum ia meninggalkan ruang meeting ia berkata : “Oh ya Milka, kandidat u gak lolos bukan karena dia pakai oblong…”

Saya mengangkat kepala saya “lalu kenapa pak?”

“Karena ia belum bisa mengukur diri sendiri.”

Tandas klien saya, lalu meninggalkan saya, sendiri di dalam ruangan.

Saya terpekur… Merenungkan kata-kata klien saya, lalu menuliskannya.

Dan hari ini saya membagikannya untuk Anda, biarlah jadi pelajaran berharga untuk kita bersama

Have a Great Day Great People

by Milka Santoso > https://www.linkedin.com/in/milkasantoso/

Minta rekomendasi kerja

Suatu malam, masuklah pesan di Inbox LinkedIn saya, dari seorang JobSeeker (JS) yang memang sudah cukup lama mencari kerja, belom kunjung ada yg berjodoh…

JS: Halo met malem Om Pete… apa kabar…

Me: Halo juga Pak, met malem… kabar baekkk…

JS: Om, bolehkah minta rekomendasinya?

Me: Maksudnya rekomendasi apa neh Pak?

JS: Rekomendasi pekerjaan Om… Om Pete kan koneksinya super-duper luas. Bolehkah Om Pete merekomendasikan saya ke penggede2 perusahaan, supaya saya diterima kerja?

Me: (Lagi narik napas, belom sempet buang napas, pas mau ngetik jawaban…)

JS: Om Pete ini CV saya, jangan lupa yaaa tolong kabarin saya Om, kalo udah ada yg nyangkut…

Me: (Akhirnya bisa buang napas dan mengetik…)

Me: Pak, saya ini juga lagi ngos-ngosan nyari kerjaan loh. Logiskah saya ketambahan CV Bapak lagi buat nyariin kerjaan, sementara saya belom dapet kerjaan? Saya jelas bukan pemilik pekerjaan dan bukan Head Hunter.

JS: Om Pete sori banget, saya gak maksud ngerepotin Om. Saya pikir kan gampang aja Om Pete kalo mau minta kerjaan ke koneksi Om.

Me: Hidup gak segampang itu Pak. Jodoh gak segampang itu. Pekerjaan & karir gak segampang itu. Kalo memang segampang itu, gak perlu ada LinkedIn Pak, pasti beres semua perkara kerjaan & karir.

JS: Maksudnya gimana Om? Keberatan gak ngasih pencerahan ke saya?

Me: Begini Pak… Saya cerita dikit ya…

Me: Jaman dulu saya belom aktif di LinkedIn, aktifnya di sosmed sebelah… (ternyata) saya berkenalan dengan 3 orang pemilik usaha.

Me: Kepada 3 orang itu saya sapa baik2 awalnya. Setelah mereka merespon pesan saya dan mulai nyaman ngobrol lebih jauh, akhirnya saya mengetahui bahwa mereka pemilik usaha. Saya utarakan keinginan saya untuk bekerja di perusahaan mereka, karena lagi butuh kerja.

Me: Hasilnya? 2 orang membaca pesan terakhir saya tanpa membalasnya. 1 orang lagi melakukan Unfriend terhadap saya.

Me: Terakhir saya mengetahui kabar bisnis yg mereka jalankan, grup bisnisnya membesar, buka perusahaan baru di mana2.

Me: Saya kalkukasi dengan intuisi & nurani saya, betapa mahalnya harga yg harus saya bayar dari sebuah hubungan yg rusak dengan mereka, hanya gara2 saya terlalu bernafsu meminta pekerjaan ke mereka.

Me: Maka saya putuskan buat mengubah cara berpikir saya… bahwa ketika saya masih susah mendapatkan rejeki, itu tandanya ada yg belum saya lakukan dengan baik, karena saya kurang berkompeten, atau karena banyak orang gak bisa melihat apa manfaat & kontribusi saya bagi mereka.

JS: Nah tunggu Om… terus gimana caranya kita bisa ngasih kontribusi buat mereka, kalo belom diterima kerja di tempatnya?

Me: Pak, saya membangun LinkedIn saya dari 300 Followers menjadi 30.000+ Followers dalam waktu lebih dari 1 tahun sambil terseok-seok mencari kerja, keuangan babak-belur, pagi-siang-malam-subuh keliatannya kaya kurang kerjaan ngeladenin banyak orang tanpa pamrih… apakah itu bukan kontribusi & karya sosial Pak?

Me: Saya hanya ingin menekankan, bahwa di era teknologi ini, kita sungguh teramat beruntung, karena bisa berkarya tanpa batas melalui teknologi, dan bisa berkontribusi tanpa otoritas kantor, melalui media sosial.

Me: Jangan nunggu dikasih kartu nama kantor & jabatan dulu, baru berbuat sesuatu. Right here right now, kita bisa berbuat sesuatu bagi orang lain. Jangan pernah membatasi ruang & waktu bagi kita buat membawa kebaikan & perubahan bagi masyarakat.

JS: Om, tapi setelah Om Pete membangun itu semua, apakah lebih gampang dapet kerjaan?

Me: Dari 50K+ Followers saya, saya hitung kasar, ada sekitar 1%-nya yg merupakan Decision Maker. Dari mulai pemilik perusahaan, investor, CEO, Founder, Direksi, penggede komunitas, aktivis sosial-kemanusiaan, petinggi pemerintahan, hingga pengusaha.

Me: Bagaimanakah caranya saya bisa terkoneksi & berhubungan baik dengan 1% itu? Ya dengan terlebih dahulu membangun hubungan baik & menghasilkan karya sosial bersama 99% lainnya.

Me: Setelah ditolak ratusan rekruter, saya bangun jati diri… saya bangun (dan jaga) hubungan baik dengan 1% Followers itu, setelah saya membawa transformasi & perubahan bagi 99% Followers saya lainnya…

Me: Bukankah setelahnya lantas ratusan penolakan dari rekruter itu menjadi sekecil butiran pasir dan gak berarti apa2 lagi?

Me: Jangan lupa Pak… Saya lakukan ini semua dalam kondisi sambil nyari kerja, sambil babak-belur, dan sambil cari sampingan serabutan sana-sini…

Me: Tuhan & alam ini kurang berkenan memberikan kita akses menuju 1% itu, sebelum membangun yg 99% terlebih dahulu dengan kasih, fokus, ketekunan, pengharapan baik, disiplin, dan konsistensi jati diri.

Me: Lebih terhormatnya lagi… mayoritas dari 1% itu yg add akun LinkedIn saya duluan. Kenapa bukan saya yg add mereka duluan? Karena kejadian dulu di mana hubungan saya rusak dengan 3 orang itu, membuat saya trauma dan memilih buat gak secara membabi-buta mengajak seseorang terkoneksi tanpa mereka terlebih dulu melihat kontribusi nyata saya bagi masyarakat.

Me: Berkat saya menahan diri & gak baperan, justru saya mulai dapetin lebih dari sekedar kesempatan karir. Malah dapet tawaran bikin PT bareng, bikin yayasan bareng, ngerjain project bareng, minta perusahaannya dikonsultanin, diundang di berbagai acara komunitas, diminta buat mengisi sejumlah acara seminar dan sejenisnya… yah pokoknya melebihi ekspektasi awal saya lah yg tadinya cuman pengen dapet kerjaan kantoran sebagai karyawan…

Me: Itu semua dateng dari 1% Followers saya itu; karena mereka punya power, sumber daya, dan jaringan koneksi bisnis buat menawarkan itu pada saya.

Me: Jadi, kebayang kan Pak, betapa amat sangat fatalnya kalo saya grasa-grusu baperan minta pekerjaan ke 1% itu, tanpa terlebih dahulu berbuat sesuatu apa pun bagi 99% lainnya?

Me: Terus gimana kalo mayoritas dari mereka melakukan Remove Connection terhadap saya? Kalo dulu saya kehilangan 3 koneksi pengusaha saja berasa fatal, lah apalagi kalo kehilangan ratusan. Nyungsep dah hidup saya…

Me: Intinya Pak… LinkedIn memang bukan buat cari kerja semata, tapi buat membangun hubungan baik. Kalo dari hubungan baik lantas dapet kerjaan atau benefit lainnya, itu adalah imbalannya kemudian.

JS: Om Pete… saya speechless… Benar2 Tuhan memberkati Om Pete dengan kekuatan & kesabaran luar biasa, masih mau ngeladenin saya yg cupu ini, sampe akhirnya saya ngerti…

Me: Saya cuman pengen Bapak bersyukur, bahwa ketika Bapak nyosor minta rekomendasi & ngejejelin saya dengan CV tadi, gak langsung saya Remove Connection, malah masih saya kasih pencerahan panjang-lebar…

Me: Karena bukankah itu sama aja dengan para penjual yg memaksa terkoneksi dengan kita, lalu tiba2 ngirim pesan penjualan produknya di Inbox kita, bahkan tanpa perkenalan diri yg sepantasnya?

Me: Setelah Bapak memahami ini semua, apakah siap berubah & bertransformasi?

Me: Can you sustain all the process Pak?

JS: Saya siap berubah Pak!!! Terima kasih buat waktu & pengorbanan Om Pete hanya buat bikin saya ngerti ini semua… Tuhan memberkati Om Pete sekeluarga ya…

Me: Salam sejahtera Pak… Tetaplah berpengharapan baik ya… Met malem…

Kabar terakhir, 2 bulan lebih dari percakapan terakhir, sang JS sudah diterima bekerja di perusahaan luar kota.

Tanpa rekomendasi dari siapa pun…

Dan tanpa baper…

Ditulis oleh Peter Febian > https://www.linkedin.com/in/peter-febian-183a6b52

Berapa harga hidup kamu?

Kalo kalian follow instagram saya di @keisavourie, kalian tahu bahwa saya punya dua anjing corgi betina. Tempo hari salah satu anjing saya sakit dan harus dibawa ke dokter. Total biaya yang harus saya keluarkan, 1,5 juta rupiah. Sakitnya apa?

Hanya diare saja.

Apakah saya merasa rugi mengeluarkan uang yang tidak sedikit tersebut? Tentu saja tidak, karena buat saya nilai anjing saya jauh di atas biaya pengobatan tersebut. Saya rela mengeluarkan begitu banyak uang, karena bagi saya anjing saya sangat bernilai.

Kalo kamu punya mobil seharga 4 Milyar, kamu tentu tidak sungkan mengeluarkan biaya ratusan juta untuk perawatan. Karena nilai mobil tersebut kamu anggap PANTAS menerima pengeluaran tersebut. Tapi kalo nilai mobil kamu cuma 100 juta, lalu kamu diminta mengeluarkan 100 juta untuk perbaikan, kamu mungkin mikir mendingan buang dan beli baru.

Nah hidup kita juga sama. Kalo kamu memandang diri kamu bernilai rendah, maka kamu akan merasa ogah mengeluarkan uang untuk kehidupan kamu. Kamu merasa rugi keluar uang untuk beli baju, keluar uang untuk belajar sesuatu yang baru, keluar uang untuk bergaul di tempat yang baik, dan keluar uang untuk berbagai peningkatan diri lainnya. Akibatnya, kamu makin bernilai rendah dan makin tidak diminati lawan jenis.

Sementara orang yang bernilai tinggi, tidak akan merasa sungkan mengeluarkan uang untuk merawat dirinya dan meningkatkan kualitas dirinya. Karena biaya tersebut kecil dibanding nilai dirinya. Akibatnya, orang yang bernilai tinggi ini MAKIN BERNILAI TINGGI.

Jadi hari ini saya mau minta kamu merenungkan, berapa harga hidup kamu? Berapa harga diri kamu? Berapa nilai diri kamu?

Sahabatmu,

Kei Savourie