Pesan Buat yang IPK Pas-pasan

Yang saya ingat tentang rumah masa kecil saya adalah ini: deretan pajangan piagam penghargaan dan trophy juara satu ini dan itu. Punya siapa?

Bukan saya.

Satu-satunya piagam penghargaan yang saya terima semasa sekolah adalah juara menggambar, kelas 2 SD dan tidak dipajang.

Juara kelas? Tidak pernah, paling tinggi pernah ranking 3, itupun di SMP non favorite yang sekarang sekolahnya pun sudah tutup.

Saya, kalau interview kandidat cumlaude, magna cumlaude, apalagi summa cumlaude, suka sanksi, bisa kerja nggak nih pas diterima nanti?
Bisa kerja dalam artian bisa nge-blend nggak dengan dunia kerja?

Sering denger kan ada teman selalu juara kelas, tapi pas kerja biasa-biasa saja?
Lalu ada yang semasa sekolah/kuliah biasa-biasa saja, tapi justru karier-nya moncer?

Tahu kenapa?

Dunia kerja tidak memerlukan orang terpandai dalam segala hal.
Jadi jangan berkecil hati kalau akademik kamu biasa-biasa saja. (tapi ngga boleh bangga juga kalau jelek).

Jadi, nggak perlu jadi yang terpandai, tapi berusahalah menjadi 2 hal ini:
Pengurai dan Jembatan.

Apa yang saya maksud?

Dunia kerja jauh lebih kompleks daripada textbook ujian sekolah/kuliah.
Saking besar dan kompleks, nggak akan bisa diselesaikan, kalau tidak diurai dulu.

Jadi, satu kepandaian yang sangat dibutuhkan di dunia kerja adalah pengurai kompleksitas masalah. Masalah diurai menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dicerna dan diselesaikan.

Diurai menjadi unit/level yang lebih kecil, sehingga setara dengan unit/level pengemban masalah tersebut. Sehingga 1 masalah, setelah diurai, dapat dikerjakan beberapa unit dan kemudian disinergikan kembali.

Nah, disinilah fungsi jembatan tadi.
Urai ke beberapa unit, kemudian jembatani kembali sehingga solve 1 masalah besar itu.

Kenapa tidak perlu jadi yang terpandai?

Orang terpandai (apalagi yang merasa diri terpandai) kerap mengganggu sinergi / harmonisasi ini.
Orang terpandai terbiasa dengan 1 masalah 1 jawaban, seperti ketika di akademik.

Padahal, dunia kerja tidak pernah sesimpel itu.

Maka, asahlah kepandaian sebagai pengurai (analytical thinking), yang kalau di Continuous Improvement ada istilah “cut the elephant“.
Lalu asahlah kemampuan menjadi jembatan (collaboration).

Niscsya, kamu jadi bibit Pemimpin masa depan yang berbobot.
Hanya dengan 2 hal ini. Simple kan?

Penulis : Andijaya Chandra > https://www.linkedin.com/in/andijaya-chandra-se-cpf-cpim-0575b223

Note: Kalau perlu kursus untuk upgrade skill, bisa ke Coursera atau eTraining Indonesia. Keduanya memberi sertifikat yang recognized di dunia industri.


By the way, kalau perlu kursus untuk upgrade skill, bisa ke Coursera atau eTraining Indonesia. Keduanya memberi sertifikat yang recognized di dunia industri.


DAPATKAN SERTIFIKAT KOMPETENSI

Perbesar Peluang Karir dan Kerja