Kutu Loncat

“Pengen bahas kutu loncat aja lama banget sih mbak…” Goda seseorang yang menunggu tulisan saya.

Saya tertawa. Iya, saya memang tidak mau bahas tentang hal ini secara sembarangan, tidak fair kalau saya hanya bahas dari satu sisi saja. Memang sih, paling enak bahas dari sisi kandidat, yang ngelike pasti banyak.

Tapi menurut saya, itu tidak mendidik, hanya membuat orang senang, tapi tidak membuat orang bertumbuh, tidak membantu orang untuk berubah menjadi lebih baik, tidak membantu orang mendapatkan pekerjaan yang seharusnya…

“Wait… rewind sedikit: … Tidak membantu orang mendapatkan pekerjaan yang seharusnya?

Berarti ada yang mendapatkan pekerjaan yang tidak seharusnya?”

Saya tersenyum. Ada! Banyak malah!

Kadang-kadang kita begitu cepat merombak CV kita, memodif performa kita sesuai dengan apa yang dituliskan oleh para influencer di LinkedIn, tanpa kita mengubah apa yang ada di dalam, yaitu diri kita sendiri.

Akibatnya apa? Kita cepat mendapat pekerjaan, tapi dalam hitungan bulan sudah tidak betah lagi, entah kitanya yang bosan, atau tekanannya yang terlalu tinggi, karena perusahaan overexpectation terhadap kita, sebagai akibat dari keberhasilan kita mempermak CV.

Kita lupa, bahwa tujuan akhir kita, bukanlah mendapat pekerjaan itu sendiri, tapi bagaimana kita dapat menghasilkan performa kerja yang prima, sehingga kita dapat memberi kontribusi yang tinggi.

“Ah buat apa kasih kontribusi tinggi mbak, dari perusahaan gajinya segitu-gitu aja”

Nah, inilah mindset yang harus kita ubah. Kita sering berpikir bahwa kita bekerja untuk mendapatkan gaji, sehingga jika kita merasa gaji kita cukup besar, maka kita mau berupaya cukup besar, sebaliknya jika kita merasa gaji kita kecil, kita maunya memberikan upaya yang kecil saja.

Kita lupa bahwa kerja itu adalah ibadah, suatu hal yang kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika performa kita baik, yang mendapat keuntungan paling besar bukanlah perusahaan, tapi diri kita sendiri. Jangan terkecoh dengan besarnya gaji, bonus atau hadiah jalan-jalan keluar negri.

Itu hanya Gimmick nya saja, yang utama adalah pengembangan diri sendiri, menjadi pribadi yang terbaik sebagaimana seharusnya kita menjadi.

“Bagaimana kalau di perusahaan itu, kita gak bisa berkembang? Gak bisa perform karena masalah internal perusahaan? Atasannya lah, HRDnya lah, Managementnya lah?”

Pertanyaannya: Sudah berapa lama kita berusaha berkembang di perusahaan itu? Setahun? Dua tahun? Jika baru dalam hitungan bulan kita sudah menyerah, berarti kita bukan seorang pembuat sejarah. But it’s okay, kemampuan orang kan beda-beda, saya tidak akan me-reject lamaran kandidat-kandidat yang seperti itu. Tapi saya juga tidak akan bisa merekomendasikan mereka ke perusahaan-perusahaan besar yang saya tahu, akan butuh ketekunan dan kekuatan besar untuk mendobraknya.

Ujungnya adalah kans. Apakah ada perusahaan yang mau meng-hire Kandidat yang sering pindah-pindah perusahaan? Ada! Banyak! Tapi umumnya mereka juga perusahaan yang turn over rate nya tinggi. Dan jumlah perusahaan yang seperti ini, tentu tidak sebanyak perusahaan yang enggan meng-hire kandidat yang sering pindah-pindah perusahaan.

Jika Anda ingin Kans Anda lebih tinggi, cobalah bertahan di perusahaan Anda, minimal 1-2 tahun. Push diri Anda melakukan yang lebih baik dari yang pernah Anda lakukan. Tidak mudah? Pasti!

Tapi pasti manis akhirnya. Jika Anda sudah punya perform experience yang mumpuni, sudah punya Legacy yang tercatat, jangan ragu untuk mengirimkan Update CV Anda kepada kami.

Have a Great Day Great People

Let’s Rock

By Milka Santoso – https://www.linkedin.com/in/milkasantoso