“Sandwich” Employee

Saya ingin berbagi pengalaman sebagai “Sandwich Employee.” Tentu Anda sudah pernah mendengar tentang “Generasi Sandwich.” Nah saya ingin berbagi terkait peran saya sebagai “Sandwich Employee” atau “Karyawan Sandwich.”

Saya mulai merantau dengan pekerjaan yang mapan pertama ketika pertama kali bergabung dengan sebuah perusahaan semiconductor di Batam di tahun 1994-an. Waktu itu saya diberi kepercayaan sebagai Customer Service Engineer meskipun tidak ada background teknik.

Ceritanya tugas & tanggung jawab utama saya adalah menjadi wakil dari customer saya dalam memantau proses produksi barang mereka yang dipercayakan kepada perusahaan tempat saya bekerja itu. Waktu itu kalau tidak salah saya punya customer base is US East Coast & beberapa di Asia.

Setiap hari saya harus memastikan proses produksi chipset mereka sesuai jadwal produksi yang dikeluarkan oleh departemen produksi. Kalau ada kendala yang menyebabkan keterlambatan saya harus menjelaskan why. Untuk mengerti why itu saya harus berjibaku dengan para Expat di production line. Sering juga masalah tidak di produksi tetapi di department QA yang juga dikepalai oleh Expat waktu itu.

Di satu sisi saya tidak bisa bilang ke customer bahwa kita ada quality issue sehingga barang ditahan oleh Dept. Quality jadi ada keterlambatan. Bisa runyam kalau customer tahu. Di sisi lain terjadi konflik kepentingan antara departemen produksi & departemen QA.

Sementara saya harus membuat laporan ke customer saya apa yang terjadi. Maka mengarang indahlah yang kulakukan – istilahnya berbohong untuk kebaikan bersama namun at the end customer tetap akan mendapatkan produk akhirnya dengan standar mutu terbaik. Tentu saya tidak bisa begitu saja mengarang indah, harus ada data. Nah data inilah yang kadang sulit didapatkan – harus melewati para macan penguasa :).

Bayangkan betapa stresnya posisi saya seperti itu hampir setiap hari harus mengemis minta data produksi & merayu orang QA agar produk customer saya di release segera. Sementara para Expat itu menganggap mereka lebih superior jadi saya nggak dianggap.

Pernah terlintas untuk mengempeskan ban mobil mereka – saking jengkelnya 🙂 untung tidak kulakukan waktu itu.

Namun saya belajar banyak hal dari pengalaman tersebut. Moral of the story is: Jangan memendam dendam kepada siapa-pun seberapapun jengkelnya kita, terlebih dalam konteks professional karena masing-masing punya tugas & tanggung jawab. Serta tentunya punya style tersendiri dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

Itulah bagian dari company culture, you fight or flight.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Ramli Halim > https://www.linkedin.com/in/ramlihalim/


Supaya karir meningkat,

TERUS KEMBANGKAN KOMPETENSIMU

Ikuti training online yang memberikan sertifikat bukti kompetensi.
Sertifikat diakui oleh industri manufaktur, mining, hingga perkebunan.
Diterima di Indonesia, Mongolia, Vietnam, Malaysia, dan Timor Leste.