Cita-cita memang bisa berubah-ubah

Waktu Eitel, anak Saya masih berumur 3-4 tahun, ia ingin jadi dokter, masih melekat di ingatan Saya jawaban nya ke setiap orang saat itu “Eitel nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?” “Jadi Doktel” “Dokter Apa?” “Doktel Anyak!”

Waktu berlalu….

Di usia 5-6 tahun, ia berpindah ingin jadi Pramugari.

“Mah, nanti aku kalau sudah besar jadi Pramugari ya”

Lapornya pada suatu hari. Saya mengangkat alis. Lho kok berubah?

“Aku ngobrol sama sahabatku di sekolah, dia juga mau jadi Pramugari” Ceritanya.

Saya mengangguk-angguk. Ooooh.

Mulai tahun 2016 ini, Saya melepas pekerjaan tetap Saya sebagai karyawan, dan memulai profesi baru saya, sebagai seorang HR Konsultan. Bulan puasa yang lalu, di sebuah acara buka puasa bersama. Pak Andes Wardy, salah satu Senior Saya bertanya: “Eitel kalau besar mau jadi apa?”

“Mau jadi Konsultan” Jawabnya mantap.

Saya menoleh sambil tertawa.

“Kenapa mau jadi konsultan?” Kejar Pak Andes. Eitel menjawab, dengan jawaban yang membuat Saya ingin segera menyembunyikan wajah Saya di balik tumpukan piring Takjil.

“Supaya bisa kerja di Cafe”

Saya rasa di usia semuda Eitel, adalah wajar kalau ia berganti-ganti cita-cita. Fokus kami (orangtuanya) memang bukan apa cita-citanya, tapi apa yang menjadi Passion dan Kompetensi yang Tuhan berikan secara khusus buat dia.

Ada banyak profesi yang ada sekarang, tapi tidak ada, dan tidak terbayangkan ada di 10-15 tahun yang lalu. Dan sebaliknya, ada profesi yang ada 10-15 tahun yang lalu, tapi sudah tidak ada lagi sekarang. Saya tidak mau anak Saya mengejar cita-cita yang mungkin sudah tidak eksis lagi ketika ia dewasa. Sebaliknya, Saya mau dia memiliki kemampuan yang unggul di suatu bidang tertentu yang dia sukai, dan kemudian keunggulannya itu dapat dia gunakan untuk membantu banyak orang.

Dapat banyak uang? Sudah pasti! Kalau keunggulannya dapat memenuhi kebutuhan banyak orang, ia pasti akan dicari orang, dan sesuai dengan hukum Supply and Demand, jika jumlah permintaan banyak sedangkan penawaran sedikit, maka Senin harga naik.

Oke, Kita bahas detail sedikit ya:

1. Biarlah anak-anak unggul di bidang yang ia sukai

Om Saya, Steve Jobs pernah bilang gini : “The Only Way To Do Great Work is to Love What You Do. If You haven’t find it yet. Keep Looking. Don’t Settle”

Jika kita, parents, memaksa anak kita masuk ke jurusan tertentu, sekolah tertentu, les tertentu, demi cita-cita yang menurut kita fantastis, tapi mereka gak suka…. Parents… yang kita lakukan itu, jahat!

Kita akan membuat mereka terperangkap di sebuah pekerjaan yang mereka tidak sukai, dan sebesar apapun penghasilannya, mereka tetap tidak akan mencapai potensi terbaik yang mereka miliki. Kenapa? Karena mereka tidak benar-benar menyukainya.

2. Biarlah anak-anak unggul di bidang yang sesuai dengan kompetensi mereka. Pintar itu, bukan cuma pintar matematika.

Om Saya yang lain, Albert Einstein, pernah bilang “Everyone is a Genius. But if you judge a fish from it’s ability to climb a tree, it will lives it whole life, believing it is stupid.”

Setiap orang itu jenius, termasuk kamu…. Iyaaaaa… Kamuuuu!

Termasuk juga anak-anak kita. Jadi jika Om Albert Einstein, yang dibilang orang paling jenius itu aja bilang anak kita jenius, kenapa kita bilang anak kita bodoh? Mereka semua pintar, tapi dalam bentuk yang berbeda-beda.

Tugas kita, Parents, membantu mereka menemukan potensi terbesar apa yang ada dalam kehidupan mereka. Tadi pagi hati Saya tersentuh membaca sebuah kisah tentang Nathan Ramsey, a Gifted Photografer. You wouldn’t know it but he’s colour blind yet is able to capture beauty behind that lens of his.

Tuhan itu maha besar dan maha adil, di balik keterbatasan-keterbatasan kita dan anak-anak kita, Ia menyediakan potensi-potensi yang sangat besar dan sangat berguna, baik untuk diri sendiri dan orang lain.

3. Biarlah anak-anak unggul di bidangnya masing-masing, dan keunggulan mereka dapat mereka gunakan untuk membantu banyak orang.

Dear Parents, Pastikan anak-anak kita memiliki skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk pekerjaannya nanti. Soal pekerjaan, profesi dan jabatannya apa itu belakangan. Anda bisa saja menurunkan jabatan Anda sebagai direktur perusahaan kepada anak Anda, tapi jika ia tidak memiliki skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk jabatan itu, apakah Anda tidak akan membuat karyawan-karyawan Anda sengsara?

Biarlah mereka berkembang sesuai dengan passion dan kompetensi mereka, nah sesudah mereka punya ‘sesuatu’ yang bisa ‘dijual’ barulah akan lebih jelas, profesi atau pekerjaan apa yang nanti bisa mereka kerjakan.

Tidak tertutup kemungkinan mereka akan punya lebih dari satu profesi, lebih dari satu pekerjaan. Tidak tertutup kemungkinan mereka akan menciptakan produk baru, jasa baru, pekerjaan baru, menjadi orang pertama yang mengerjakan sebuah profesi baru, membuka bidang industry yang baru, jenis lapangan pekerjaan yang baru.

Mereka… anak-anak kecil itu…. dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang BESAAAAR.

Wow… don’t you exciting with what they can do in the future? Mari kita siapkan mereka

* Tulisan ini merupakan Repost dari tulisan saya di Facebook 23 September 2016

Saya me-Repost nya dalam rangka menyambut hari pendidikan nasional, hari yang mengingatkan saya akan pentingnya peran para pendidik, bukan hanya para guru, tetapi terutama kita, para orangtua.

Have a Great Day Great Parents

Let’s Rock

Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso