Prestasi Kerja

Dalam konteks pekerjaan, menurut saya begini:
Pada prinsipnya pekerja dibayar setiap bulan (jika dibayarkan bulanan) adalah kompensasi atas pekerjaan yang sudah diperjanjikan menurut kesepakatan.
Artinya pekerja memang harus menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik tanpa cela. Saya ulang, tanpa cela.

Atas itulah pekerja tersebut dibayar.

Ketika misalnya dalam kesepakatan target pekerjaannya adalah menghasilkan 10, namun pekerja tersebut kemudian mampu menghasilkan 15, ini prestasi.
Ketika diberikan anggaran operasional 10, namun mampu mengelolanya sehingga hanya menggunakan 8, ini prestasi.
Ketika keluhan pelanggan ada 10 kemudian mampu ditekan menjadi 0, ini prestasi.

Terkait dengan hal ini, sependek pengamatan saya, banyak perusahaan suka salah kaprah dalam membuat kebijakan.

Contohnya, pekerja datang tepat waktu dapat insentif ‘kerajinan’, dan di akhir tahun mendapatkan penghargaan “Karyawan Rajin”, dianggap sebagai prestasi. Padahal itu sudah kewajiban pekerja untuk menjalankan kesepakatan jam kerja.

Pekerja hadir di kantor, dapat tunjangan kehadiran. Lha? Bukannya memang harus hadir ya?

Pekerja datang terlambat, dipotong (tidak seberapa) gajinya, dengan harapan agar disiplin. Padahal tetap saja ada yang terlambat dengan beragam alasan (sampai sekarang).

Contoh kebijakan di atas justru akan menambah pekerjaan administrasi yang berpotensi error dan tidak jarang berujung konflik tidak penting.

Ada juga pekerja yang mampu mengefisiensikan penggunaan anggaran operasional, jangankan mendapatkan ucapan terima kasih, yang ada malah dianggap tidak mampu menghitung budgeting dengan cermat (doh!).

Masih banyak contoh kebijakan absurd lainnya yang saya perhatikan.

Semoga menjawab ya.
Sehat selalu.

Penulis : Sylvanus Hardiyanto > https://www.linkedin.com/in/sylvanus-hardiyanto/


JADILAH LEBIH KOMPETEN

Dapatkan Sertifikat Kompetensi