Siklus Emosional (umumnya) Pegawai

Sebelum keterima: ‘Saya ingin bekerja di Perusahaan itu’

Saat interview: ‘Saya akan memberikan daya dan waktu saya sepenuhnya untuk Perusahaan ini’

Awal bekerja: ‘Terimakasih sudah menerima saya, saya akan memberikan kinerja terbaik untuk pimpinan dan Departemen tempat saya ditempatkan’

Lama bekerja: ‘Kurang, semua kurang. Saya bekerja lebih dari 7 jam sehari sehingga keseimbangan hidup saya terganggu, gaji saya kurang, karir saya kurang lancar, asuransi kesehatan dari kantor kurang, training saya kurang, bonus kurang, dll’

Siklus diatas adalah tipikal yang dilalui oleh kita, bukan sesuatu yg harus malu untuk diakui. Sangat manusiawi. Kenapa bisa? Secara umum ada 3 jenis kebutuhan manusia, kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.

Kebutuhan primer sendiri adalah kebutuhan pertama yang harus dipenuhi agar manusia dapat hidup layak seperti makan minum, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dan lainnya untuk melangsungkan kehidupannya yang kalau tidak terpenuhi maka sulit untuk melangsungkan kehidupan dan mewujudkan jati dirinya

Kebutuhan sekunder sendiri muncul setelah kebutuhan primernya aman. Misal orang yang telah dapat memiliki tempat tinggal secara otomatis akan membutuhkan perabotan untuk melengkapi rumahnya, sehingga perabotan rumah tangga bisa dikatakan sebagai kebutuhan sekunder

Kebutuhan tersier terakhir muncul setelah terpenuhinya kebutuhan primer dan sekunder. Bisa berupa hal-hal yg agak mewah seperti Iphone/Macbook, liburan/healing. Semua hanya dapat dipenuhi oleh sebagian kecil masyarakat yg memiliki kondisi ekonomi tertentu

Saat kamu awal mencari kerja, fokus kamu adalah kebutuhan primer kamu, maka dari itu kamu akan sangat merasa bersyukur saat diterima. Seiring waktu bekerja bertambah, kebutuhan primer terpenuhi, sekunder juga mulai terpenuhi pelan-pelan, maka muncul juga kebutuhan tersier yang kemudian kita gunakan untuk menilai kelayakan pekerjaan kita sekarang. Buat saya, dari situlah muncul cikal bakal perasaan tidak puas pada Perusahaan kita sekarang

Kadang, bukan Perusahaan kita yang sepenuhnya salah, tapi kemauan kita yang berubah, kemauan kita yg berkembang, kita yang jadi ‘banyak mau’.

Jika itu sudah terjadi, tolong, janganlah menjelek-jelekkan Perusahaan tempat kita bekerja, seberapa tidak bagus nya dia. Bagaimanapun, dia adalah ekosistem kita berkarya dan kita mendapatkan gaji dari perusahaan tersebut. Jika memang kita sudah tidak cocok, alih-alih menjelek-jelekkan tapi masih bekerja disana, lebih elok kita segera resign saja dan pindah ke tempat kerja yang lebih ‘layak’ buat kita. Yang bisa memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier kita yang baru. Sudah pinter, kan?

Resign nya kita juga akan memberikan peluang baru kepada orang-orang yang masih mencari pemenuhan akan kebutuhan primernya. Perusahaan juga akan mendapatkan pegawai baru yang termotivasi 100 persen dan semangat baru. Win-Win-Win solution (kamu, perusahaan, dan penggantimu)

Stop the hate toward your employer!

Penulis : Kemas Adrian > https://www.linkedin.com/in/kemas-adrian-a12b3444/


By the way, kalau perlu kursus untuk upgrade skill, bisa ke Coursera atau eTraining Indonesia. Keduanya memberi sertifikat yang recognized di dunia industri.


DAPATKAN SERTIFIKAT KOMPETENSI

Perbesar Peluang Karir dan Kerja