Mean Time Between Failure – MTBF

Dalam dunia maintenance makzum dikenal istilah MTBF atau Mean Time Between Failure. Istilah ini digunakan praktisi sebagai tolak ukur kualitas maintenance. Namun apa sebenarnya MTBF dan kaitannya terhadap maintenance itu sendiri?

MTBF diartikan sebagai rata-rata waktu antar kegagalan terhadap suatu equipment. Pada pemahamannya MTBF merupakan parameter utama atas reliability equipment tersebut atau patokan awal terhadap lifecycle suatu equipment.

Penggunaan MTBF tidak bisa digunakan secara jama’ melainkan hanya pada equipment atau komponen yang sifatnya repairable, sedangkan nonrepairable akan menggunakan istilah MTTF (Mean Time To Failure). Hal ini menjadi tolak ukur equipment tersebut.

Misal terjadi beberapa jenis kegagalan pada genset. Kegagalan tersebut dapat diperbaiki dan kemudian terulang dalam suatu siklus, maka kita gunakan MTBF. Lalu pada case lain kita memiliki komponen tooth bucket yang aus dan tidak dapat diperbaiki, maka kita akan menggunakan MTTF.

Hal ini bertujuan untuk memisahkan sifat lifetime equipment, sehingga penggantian tooth bucket yang sering diganti tidak akan mempengaruhi pembacaan lifetime equipment secara keseluruhan.

Lalu bagaimana jika mesin genset tadi gagal dan tidak dapat diperbaiki? Maka dia akan menjadi TTF atau Time To Failure. Bagaimana jika Genset tadi ada lebih dari 3 case di data kita, maka dia akan menjadi Mean Time To Failure juga. Goal penggunaan akan berbeda namun kita tidak akan dalam membahasnya.

MTBF sendiri bagaimana menjadi sebuah parameter reliability? MTBF yang dikeluarkan setiap bulan pada dasarnya merupakan angka atas hazard rate/failure rate atau jumlah gagal persatuan waktu (F/T) atau 1/MTBF dan dilambangkan Lambda.

Proses hazard rate ini akan menjadi parameter atas kondisi unit tadi per satuan hour lifetime yang jika kita diagramkan akan menjadi bathub curve (pola lifetime) yang kita pahami hari ini. Kenapa bathub curve yang hanya ~5% jumlah komponen dari seluruh equipment? Karena critical component jama’ menggunakan bathub. Misal engine dan transmisi. Dengan menggunakan parameter ini, maka kita akan dapat menggambarkan letak lifetime komponen kita per actual waktu.

Hazard rate juga dikenal sebagai bagian dari reliability equipment atau R=e^-(Lambda)*T dan menjadi dasar system reliability plant, sehingga penggunaan MTBF adalah bagian daripada reliability.

Tentu perlu kita pisahkan antara statistika probabilistik dengan reliability pada perhitungan ini, karena nilai reliabity ini akan mengasumsikan hazard rate yang konstan. Perhitungan statistik probalistik haruslah menggunakan survival analysis dengan uji goodness of fit sesuai dengan pola lifetime perhitungan dan didiagramkan dengan menggunakan weilbull, lognormal, loglogistik atau eksponensial, dan kemudian dinilai survival fucntion ataupun probability diagramnya. Hal ini pun tidak akan dibahas lebih lanjut, karena goalnya berbeda.

Kembali ke pokok masalah MTBF merupakan basis dasar KPI, namun penggunaannya masih sangat luas.

Penulis : Muhammad Zaini, S.T. > https://www.linkedin.com/in/muhammad-zaini-st-mech-eng/


Supaya karir meningkat,

TERUS KEMBANGKAN KOMPETENSIMU

Ikuti training online yang memberikan sertifikat bukti kompetensi.
Sertifikat diakui oleh industri manufaktur, mining, hingga perkebunan.
Diterima di Indonesia, Mongolia, Vietnam, Malaysia, dan Timor Leste.