Apa perbedaan Criticality, Consequence dan Risk dalam Physical Asset Management?

  • Criticality

Dalam istilah RCM, Criticality didasarkan pada Consequence of Failure, dimana semakin tinggi Consequence, maka semakin tinggi nilai criticality.

Dengan demikian, criticality suatu asset bergantung pada impact terhadap performance plant/system yang menjadi bagiannya. Untuk menentukan nilai criticality dapat digunakan Criticality Matrix dengan beberapa kriteria untuk memutuskan bagaimana suatu asset akan ditangani.

Nilai Criticality umumnya digunakan untuk mempertimbangkan apakah suatu asset memerlukan Strategic Maintenance atau tidak.

Asset dengan kriteria Low Criticality memungkinkan untuk dilakukan run-to-failure dikarenakan konsekuensi yang rendah ketika asset tersebut mengalami kegagalan.

  • Consequence

Consequence adalah dampak/efek yang terjadi ketika suatu asset mengalami kegagalan.

Dalam RCM, terdapat beberapa jenis Consequence diantaranya HSE Effect, Production/Operation Effect dan Non-Production Effect (Maintenance Cost, dsb).

Consequence digunakan untuk menentukan Criticality suatu asset.

  • Risk

Risk adalah hasil dari Consequence of Failure dan Probability of Failure (Consequence x Likelihood).

Untuk menentukan Risk, maka Consequence dan Likelihood harus dapat diukur, untuk itu diperlukan beberapa kriteria untuk menentukan nilai Consequence dan Likelihood (Failure Rate).

IMPORTANT NOTE:

  1. “High Criticallity Asset” bukan berarti “High Risk Asset”.
    Pada sistem EAM (Enterprise Asset Management) nilai Criticality umumnya digunakan untuk menentukan prioritas WO CM (Corrective Maintenance).
  2. Nilai Criticality TIDAK SEHARUSNYA digunakan untuk menentukan frekuensi maintenance suatu Asset (“Equipment ini memiliki High Criticality, sehingga harus dilakukan maintenance lebih sering”)

Contoh:

Pada Power Plant, sebuah Main Transformer adalah High Criticality Asset. Ketika fail, maka plant akan mengalami downtime, lost of production dan important consequences lainnya.

Namun High Voltage Transformer umumnya memiliki reliability yang tinggi dengan nilai recorded MTBF 179.000 – 12.000.000 hours(*) atau sekitar 20 – 1.369 Tahun.

Berdasarkan Risk Formula (Consequence x Likelihood), maka transformer berada pada Medium atau Low Risk Asset.

Transformer adalah High Criticality Asset maka harus dilakukan Strategic Maintenance (RCM Based analysis), namun dikarenakan Transformer adalah Medium/Low Risk Asset, maka Equipment dengan kriteria High Risk memiliki prioritas yang lebih tinggi dalam hal menentukan Strategic Maintenance.

Source:
(*) System Reliability Toolkit
RCM3 – Risk-Based Reliability Centered Maintenance by
Marius Basson

Penulis : Septian Sihite > https://www.linkedin.com/in/septian-sihite-12419b199/


Supaya karir meningkat,

TERUS KEMBANGKAN KOMPETENSIMU

Ikuti training online yang memberikan sertifikat bukti kompetensi.
Sertifikat diakui oleh industri manufaktur, mining, hingga perkebunan.
Diterima di Indonesia, Mongolia, Vietnam, Malaysia, dan Timor Leste.