Cek dan Ricek Dahulu sebelum Resign

Seperti dejavu yang berulang kali terjadi. Again, seorang sahabat baik saya mau konsultasi mengenai ‘his resignation‘ dari company dia yang sekarang ke new company.

Dia nanya ke saya ” Pindah ini tepat kah? “

Saya jawab “Emangnya niatmu sudah 90% pindah atau masih ada kemauan stay?”

“Ya, 90% an pindah sih”

Di perusahaan sekarang ada masalah?

“Gak ada sama sekali”

OK, mau pindah kemana?

“Disebut nama perusahaan X”

Saya check.
Dari 13XX employees di perusahaan tersebut (yang registered di LinkedIn) ada 921 employees yang “Open to work” serta dari 921 orang, ada 726 yang actively engaged on apply new job. Sort level check dari level staff, supervisor, specialist, manager, VP, Senior VP, sampai Director level.

Saya inform facts ini ke dia.
Pikiren lagi. Ini perusahaan seperti mau collapse, masa sih all level bisa actively apply kemana-mana?

Salary yang dia offer gede”.

Saya diam dan doing some fast check.
Ternyata yes, salary awal attractive alias di atas market setelah itu tiap tahun tidak ada adjustment untuk beberapa posisi yang saya dapat info.

“OK Har, aku pikir-pikir lagi”

Seringkali saya mendapatkan hal ini. Orang nanya ke saya saat mereka seek advice untuk pindah / tidak. If a good company, tentu saya akan strongly support. Tapi kalau bukan ke better company, saya biasanya kasih advice untuk berpikir lagi. Hanya saja faktor utama memang salary.

Dan ada yang beberapa bulan kemudian atau max 2 thn, contact saya (lagi) minta bantuan cari kerja.

Satu hal yang saya petik.
Nasehat sometimes tidak ada gunanya pada orang yang tidak mau mendengar.
Hanya pengalaman pribadi yang akan memberikan pelajaran yang sangat mahal untuk seseorang bisa mengerti.
Kenapa mahal? Karena waktu dalam hidup adalah termahal. Tidak bisa diulang.
Terjadi cuman sekali.

Penulis : Ang Harry Tjahjono > https://www.linkedin.com/in/angharrytjahjono