Tips Melamar Kerja

Tip ini (mungkin) bermanfaat bagi Bapak, Ibu, atau rekan-rekan berstatus #jobseekers tetapi merasa agak kesulitan mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.

Berkaca ke pengalaman saya sebelum ini, ketika masih berstatus sebagai karyawan saya nyaris tidak pernah bekerja di perusahaan yang cukup terkenal (minimal di kala itu), tapi syukur alhamdulillah proses rekrutmen yang dijalani selalu relatif cepat dan lancar.

Kuncinya sebetulnya sederhana, karena saya menyadari meski lulus kuliah dari salah satu universitas top di Indonesia, tapi IPK saya yang sungguh mengenaskan akan menghambat saya untuk bersaing di perusahaan-perusahaan papan atas yang menjadi incaran semua lulusan terbaik universitas baik dalam maupun luar negeri.

Itulah sebabnya sejak sebelum lulus kuliah saya selalu rajin membaca berita di koran/majalah dan membangun network untuk mengetahui perusahaan-perusahaan lokal yang relatif masih kecil, tapi bisnisnya menarik.

Di perusahaan pertama, saya mendapat informasi kalau sebagai startup mereka belum memiliki Legal Officer, padahal bisnis mereka terkait dengan bursa saham, akhirnya saya melamar kesana dan diterima, meski dengan gaji ala kadarnya — tapi saya berpikir toh ini kesempatan saya untuk bekerja, belajar, dan dibayar.

Setelah beberapa waktu, saya ingin menjajaki apa rasanya bekerja di sebuah law firm.

Saya tidak melamar ke law firm yang sudah mapan, tapi saya mencari law firm yang baru berdiri kurang dari dua tahun dan mengirimkan lamaran langsung ke Managing Partner (yang kebetulan alamat emailnya tercantum di website).

Sebuah kebetulan ketika law firm tersebut memang sedang mencari tambahan tenaga karena sedang menangani proyek legal due diligence yang cukup besar, maka saya pun direkrut meski dengan IPK yang mengenaskan — dan mendapat take home pay nyaris empat kali lipat dari gaji saya sebelumnya.


Perusahaan mapan dengan nama besar yang sudah dikenal publik akan selalu diminati ribuan pelamar dengan tingkat persaingan yang sangat tinggi.

Sebaliknya perusahaan yang mungkin belum terkenal dan skalanya lebih kecil cenderung lebih terbuka dan seringkali memiliki peluang yang lebih baik karena jumlah pelamar yang relatif jauh lebih sedikit.

Kalau ada yang protes, “Tapi perusahaan kecil gajinya juga kecil.”

Ya kembali ke pilihan masing-masing, saya selalu berprinsip 50% dari ekspektasi gaji yang DIBAYARKAN itu jauh lebih baik daripada 100% dari ekspektasi gaji yang cuma dibayangkan.

Kadang kita harus berkompromi, tergantung dari skala prioritas yang dihadapi saat ini.

Pahami “4-Selves” (Core, Skilled, Extended, dan Communicated) seperti yang dibahas di Seri 3 dari trilogi saya, identifikasi perusahaan-perusahaan yang memenuhi kriteria di atas, lalu jalin koneksi dan relasi di Linkedin dengan para karyawan kunci disana

Selama kita bisa dengan jelas memberikan gambaran ‘value’ apa yang bisa diberikan ke perusahaan, saya yakin tip ini juga ampuh untuk Bapak, Ibu, dan rekan-rekan dalam mendapatkan pekerjaan baru.

Penulis : Haryo Suryosumarto > https://www.linkedin.com/in/haryo/


By the way, kalau perlu kursus untuk upgrade skill, bisa ke Coursera atau eTraining Indonesia. Keduanya memberi sertifikat yang recognized di dunia industri.


JADILAH LEBIH KOMPETEN

Dapatkan Sertifikat Kompetensi