HRD Ghosting, Hilang Tak Berkabar

“Bu, saya sebal dengan HRD. Setelah interview, hilang tak berkabar. Email, WA, telpon, semua tak digubris. Apa sih susahnya sekadar memberikan info kalau saya tidak diterima?”

Hmmm..

Begini ya,..

Masalah ghosting, bukan hanya terjadi di dunia kerja. Di dunia asmara pun ada cerita si cowok kabur hilang tanpa jejak, atau si cewek tak lagi menggubris setelah sekian lama menjalin kasih.

Pernah kejadian kan, ada mas yang ghosting, dan tahu-tahu sudah berpacaran dengan gadis lain, ibunda si mbak mencak-mencak karena anaknya sudah lama menjalin kasih, eh malah ditinggal tak berkabar.

Okey, kita balik lagi ke masalah ghosting dalam dunia kerja. Ghosting tak hanya didominasi pihak HRD, lho. Tak percaya?

“Ah, Ibu mah enak. Nggak mengalami ghosting. Jadi nggak tahu perihnya di-ghosting.”

Ehm, siapa bilang?

Saya pernah kok menjumpai kandidat yang hilang tanpa jejak, padahal pihak klien sudah tanda tangan offering. Saya pernah juga mendapati kandidat yang baru masuk dua minggu lantas hilang.

Itu kalau dari sisi kandidat.

Beberapa kali juga saya di-ghosting oleh klien. Serius!

Ada satu dua klien yang hilang setelah saya serahkan daftar kandidat sesuai requestnya. Tak mau membalas WA dan tak kunjung mengangkat telepon.

Dan beberapa hari kemudian saya mendapati ada postingan Headhunter lain persis dengan requirements yang diminta klien ghosting tersebut. Saya tersenyum bacanya. Daripada marah-marah membuang energy, mending saya alihkan energy untuk hal lain.

Kesimpulannya, ghosting tak hanya dilakukan oleh HRD, kok.

Jadi gini, ada orang yang tipe perilaku-nya avoidance, berusaha ‘lari’ jika menghadapi masalah. Cara menyelesaikan masalah ya dengan melarikan diri dari masalah. Daripada capek menghadapi masalah, ya kabur saja. Syukur-syukur masalahnya beres sendiri.

Lho, apa hubungannya dengan ghosting?

Begini, jika memberi info penolakan dianggap adalah sebuah masalah, maka perilaku yang bersangkutan akan avoid (menghindar). Jadi daripada mengangkat telpon / membalas chat, ya sekalian saja tak perlu digubris lagi (ghosting).

Nah, perilaku avoidance begini hanyalah masalah perilaku saja, akar masalahnya ya harus dicari tahu.

Bisa juga sih perilaku ghosting dilakukan karena yang bersangkutan merasa lebih hebat, lebih penting daripada yang di ghosting. Daripada buang waktu jawab telpon / balas chat, anggapannya mungkin begitu.

So, jangan benci HRD yang ghosting. Jangan benci siapa pun yang ghosting kamu. Maafkan mereka. Dan pintu rejeki lain akan terbuka untuk kita. Dan last but very important, semoga kita semua tidak ghosting ke orang lain ya.

Terus kalau kita di-ghosting gimana dong?

Nah, kalau seperti ini tak usah kita uber-uber, kejar-kejar bombardir chat dan telepon. Tak usah juga kita maki dan sumpah serapah. Maafkan dan legowo. Artinya bukan rejeki kita. Semangat cari rejeki yang lain.

Peace

Penulis : Yuliany Kurniawan > https://www.linkedin.com/in/yksw/


By the way, kalau perlu kursus untuk upgrade skill, bisa ke Coursera atau eTraining Indonesia. Keduanya memberi sertifikat yang recognized di dunia industri.


DAPATKAN SERTIFIKAT KOMPETENSI

Perbesar Peluang Karir dan Kerja