Duit, Ujian Pertama

Lama tak kontak, dia nongol mendadak sontak. Ngajak ngopi, mau testimoni. Ini dia narasinya:

“Zaman team leader berijasah SMA, bapak dorong saya kuliah sembari kerja. Agar karir ke depan lega. Jungkir balik ngatur waktu dan biaya. Lulus sarjana. Didorong apply internal vacancy jadi supervisor. Saya lulus, lalu dipromosi dan kecewa. Merasa dibohongi. Pangkat naik, kok penghasilan tercekik. Tanggung jawab hebat, duitnya ngadat. Mending jadi team leader, full lembur duitnya dobel. Gaji supervisor tanpa mumet. Percuma sekolah!” kami tertawa.

“Nolak dipromosi! Sepekan lewat, bapak kasih tahu saya: Kamu keren setelah mengembangkan diri. Punya opsi nolak-nerima promosi. Berpeluang alami transisi. Dari fase pekerja yang dihargai berbasis waktu, ke fase dihargai berbasis kontribusi. Fokus selisih duit? Tetaplah pada skema lembur sepanjang karirmu. Pilihan baik. Jika nilai kontribusi yang jadi fokus, duit itu bisa berkali lipat dalam waktu cepat. Pilihan baik,” lanjutnya sembari nyruput kopi.

Ia sodorkan kartu nama. Posisi GM di perusahaan ternama. “Momen itu saya selalu ingat. Fokus pada duit semata bisa membutakan” simpulnya. Career Development bisa berbentuk pekerjaan ekstra yang tak ada duitnya.

Hati2 ngurus duit disana. Rawan jebakan.

by Wisudho Harsanto – https://www.linkedin.com/in/growinstitute/