Bahayanya Rasa Minder Yang Berlebihan

Saya pernah dengar cerita tentang freelance editor yang memarahi kliennya hanya karena si klien meminta dia mengirimkan file dengan format docx dan bukan doc. Kalimatnya sopan tapi reaksi si editor sangat berlebihan.

Editor itu membalas via WhatsApp, “Saya tahu saya ini miskin, laptop-nya laptop lama yang bisa dipakai buat nimpuk maling.”

Sebagai sesama penulis, saya tahu banget perbedaan file format itu bisa bikin isi file jadi berantakan. Wajar jika si penulis meminta hal itu dari editor-nya. Jadi kenapa tidak berusaha berpikiran positif dulu? Jika memang ada kendala teknis kenapa tidak dijelaskan baik-baik?

Akhirnya si penulis nekad mencari editor baru di tengah jalan. Berawal dari satu masalah terkait file format merembet ke isu-isu lain yang tidak kalah menyebalkannya hingga akhirnya si penulis memutuskan untuk kerja bareng editor lain saja. Uangnya jadi terbuang karena harus membayar editor baru tapi dia tetap melakukannya agar bukunya bisa lebih cepat selesai tanpa harus dihiasi drama ini-itu.

Saya pernah beberapa kali menjumpai orang dengan sifat mirip-mirip mantan editornya teman saya itu dan biasanya mereka bersikap seperti itu karena terlalu minder dengan keadaannya. Akhirnya orang lain salah ngomong sedikit saja mereka langsung panas karena merasa direndahkan.

Saya tahu merintis karier dari nol itu memang berat. Melawan rasa minder atas keadaan juga berat. Tapi mau seberat apapun tetap harus bisa mengendalikan diri sendiri. Hal itu adalah modal penting untuk memperbaiki keadaan. Jangan sampai kehilangan good opportunities hanya karena bad attitude yang terus menerus kita pertahankan.

Do better to live a better life!

Penulis : Riffa Sancati > https://www.linkedin.com/in/riffa-sancati-60527b9a/


By the way, kalau perlu kursus untuk upgrade skill, bisa ke Coursera atau eTraining Indonesia. Keduanya memberi sertifikat yang recognized di dunia industri.


DAPATKAN SERTIFIKAT KOMPETENSI

Perbesar Peluang Karir dan Kerja