7 Alasan Krisis PR di Aksi Cepat Tanggap

7 alasan kenapa Crisis public relations yang terjadi pada ACT Foundation | Aksi Cepat Tanggap akan bergulir jauh lebih besar daripada saat ini.

1. Crisis conventional dimana pemicu awal berasal dari Media massa yang kemudian diamplifikasi lewat media sosial. Crisis semacam ini sudah jarang terjadi karena belakangan crisis justru dimulai di media sosial lalu diamplifikasi oleh media massa.

2. Crisis bukan disebabkan oleh oknum, tapi oleh kesadaran kolektif manajemen yayasan yang tidak memperhitungkan sensitivitas publik yang dituangkan dalam bentuk peraturan perusahaan.

3. Crisis ACT melebar kepada orang di luar yayasan mereka. Mulai dari tokoh agama sampai selebritas.

Jangan pernah berpikir crisis public relations itu cuma bikin pusing perusahaan/organisasi yang sedang dilanda.

4. Walau sudah akut sampai menghancurkan bukan cuma nama baik, tapi juga pimpinan tertinggi perusahaan, ACT malah berharap bisa membersihkan nama mereka lewat counter buzzerRP dengan tagar #KamiPercayaAct.

5. Terjadi snowball effect dari isu satu organisasi menjadi isu industri berupa distrust atau tidakpercayanya publik terhadap lembaga bantuan lainnya, termasuk Unicef.

Lembaga kemanusian/filantropi sejenis siap-siap kena goncangannya.

6. Sejarah menunjukkan Crisis PR yang tersangkut dengan permasalahan agama tidak pernah selesai dalam waktu cepat. Tengok kasus investasi ust. Yusuf Mansur dan first travel.

7. Dari isu yayasan ke industri, crisis ACT akan dibawa menjadi komoditas politik yang berlarut-larut.

Dan lagi-lagi, public relations harus jadi aksi “cuci piring” dari banyak hal salah yang terjadi pada sebuah perusahaan/organisasi.

Penulis : Bima Marzuki > https://www.linkedin.com/in/bima-marzuki/


By the way, kalau perlu kursus untuk upgrade skill, bisa ke Coursera atau eTraining Indonesia. Keduanya memberi sertifikat yang recognized di dunia industri.


DAPATKAN SERTIFIKAT KOMPETENSI

Perbesar Peluang Karir dan Kerja

“Seseorang itu diterima kerja / dipromosikan karena skills, dan disukai atau tidak disukai lingkungan kerja karena attitude.”