Habit Pulang Malam

Saya pernah kerja di kantor yang kalau saya mau pulang jam 7 malam, saya harus mengendap2 di antara kubikal, karena sungkan sama rekan2 lain yg masih sibuk di depan laptop.

Iya, jam 7 malam!

Karena di kantor tsb baru mulai sepi di jam 9 – 10 malam. Kadang sampai tengah malam/dini hari masih ada penghuni. Termasuk saya pernah pulang jam 4 pagi!

Makanya dulu kalau ditanya “pernah pulang paling malam jam berapa?” Saya jawab jam 12 malam, sebab kalau lewat dari itu hitungannya pulang pagi (bukan pulang malam).

Tidak sehat memang, namun sudah menjadi habit.

Lalu saya pindah kerja. Hari pertama kerja, saya pulang lewat dari jam 7 malam (kebawa habit kantor lama).

Pagi2 Satpam datang ke meja saya, minta tandatangan.

Katanya kemarin saya pulang terakhir, jadi harus tandatangan absenan.

Langsung bersyukur pindah ke perusahaan yang “tepat”.

Ada juga kantor yg habitnya pulang malam, karena staff sungkan pulang lebih awal dari boss (si boss selalu pulang malam).

Pernah terpikir ngga, kalau yg sebenarnya terjadi adalah: melihat staff-nya belum pulang, si boss sungkan untuk pulang duluan?

Hal ini terjadi pada saya awal2 jadi leader.

Saya selalu sungkan pulang duluan.

Sampai suatu hari saya tanya ke team saya: kalian kok belum pulang? Emang selalu pulangnya malam?

Ada satu yg nyeletuk begini: “Kan bapak belum pulang, jadi kami sungkan pulang duluan”

Oalah… Saya baru tersadar: ini ayam atau telor, tunggu-tungguan siapa yg duluan.

Sejak itu saya ngga pernah sungkan. Saya selalu pamit pulang duluan ke team saya, sambil bilang “kalian jangan malam2 ya”.

Dan biasanya dijawab: …bentar lagi juga pulang.

Penulis : Andijaya Chandra, SE, CPF, CPIM > https://www.linkedin.com/in/andijaya-chandra-se-cpf-cpim-0575b223/