Pilih Bekerja sesuai Passion, atau Bekerja dengan Passion?

Passion, atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai “renjana”, merupakan satu kata yang paling sering dibahas oleh para peniti karier.

Kepedulian sekaligus kegalauan mereka biasanya seputar apakah lebih baik mereka mati-matian mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion, atau mengerjakan apa saja yang penting bisa mencari nafkah.

Marilah kita lihat sejenak realitas di dunia ini…

Yuk kita cek angka rekening kita, dan cek seberapa banyak atau seberapa besar tanggungan hidup kita.

Jika kita terlahir dari keluarga kaya yang makan pun menggunakan piring dan sendok-garpu perak, maka sah-sah saja jika sejak kecil kita sudah berusaha mengejar passionatau mengerjakan hanya pekerjaan yang kita sukai saja.

Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak seberuntung itu…

Isi rekening pas-pasan, jika tidak mengerjakan sesuatu yang produktif maka isi rekening tersebut bisa tersulap, dari yang tadinya angka lalu berubah menjadi kata “maaf, saldo Anda tidak mencukupi”; atau kita harus menanggung seorang atau beberapa orang untuk bertahan hidup dari penghasilan yang kita hasilkan.

Jika kondisinya demikian, maka kita harus mengerjakan apa pun yang dapat kita kerjakan, tanpa peduli apakah itu merupakan passion kita atau bukan; tentunya selama halal.

Di saat itulah, kita harus bekerja dengan passion. Bukan bekerja sesuai passion, pada awalnya.

Lalu, apakah kita bisa melakukannya? Ada orang yang bisa, ada yang tidak bisa. Kembali lagi, ini masalah pilihan hidup.

Nah, yang seringkali luput dari perhatian kita semua adalah bahwa yang sebenarnya membuat kita sukses mencapai puncak kehidupan, sebenarnya adalah kompetensi. Bukan passion.

Karena Passion Tanpa Kompetensi adalah Omong Kosong Belaka

Jika kita bekerja sesuai passion namun lupa membangun kompetensi utama maupun kompetensi pendukung yang terkait dengan passion tersebut, maka apa yang kita lakukan tersebut tidak akan optimal dan tidak akan membuat hidup kita menjadi sesukses cita-cita awal kita.

Dengan kata lain, jauh lebih penting dan bernilai jika kita terlebih dahulu membangun kompetensi dari apa pun yang kita lakukan, baik kompetensi utamanya maupun kompetensi pendukungnya.

Kompetensi utama dan kompetensi pendukung itulah yang akan membuat kita bisa naik ke tangga kehidupan hingga ke atas. Jika kelak kita telah sukses dan memiliki keleluasaan uang dan waktu, barulah kita bisa melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, dan isi rekening tetap enak dilihat.

Sekali lagi, ini adalah pilihan hidup kita masing-masing. Tidak semua orang terlahir dengan keberuntungan lebih, dan tidak semua orang langsung mengenali passion dirinya sejak awal.

Saya sudah melihat cukup banyak orang yang sukses baik sebagai karyawan maupun sebagai pengusaha, yang sebenarnya melakukan hal yang bukan passion dirinya.

Namun, mereka terlihat sangat berkompeten dan mereka bisa sukses karena mengerjakan apa pun dengan passion, bukan melulu harus sesuai passion. Inilah makna paling hakiki dari ketekunan dan konsistensi.

Sebagai gambaran, dulu jaman saya kelas 3 SMP pada tahun 1993, saya sudah hobi berat elektro. Namun, saya tidak kunjung bisa menaklukkan pelajaran matematika dan fisika.

Hasilnya, saya hanya hobi elektro dan hanya bisa membuat rangkaian elektro. Saya tidak bisa merancang sirkuit elektro karena tidak menguasai kompetensi utamanya, yaitu matematika dan fisika.

Sudah jelas sejak awal, saya tidak mungkin masuk kuliahan jurusan elektro dan tidak mungkin membangun karier yang stabil di bidang elektro.

Lalu saya pun membangun kompetensi di bidang lain, yaitu menulis (jurnalistik) dan presentasi (Pelatihan & Public Speaking). Saya pun semakin mahir di bidang itu.

Kompetensi utama dan kompetensi pendukungnya utuh terbangun, dan kini saya bisa menikmati karier maupun interaksi sosial yang membahagiakan, berkat dua kompetensi tersebut, yang kemudian berubah menjadi passion saya dan sekaligus juga tiang utama kehidupan saya.

Apakah awalnya saya passion di bidang elektro? Ya, passion banget. Tapi, apakah saya berkompeten di bidang elektro? Jelas tidak.

Apakah awalnya saya passion menulis dan berbicara di depan publik? Nggak banget, apalagi saya termasuk introvert. Tapi, apakah saya berkompeten di kedua hal itu? Jelas iya, berkompeten.

Pada akhirnya, kompetensi berubah jadi passion, dan itu sama sekali tidaklah masalah.

Itulah sebabnya, mengapa proses mengenali passion maupun kompetensi kita sejak awal, amatlah sangat penting. Passion dan kompetensi adalah komponen penting dari struktur jati diri kita (Personal Brand). Pemahaman dan pengenalan jati diri inilah yang masih saya jumpai nol atau bahkan minus di kalangan Fresh Graduate, pencari kerja, dan peniti karier.

Untuk mengenali passion dan kompetensi kita, kita harus banyak melakukan eksplorasi diri, perenungan, dan banyak mencoba hal-hal baru. Butuh keberanian, konsistensi, dan ketekunan untuk melakukan hal itu.

Sayangnya, mayoritas orang malas dan enggan melakukannya. Akhirnya mereka pasrah saja menjalani hidup secara gamang dan galau, dan menyerahkan nasib maupun perjalanan hidup mereka pada komando dan jalan hidup orang lain.

Gamang apakah harus bekerja sesuai passion atau bekerja dengan passion. Galau apa sajakah kompetensi utamanya dan kompetensi pendukungnya.

Akhirnya menjalani karier secara serabutan, namun gagal merengkuh kompetensi yang penting dan dapat dijual bagi pasar tenaga kerja. Mencari kerja dan menjalani karier pun menjadi proses yang melelahkan dan menyakitkan.

Marilah kita terus mengenal diri sendiri, menantang diri sendiri, dan mendorong diri kita sendiri untuk berani melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah kita lakukan. Begitu kita benar-benar memahami apa kelebihan dan keterbatasan kita, only sky is the limit.

Itu adalah tugas kita sendiri. Bukan tugas pemerintah, bukan tugas bos, bukan tugas perusahaan, dan bukan tugas HR atau rekruter.

by Peter Febian > https://www.linkedin.com/in/peter-febian-183a6b52