Biasakanlah Terukur

Beberapa hari yang lalu ada diskusi di threadnya teman soal kata pengantar skripsi/thesis/disertasi. Ada yang bercerita kata pengantarnya thesis teman, ada ucapan terima kasih kepada Tuhan, lalu ke nabi, lalu pembimbing dst. Teman itu atau pembimbing menyarankan untuk dihilangkan ucapan terima kasih yang kurang relevan. Tapi si penulis karya ilmiah itu tidak mau.

Ternyata saya juga mengalami. Berbeda sedikit, bukan ucapan terima kasih tetapi di awal kata pengantar, setelah mengucapkan puji syukur pada Tuhan (yang ini ok), lalu diikuti dengan “Tidak lupa salawat dan salam Penulis curah limpahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah menuntun umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiah.”

Sebagai pembimbing saya sarankan kalimat itu dihapus. Bukan saya tidak suka dengan kalimat itu, tetapi kalimat itu tidak relevan dimasukkan dalam pengantar karya ilmiah. Apa bedanya dengan kata2 pengantar dalam pengajian?

Nanti kayak Cipta Karya bikin spanduk “Utamakan sholat baru keselamatan”. Padahal itu soal safety di tempat kerja, kok ya bawa-bawa sholat. Lagi pula apa bisa kita sholat kalau nggak selamat?

Tidak terbatas ini. Banyak kita jumpai visi misi sebuah kota atau kabupaten sering kali berisi kata-kata indah penuh dengan nafas keimanan. Bagus sekilas. Tapi jika dipikir, sulit dicapai. Sejauh ini saya tahu bu Risma yang visi misi kotanya operasional, tidak muluk-muluk. Ini tentu tidak lepas dari siapa para penasehat dan staf ahlinya.

Mengelola kota saya kira harus dibiasakan membumi, saintifik. Jadi semua bisa diukur, dilihat ketercapaiannya, hasilnya dirasakan masyarakat langsung. Jangan mengelola kota dengan bahasa langit.

Misal di Beijing, dilakukan simulasi curah hujan , daya tampung sungai, kecepatan resapan tanah, lalu dicari cara agar tidak terjadi banjir dengan hitung-hitungan ilmiah dan masuk akal. Atau di Australia dihitung persediaan air bersih, jumlah penduduk dan pemakaian air bersih, sampai kapan air itu bisa mencukupi kebutuhan penduduk secara dinamis sesuai perkembangan jumlah penduduk.

Saya kira kita harus membiasakan bicara yang jelas-jelas, dan masuk akal saja sesuai konteks. Bahkan di beberapa visi misi Perguruan Tinggi atau di UUD pasal 31 tentang pendidikan, tujuan pendidikan kita terlalu sulit dicapai.

‘Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.’ Nampaknya bagus. Tapi kita kesulitan menjelaskan gimana ciri-ciri manusia bertakwa dan beriman. Jika kita sulit menjelaskan maksudnya maka akan lebih sulit lagi mewujudkannya.

Peter Drucker ahli manajemen sering mengatakan “you can’t manage what you can’t measure”( kamu tidak bisa mengelola sesuatu yang kamu tidak bisa mengukurnya). Maka penting membuat suatu statement baik itu visi misi atau tujuan yang terukur dan bisa dicapai dengan rentang waktu tertentu.

Jangan nggladrah kemana-mana hanya untuk indah dibaca, tapi sulit dimengerti apalagi dicapai.

Salam rahayu….

Penulis : Budi Santosa Purwokartiko > https://web.facebook.com/Budi.Santosa.Klaten/


By the way, kalau perlu kursus untuk upgrade skill, bisa ke Coursera atau eTraining Indonesia. Keduanya memberi sertifikat yang recognized di dunia industri.


JADILAH LEBIH KOMPETEN

Dapatkan Sertifikat Kompetensi